Siapakah Ayah dan Ibu Kita ?

1
186

Mereka sudah tidak muda lagi, tua dan fisiknya tak lagi sekuat dulu. Segala macam penyakit mengantri di depan pintu. Kena angin sedikit, meriang. Salah makan sedikit, kolestrol, asam urat, darah tinggi dan segala tetek bengek “penyakit orang tua” siap singgah ke tubuh mereka.

Jika malam datang, pikiran melanglang buana ke sana kemari sampai ke ujung langit. Hati tidak tenang. Tidur pulas adalah barang langka yang hanya sesekali dinikmati. Rasa gelisah itu tidak lain dan tidak bukan untuk memikirkan keadaan anak-anaknya.

Meski kadang-kadang timbul “omelan menyebalkan” dari bibirnya, rasa kecewa dan penyesalan tidak pernah terbesit dan permanen di hati kecilnya. Di sana, yang ada hanyalah “aku mengasihimu anakku”, tidak sedikitpun aku kecewa dan menyesal memilikimu”.

”Tuan kecil”

Sejak dalam kandungan, segala kebutuhan anak dipenuhi. Kalau tidak, si makhluk kecil dalam kandungan itu “ngambek”, dan menganggu psikologis ibu. Tidak jarang, si Ayah melakukan apapun demi menuruti permintaan si ”tuan kecil”. Tidak peduli seperti apapun keadaannya.

Bahkan setelah dilahirkan ke dunia, si ”tuan kecil” toh masih menyusahkan saja. Senjatanya adalah menangis, bila permintaannya tidak dipenuhi. Tidak peduli seberapa susah keadaan mereka, kedua sosok yang disebut orang tua dengan tulus memenuhi kebutuhan si tuan kecil.

“Pembohong” ulung

Sakit menjepit, tidak pernah diakui di depan anak-anaknya. Mereka adalah “pembohong” yang ulung. Mereka tidak ingin menjadi beban pikiran untuk anak-anaknya. Kondisi mereka tidak lebih penting dibanding anak-anaknya sendiri. “Bapak dan ibu baik-baik saja nak, tidak usah terlalu khawatir”.

Tanpa tahu kondisi sebenarnya, perasaan si ”tuan kecil” yang sudah beranjak dewasa itu, sedikit lega. Oh, ayah dan ibu baik-baik saja toh”. Rasa lega itu kadang melengahkannya. Satu pekan, dua pekan, satu bulan. Tak kunjung mengabari atau sekedar menanyakan keadaan mereka di kampung halaman.

Telepon berdering. Kring! kring! kring!… “Halo nak, bagaimana kabarmu? Kamu sehat-sehat ajakan? Jangan lambat-lambat makan ya, kok lama tidak ada kabar nak?”. Nampak rasa rindu mereka tersalurkan melalui sambungan udara.

Tanpa tahan-tahan, si ”tuan kecil” curhat tanpa putus. “Bulan depan saya harus bayar SPP, bayar kos, uang jajan hampir habis, laptop rusak jadi harus ganti yang baru, bla bla bla”. Mulut sampai berbusa, tidak peduli telinga orang tuanya sudah kepanasan.

Dengan mengelus dada dan menarik nafas dalam-dalam, mereka hanya bilang, “baik nak, semoga bulan depan sudah ada rejeki ya”, kamu baik-baik di kampung orang, pintar-pintar bergaul, belajar yang baik”. Tanpa peduli bagaimana mereka mengusahakannya dalam waktu yang singkat itu.

Kondisi saat pandemi

Segalanya berubah sejak muncul virus covid-19. Si tamu tak kasat mata yang seolah memberi ultimatum untuk menarik jarak dengan siapapun. Tanpa tahu sampai kapan. Niat pulang kampung untuk melepas rindu dengan orang tua pun, harus ditunda dulu.

Kiriman bulanan tidak selancar dulu lagi. Belanja seperlunya, makan seperlunya, dan berhemat sebisa mungkin. Kondisi ekonomi mereka sedikit demi sedikit terganggu. Sedangkan mereka harus tetap mencukupkan kebutuhan anak-anaknya tanpa banyak mengeluh.

Si ”tuan kecil” mulai menyadari, betapa tangguh dan penyayang mereka. Waktu tak berhenti berputar, mereka semakin menua, ingatan menurun dan renta. Namun, semakin besar pula rasa cinta mereka terhadap anak-anaknya.

Sudahkah kita memahami dan mempedulikan mereka?

Defri Harianto Natan, mahasiswa Program Studi  Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah.