Segudang Semangat untuk Kuliah Daring

0
741

Tak dapat dipungkiri, kian merebaknya wabah korona mampu mengubah berbagai pola dan aspek dalam kehidupan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Kebijakan belajar dari rumah, membuat berbagai sekolah dan universitas menerapkan sistem pembelajaran secara daring atau online.

Suci Islami, mahasiswi asal Sumatera Barat, seharusnya sekarang tengah berada di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, untuk melangsungkan kegiatan kuliah semester empatnya di Universitas Padjadjaran (Unpad). Namun, perkuliahan tersebut tidak berjalan dengan normal seperti biasanya.

Unpad mengalihkan sistem pembelajaran menjadi perkuliahan secara daring. Sudah hampir sebulan ia melakukan kegiatan perkuliahan daring dari kampung halamannya.

Per tanggal 18 Maret 2020, melalui surat edaran rektor, Unpad sudah menerapkan metode perkuliahan online. Pengalihan metode perkuliahan secara daring itu diterapkan oleh Unpad sejalan dengan peraturan pemerintah untuk tetap di rumah saja, guna menekan penyebaran virus korona.

Pulang, akhirnya menjadi pilihan yang diambil oleh Suci. Menurutnya, tidak ada tempat yang lebih aman selain rumah ditengah kondisi pandemi ini.

Bagi sebagian mahasiswa, belajar dari rumah merupakan hal yang menyenangkan, karena tidak perlu tatap muka untuk melakukan perkuliahan di kampus. Berbeda dengan Suci, yang ternyata sinyal internet di rumahnya yang terletak di daerah Pancung Taba, Kecamatan Bayang Utara, Pesisir Selatan, tidak mumpuni untuk melakukan pembelajaran secara daring. Sedangkan perkuliahan berbasis panggilan video menjadi pilihan utama dalam kelangsungan kuliah online-nya.

“Jangankan internet untuk melakukan panggilan video, untuk menelfon dan SMS saja susah,” kata pesan Suci, pada Minggu (14/4/2020).

Susah sinyal

Meskipun begitu, hal tersebut tidak mengalahkan semangat Suci untuk tetap mengikuti pembelajaran secara online. Suci memilih untuk menyewa sebuah kamar di rumah temannya, di daerah Sago, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan, yang berjarak kurang lebih dua jam perjalanan dari rumahnya. Hal ini ia lakukan tak lain dan tak bukan agar kegiatan kuliah online-nya tetap terlaksana.

“Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa sebuah kamar di rumah teman saya, dan menetap di sana, agar tetap bisa kuliah,” ungkap Suci.

Menurutnya, kendala sinyal bukanlah hal yang berarti. Mengingat, memang sudah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa untuk belajar. Namun, ia sangat menyayangkan beberapa metode dalam kuliah online ini masih kurang efektif. Seperti, durasi pembelajaran yang terbatas. Aplikasi yang digunakan sebagai sarana untuk kuliah online ternyata memiliki limit waktu maksimal dalam melakukan panggilan video.

“Beberapa mata kuliah itu metodenya menggunakan panggilan video. Sayangnya, aplikasi yang digunakan membatasi durasi dalam melakukan paggilan video tersebut. Jadinya materi yang disampaikan terkadang terpotong dan tidak selengkap saat kuliah offline, atau tatap muka,” kata Suci lewat pesan suaranya.

Pulang juga menjadi pilihan yang diambil oleh Dea Febriva, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Selain karena perkuliahan di kampusnya dialihkan secara daring, Dea mengaku juga merasa lebih aman jika ia berada di rumah.

Sekarang Dea juga tengah mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari kampung halamannya. Sudah hampir sebulan juga Dea mengikuti PJJ dari kediamannya, di daerah Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Sumatera Barat.

Kendala susah sinyal juga dialami Dea. Beruntung, Dea memiliki toko yang terletak tidak jauh dari rumahnya, dan terjangkau oleh jaringan.

“Kalau di rumah nggak ada sinyal. Tapi, untungnya di toko-ku ada jaringannya. Jadi setiap ada jadwal kuliah daring ke toko dulu,” tutur Dea saat dihubungi via telepon pada Selasa (14/4/2020).

Sependapat dengan Suci, Dea mengaku kendala susah sinyal bukan halangan untuk tetap mengikuti perkuliahan online. Malahan, Dea mengatakan bahwa kuliah secara daring menurutnya lebih efektif.

Lebih fokus

Dea bercerita, dengan kuliah online, ia bisa mendengarkan materi yang dijelaskan oleh dosen dengan fokus. Hal ini sangat berbeda dengan kuliah tatap muka. Menurutnya, kuliah tatap muka memiliki banyak potensi yang bisa mendistraksi kefokusan mahasiswa.

“Saya dapat mendengarkan materinya secara fokus dan lebih jelas melalui headset. Kalau di kelas tatap muka ada bayak hal yang berpotensi menggaggu fokus,” ujarnya.

Pembagian materi atau modul belajar dari dosen pengampu menurutnya juga menjadi kunci dari pembelajaran daring ini. Namun, untuk hal ini perlu ada kesadaran pribadi dari mahasiswa itu sendiri. Ini juga tergantung pada mau atau tidaknya mereka untuk mempelajari dan mengeksplorasi materi yang sudah dibagikan.

“Materi yang diberikan oleh dosen biasanya saya pelajari dan dicatat ulang, ini menurut saya sangat efektif. Namun, ini perlu kesadaran dari individunya dan ini juga tergantung dari gaya belajar masing-masing,” ungkap Dea.

Dea tidak menyangkal, bahwa tugas yang diberikan bertambah dua kali lipat dibandingkan perkuliahan biasanya. Namun, ia berpendapat, pemberian tugas ini sangat ampuh agar mahasiswa tetap di rumah. Walaupun banyak tugas, Dea mengaku tetap senang mengikuti kuliah online.

“Walaupun tugasnya dua kali lipat, tapi saya senang mengerjakanannya, Seenggaknya dengan pemberian tugas mahasiswa tidak keluyuran, tetap di rumah,” ujar Dea.

Dea berkata, sudah seharusnya mahasiswa dapat beradaptasi dan memaklumi kondisi yang ada. Belajar di rumah dengan sungguh-sungguh adalah salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam memerangi korona.

Jika dokter, perawat, tenaga medis, dan orang-orang dengan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari rumah diluar sana berjibaku melawan korona, maka sesuai fugsinya, tugas mahasiswa adalah belajar dengan sungguh-sungguh di rumah. “Setidaknya, dengan tetap di rumah, kita dapat meminimalisir penyebaran virus korona,” tambah Dea.

Muthyarana Darosha, mahasiswi Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.