HMI Mewarnai Pandemi dengan Beragam Kegiatan Virtual

0
292

Sejak kehadiran virus korona di Indonesia, masyarakat dipaksa melakukan segala macam bentuk aktivitas yang tidak mendesak untuk dilakukan di rumah saja. Mulai dari bekerja, sekolah, dan rapat sejumlah organisasi harus dilaksanakan secara virtual. Virus korona yang dapat dikategorikan sebagai pandemi membawa perubahan sosial yang begitu cepat dan tak terkendali.

Pengalihan kegiatan menjadi serba daring (dalam jaringan) menyebabkan masyarakat belajar beradaptasi mengenal teknologi. Kemajuan zaman modern ini tidak membatasi pengetahuan manusia, justru manusia dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif. Hal tersebut tidak terlepas dari penyelenggaraan kegiatan virtual.

Setiap kelompok berlomba untuk menciptakan kegiatan baru yang efisien, untuk menghilangkan suntuk selama dirumah saja. Dalam konteks organisasi, mereka terus berkreasi mengkonsep acara yang “ramah kuota” dan efektif agar tetap mampu berkegiatan. Tak terkecuali kegiatan virtual yang sedang “gencar” dilakukan oleh para kader dan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Dakwah Walisongo (HMI KomDa) Cabang kota Semarang di tengah pandemi.

Mereka terus membuat konsep beragam kegiatan, supaya masyarakat khususnya mahasiswa dapat selalu belajar dan menambah wawasan selama pandemi berlangsung.  Fitria Soefiyani, Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Pembinaan Anggota (Kabid PPPA) HMI KomDa Walisongo Cabang kota Semarang, yang diwawancarai pada Jumat (14/8/2020) mengatakan, secara umum, memang seharusnya HMI KomDa Walisongo dapat mengikuti segala perubahan, berani mengawali kegiatan daripada komisariat dan organisasi lainnya. Oleh sebab itu, setiap organisasi harus siap akan perubahan. Perubahan yang harus siap dirasakan oleh seluruh lini organisasi.

HMI KomDa Walisongo mengalami dampak positif dari adanya pandemi yakni mampu menarik minat banyak peserta untuk bergabung. Fitria  juga membeberkan keadaan yang berbeda pada saat pandemi dibandingkan pada kondisi normal. “Biasanya jika komisariat mengadakan kegiatan normal (tidak ada pandemi) hanya beberapa orang saja yang ikut. Sedangkan melalui virtual kami bisa menarik massa lebih banyak, meskipun ada berbagai macam lebih dan kurangnya (kendala),” kata Fitria.

Seminar Kewirausahaan

Terbukti sudah beberapa kali HMI komda mengadakan kegiatan virtual seperti diskusi, “Follow Up” (Peningkatan Pengetahuan ke-HMI-an Kader), seminar, pelatihan, dan kajian lainnya melalui daring (dalam jaringan). Segala kegiatan online tersebut sasarannya masyarakat umum, realitanya dibeberapa kegiatan virtualnya sebagian peserta ada yang tidak menyandang status mahasiswa.

HMI KomDa Walisongo Cabang kota Semarang sejak pandemi telah menyelenggarakan kegiatan diskusi sebanyak delapan kali kegiatan, sedangkan untuk “Follow Up” (peningkatan pengetahuan ke-HMI-an kader) sudah dua kali. Di luar dua jenis kegiatan itu masih ada beberapa kegiatan lain yang konsisten diagendakan. Pengurus mengharapkan banyak manfaat yang bisa diambil oleh seluruh bagian acara. Sebab target penyelenggara, bukan hanya sebatas eksis “yang penting mengadakan kegiatan”, tapi mereka berharap ada kontribusi lebih yang didapat dengan peserta mendapat ilmu baru.

Tema pada kegiatan virtual tidak hanya seputar akademis, akan tetapi juga membahas isu kekinian dengan pemantik atau narasumber yang berkompeten dibidangnya. Beberapa diantaranya pernah mendatangkan Prof Dr  Abu Rokhmad, M. Ag, guru besar bidang sosiologi hukum FISIP Universitas Islam Negeri Walisongo pada diskusi virtual perdana.

Selain itu, Raditya Egi Pratama, pebisnis sukses dan CEO PT Roema Arsi Developindo juga pernah mengisi seminar perdana HMI komda. Terlepas dari itu semua, terbukti HMI KomDa Walisongo telah memberikan edukasi terbaik kepada masyarakat umum melalui kegiatan virtual. Juga menjadi bukti bahwa pandemi tidak menyurutkan semangat berorganisasi kader dan pengurus HMI KomDa Walisongo cabang Kota Semarang.

Kata peserta

Ilustrasi : Abi Priambudi

 

Beragam tanggapan, penilaian, dan harapan bermunculan mulai dari masyarakat umum termasuk mahasiswa dan kader HMI KomDa. ”Kegiatan virtual diskonda (diskusi online komda) sangat bermanfaat, apalagi sedang pandemi. Setidaknya ada kegiatan dengan kita tidak bisa keluar rumah seperti keadaan sekarang ini,” ujar  Pingky Sepriana, mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Budi Luhur (STIKES Budi Luhur) Bandung, pada Sabtu (15/8/2020).

Ia menambahkan, dirinya mengharapkan, mungkin dapat diadakan kembali kegiatan seperti itu. “Kalau bisa dipadukan bersama isu atau materi kesehatan, jadi alangkah lebih lengkap kegiatan diskusi Islam, kemahasiswaan, dan kesehatan,” lanjutnya.

Ada pula tanggapan dari Eva Muzdalifah, mahasiswi  IAIN Kudus, Jawa Tengah yang diwawancarai pada 14 Agustus 2020, ia berkata, “Pertama, saya senang bisa bergabung dalam diskusi komda ini. Saya mengapresiasi pihak-pihak yang terlibat dalam diskusi ini. Menurut saya topik yang diusung juga sesuai sesuai dengan situasi saat ini,” kata Eva. Masih menurut Eva, pemateri yang memaparkan juga cukup  baik. “Pokoknya saya senang jadi bagian dari diskusi KomDa Walisongo yang alhamdulillah menambah pengetahuan dan pengalaman,” tambahnya.

“Saya mengapresiasi pengembangan kegiatan virtual yang dilakukan oleh kawan-kawan, isu yang diangkat dalam diskusi juga membaur menjadi kegiatan umum, kita selalu membahas isu terkait yang sedang “naik daun”,” kata Selsa Ayu Faradina, pengurus Departemen Penelitian & Pengembangan (Litbang) HMI KomDa Walisongo Cabang kota Semarang, pada 15 Agustus 2020.

Selsa lebih lanjut mengatakan, tema yang ia dan kawan-kawannya  angkat juga terbilang berani berbeda dari lainnya karena lebih sering membahas hal politik, ekonomi, dan lainnya. Padahal biasanya muncul stigma masyarakat tentang HMI jika mengangkat isu Islamfy, dakwah, kitab.

Memang Tema yang diangkat oleh penyelenggara HMI KomDa Wali Songo sangat kekinian, isu hangat, sekaligus seputar pendidikan. Beberapa tema yang pernah diangkat diantaranya, hukum, politik, media sosial (komunikasi), ekonomi dan bisnis, kewirausahaan, sejarah dan budaya, dan materi tentang himpunan mahasiswa Islam sendiri dalam “follow up”. Melihat banyaknya peserta yang begitu antusias bergabung, panitia sampai membuat dua sampai tiga grup.

Bonus dan hasil yang didapat oleh peserta dapat berupa ilmu baru, e-sertifikat, dan relasi. Beragam langkah diupayakan demi membuat masyarakat umum tidak suntuk menghadapi masa yang begitu berat. Panitia penyelenggara berharap tetap ada semangat untuk menambah wawasan dan pengetahuan di masa pandemi ini.

Selain kegiatan yang menambah ilmu, HMI KomDa Walisongo juga melakukan aksi nyata, dengan pernah membuat “Open Donasi” (meja ngaji, buku Iqro, Al—Qur’an, papan tulis) untuk pengentasan buta baca Al-Qur’an di kota Semarang yang sasarannya adalah sejumlah taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Terobosan baru yang inovatif selalu dikonsep oleh para pengurus HMI KomDa Walisongo, karena dengan memiliki kesibukan, mereka bisa memiliki pengalaman menjalankan roda organisasi via virtual. Mereka akan belajar dan mengembangkan organisasi agar dapat bermanfaat dalam kondisi seperti apapun. Juga bisa menjadi organisasi percontohan.

Eksistensi organisasi 

HMI KomDa Walisongo berharap dapat selalu mengadakan kegiatan virtual, dalam bentuk apapun. Sebab juga sangat berkontribusi mendukung kebijakan pemerintah dirumah saja atau biasa disebut isolasi diri. Dampaknya masyarakat tidak jenuh, dan mendapat pengetahuan baru. Yang tentunya dapat berorientasi untuk diaplikasikan di dunia nyata.

Memang sebagian besar organisasi termasuk HMI memiliki harapan untuk dapat eksis dan terus memberikan manfaat kepada sesama. Selain itu, mereka membutuhkan apresiasi dari warganya (mahasiswa). Dengan adanya apresiasi, organisasi akan merasa dihargai keberadaannya serta semakin semangat untuk meningkatkan kualitas.

Bersaing kualitas secara sehat sudah tidak asing di kalangan organisasi kemahasiswaan, dengan begitu kompetisi yang ideal akan tercipta. Prestasi yang didapat yaitu ada label sebagai organisasi percontohan dengan bisa berinovasi dan beradaptasi disegala kondisi. Dengan cara itu ada rasa “memiliki organisasi” yang perlu ditanamkan kepada kader, khususnya pengurus sebagai bagian vital tubuh dari organisasi.

Langkah dan upaya konstruktif HMI KomDa Walisongo demi menjaga eksistensinya adalah dengan selalu kreatif dan fleksibel dalam mengadakan kegiatan, tentunya selalu mengikuti perkembangan zaman. Namun hal tersebut harus didukung oleh konsistensi dalam penyelenggaraan secara berkala. Para pengurus  mengharapkan ada respon dan tanggapan dari masyarakat umum supaya tetap memiliki pembaharuan dalam menyelenggarakan kegiatan.

Poin tambahan dari adanya pandemi berupa kemudahan akses bagi yang terlibat kegiatan virtual. Mereka dapat dengan mudah ikut berpartisipasi, meskipun kendala jaringan dan sinyal adalah hal yang lumrah menjadi keluhan. Tetapi itu tak jadi masalah, selama daya tarik akan konsep acara atau tema dapat dipertahankan.

Bagi teman-teman yang suntuk dirumah saja, tanpa kesibukan. Kalian dapat mengakses Instagram @hmikomdawalisongo agar tidak tertinggal informasi terkait kegiatan virtual. Semoga selama pandemi HMI KomDa Walisongo dapat menebar manfaat untuk sesama dan menjadi media belajar untuk masyarakat umum.

Abi Priambudi, mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang