Gerakan UG 99 Family Membantu Warga Pasar Rebo di Saat Pandemi

0
80

UG 99 Family yang merupakan singkatan dari Ujung Gedong 99 Family adalah organisasi kaum muda yang mempunyai motivasi tinggi dalam membantu sesama. Organisasi bermarkas di jalan Ujung Gedong Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur itu didirikan pada 25 oktober 2015.

“Sebenarnya UG 99 Family beranggotakan teman-teman dari remaja masjid. Awalnya kami buat organisasi ini untuk perkumpulan pengajian rutin bagi remaja setiap malam minggu ” ujar Renaldi (25) yang berkuliah di Universitas Tama Jagakarsa Jakarta pada Senin (22/6/2020). Ia menjadi ketua UG 99 Family.

Kegiatan UG 99 Family kemudian bertambah saat pandemi covid-19 melanda negara kita. Untuk mencegah makin tersebarnya virus korona, banyak perusahaan dan usaha tutup. Pusat belanja, mal jugé harus ditutup demi usaha meminimalisir penularan virus itu antar orang. Akibatnya, banyak orang kesulitan mencari penghasilan.

Kini, walau pandemi belum sepenuhnya terkendali, pemerintah mulai menerapkan masa normal baru agar orang bisa memulai kegiatan ekonominya lagi. Toko-toko di pasar maupun di mal  sudah mulai beroperasi dan aktivitas jual-beli kembali dilakukan.

Akan tetapi dalam memulai masa normal baru masih banyak orang belum bisa bekerja kembali karena beberapa perusahaan  masih harus menghitung posisi keuangannya untuk merekrut karyawan baru. Tak terelakkan lagi banyak warga kesulitan mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri maupun keluarganya.

Pada kondisi kehidupan yang sulit bagi banyak  orang ini, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di masa sulit ini. Pemerintah membuat anggaran untuk masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Pembagian sembako oleh warga yang lebih mampu juga dilakukan kepada masyarakat  supaya mereka bisa memenuhi kebutuhan pangannya.

Paket sembako

Meski bantuan berupa sembako dari pemerintah dan pihak lain terus disalurkan kepada warga namun tak semua orang yang butuh bantuan menerimanya. Masih banyak warga  yang belum menerimanya karena jumlah bantuan yang diberikan tak bisa menjangkau semua orang yang butuh bantuan.

“Saat ada virus korona,  banyak warga masyarakat di lingkungan sekitar kami terkena dampaknya. Di situlah kami sadar, semua anak muda harusnya membantu lingkungannya dengan cara apapun,” kata Adi Wibowo (24), wirausahawan yang menjadi bendahara UG 99 Family pada Senin (22/6/2020).

Adi yang beverja sebagai wirausahawan itu melanjutkan, akhirnya ia dan teman-temannya memutuskan untuk membuat gerakan pemuda dengan menggandeng adik-adik dari remaja masjid al akhyar dan remaja masjid Uswatun Hasanah di kelurahan Gedong, Pasar Rebo untuk membantu warga berkekurangan di sekitar tempat tinggalnya.

Menurut Adi, UG 99 Family membuat beberapa program yakni gerakan 100 nasi bungkus yang dilselenggarakan pada bulan puasa lalu. Nasi bungkus yang didapat ternyata melebihi dari target. Sebanyak 120 nasi bungkus dan 100 takjil dibuat untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan seperti fakir miskin, pemulung, dan warga yang tidak bisa buka puasa dirumah saat dalam perjalanan. Setelah itu UG 99 Family mambuat lagi program yang kedua, pembagian sembako dengan target 100 sembako untuk warga sekitar kantor organisasi tersebut berada.

Semua pengurus dan anggota bergotong royong mencari dana dengan cara mendatangi para donatur seperti warga yang mampu, mereka yang mempunyai pekerjaan yang baik, sumbangan dari warga di kawasan kelurahan Gedong, Pasar Rebo dan melakukan sebar pamflet  secara rutin di media sosial masing-masing. Uang yang terkumpul sekitar Rp.5.800.000, ditambah beras 200 kg dari para donatur.

Setelah uang terkumpul, pengurus dan anggota berunding apa saja yang harus  sediakan untuk melengkapi kekurangan bahan sembako yang akan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Sumbangan yang terkumpul lagi-lagi melebihi target. Rencana semula, kami akan membuat 100 paket sembako. Akhirnya kami bisa membuat sembako 106 paket. Bantuan tersebut didistribusikan ke warga di 15 RT sekitar wilayah kampung Gedong. Walupun hal yang dilakukan  tidak banyak setidaknya sebagai manusia punya kesadaran untuk membantu sesama.

“Saya sangat bangga karena kami mengadakan program itu dalam kondisi penuh keterbatasan. Teman-teman yang ikut banyak yang masih pemula mengenal organisasi, jadi ada yang masih sekolah dan ada pula yang baru lulus sekolah,” tutur Renaldi yang masih menempuh studi di Universitas Tama Jagakarsa Jakarta. Ia menambahkan, beruntung beberapa anggota yang sudah kuliah dan bekerja membantu para pemula mengenal sekelilingnya sehingga memudahkan penyaluran bantuan sembako itu.

Hendri Cahya Wijaya, mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta Jurusan Perhotelan.