Memaknai Kemajemukan di Masyarakat

2
106

Nilai dalam kemajemukan merupakan suatu pilar berarti dalam kehidupan bermasyarakat. Banyaknya pertanyaan mengenai arti majemuk dalam hidup bersosial menjadikannya sebuah persoalan yang diminati oleh para kritikus dan petinggi kelompok. Bila kita klasifikasikan yang dimaksud kelompok sangatlah luas dan  di sana terdapat teori dominasi dari identitasnya sendiri.

Belum lagi untuk kita memasuki suatu kelompok, kita harus paham akan sejarah  dan dinamika kelompok tersebut, baik kultural dan strukturalnya. Jika kita berbicara tentang “kemajemukan”, hal tersebut seringkali di identifikasi dengan istilah plural. Kemajemukan bisa diartikan dengan beragam atau beraneka ragam.

Banyaknya kelompok dalam suatu wilayah membuat masyarakat akan terbagi berdasarkan golongan atau klasifikasinya. Sedangkan, sebagai individu sudah selayaknya bersifat dinamis, yang artinya banyak memiliki perubahan (perkembangan) dan tercipta perbedaan. Perbedaan dalam keragaman merupakan suatu hal yang wajar.

Sebab dalam Islam sendiri juga menghendaki adanya hal tersebut. Untuk masuk ke dalam keragaman kita harus pahami bersama bahwa setiap individu ataupun kelompok memiliki ciri khas dan identitas masing-masing yang tentunya berbeda. Juga memiliki sesuatu yang dibawa sejak lahir seperti identitas atau sifat bawaan yang biasa disebut primordialisme.

Manusia harus sadar bahwa ia tidak hidup sendiri. ia hidup berdampingan dengan manusia lainnya

Satu sikap pertama yang harus ditunjukkan dalam hidup bermasyarakat yang notabene nya majemuk ialah dengan siap menerima perbedaan tersebut. Memaknai plural dapat dilakukan dengan cara menunjukan sikap toleransi terhadap sesama manusia. Dari hal tersebut bisa menjelaskan bahwa setiap keragaman dapat diindahkan dengan pola pikir dan tindakan yang santun serta bijak.

Manusia harus sadar bahwa ia tidak hidup sendiri, ia hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Sudah pasti terdapat banyak perbedaan, baik dari pola perilaku, prinsip hidup, maupun seni berkomunikasi. Sistem sosial mengajarkan kita dengan membentuk nilai atau tatatan yang berasal dari kesepakatan bersama.

Jika salah seorang filsuf mengatakan, nilai sosial terbentuk dari  pendapat (opini) yang disepakati bersama di dalam suatu kelompok masyarakat. Fungsinya agar bisa mengatur pola interaksi sesama manusia dan menciptakan keharmonisan. Keharmonisan didalam sosiologi terbentuk karena adanya keteraturan sosial dan juga saat individu hidup sesuai peran dan fungsinya.

Ketika kita berbicara tentang keharmonisan, maka perlu adanya keserasian diantara seluruh elemen masyarakat. Dengan harmonis itu akan meminimalisir gesekan atau motif yang mengarah pada tindak kericuhan. Masyarakat sejatinya adalah sekelompok makhlus sosial yang saling membutuhkan serta terdapat ketergantungan di dalamnya.

Di dalam masyarakat terbagi menjadi beberapa bagian yang disebut kelompok sosial. Maka dari itu, masyarakat sering disebut heterogen, karena memiliki banyak perbedaan diantara kelompok sosial. Kelompok sosial hadir bukan untuk mengisolasi nilai persatuan, tetapi lebih dari itu seperti membentuk persatuan baru.

Dampaknya bisa menciptakan keragaman yang setiap individu mengharapkan pada satu titik integritas. Dimana suatu integritas dapat dicapai bilamana kita bisa menginterenalisasikan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat harus solid dalam upayanya untuk menanamkan rasa menghargai pada tataran kemajemukan.

Dengan masyarakat terbiasa melakukan hal tersebut, bukan tidak mungin keharmonisan dalam hidup bermasyarakat yang majemuk ini akan tercapai. Namun jangan sampai dari adanya “penerimaan” akan perbedaan, justru menimbulkan identitas diri aslinya ditinggalkan atau singkatnya melupakan jati diri.

Solusinya, individu harus berprinsip teguh terhadap pendirian dan identitas. Lalu, individu belajar untuk ‘membuka diri’ dalam langkah mengenal budaya atau identitas kelompok lain. Dengan demikian, individu dapat menikmati keberagaman tanpa khawatir dirinya terjebak dan ‘mengganti’ identitas atau hal yang dimilikinya.

Harapan penulis, kita  menyadari di dalam masyarakat banyak sekali perbedaan. Keberagaman menjadi hal yang lumrah, dan tidak perlu ditentang keberadaannya. Oleh sebab itu, kita dapat menerima perbedaan sembari kita mempertahankan identitas asli kita, agar tidak terjadi ‘meninggalkan budaya, identitas, kepribadian, nilai dan norma diri atau lingkungan sendiri.

Namun paling penting kita dapat hidup rukun, tentram, dan harmonis untuk memaknai kemajemukan. Kita dapat menambah wawasan serta membuka cakrawala, supaya tidak mudah membenci yang berlainan dengan kita. Paling utama, dapat membawa diri dengan fleksibel dan tak mudah terpengaruh isu yang belum jelas kabarnya.

Abi Priambudi, mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri Walisongo

2 COMMENTS