Apa Kabar Mahasiswa dengan Kuliah Daringnya ?

0
5072

Siapa sangka bahwa ini semua akan terjadi? Siapa mengira bahwa awal tahun ini akan menjadi awal tahun yang penuh kisah pilu? Siapa yang mau jika negaranya dilanda dengan peristiwa menyedihkan seperti ini? Tidak.

Tidak ada yang menyangka, tidak ada yang mengira, dan tidak ada yang mau. Kabar huru-hara terdengar di seluruh penjuru negeri ini karena datangnya sebuah tamu tak diundang, tamu yang membahayakan, tamu yang menjadi ancaman.

Corona Virus Disease 2019 atau yang kerap disebut Covid-19, inilah yang tengah menjadi ancaman bagi dunia. Virus yang mengganggu sistem pernapasan manusia ini sangat mudah untuk berpindah tempat dari satu insan ke insan lainnya. Tak mengenal usia, tak mengenal pekerjaan, tak mengenal penyakit lain, virus korona dapat menjangkiti siapapun, bahkan orang yang terlihat sehat pun, tak dihiraukan oleh virus ini.

Tak terkecuali Indonesia. Virus korona mulai menyapa Ibu Pertiwi sejak 2 Maret 2020 Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Indonesia sudah menjadi salah satu negara yang warganya positif terkena virus korona.

Kian hari kian merebak. Hal tersebutlah yang membuat pemerintah negeri ini mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial untuk mengurangi persebaran virus korona di Indonesia. Terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020, banyak sekolah, kampus, tempat ibadah, bahkan para pekerja yang mengeluarkan kebijakan untuk bekerja atau belajar dari rumah.

Kuliah daring
Belajar dari rumah untuk mahasiswa berarti kuliah dari rumah, menggantikan kuliah tatap muka dengan kuliah daring atau online. Ya, Kuliah online, itulah sebutan bagi kegiatan belajar kampus saat ini.

Sudah banyak kampus yang mengeluarkan kebijakan kuliah daring bagi mahasiswanya. Berbagai aplikasi dan platform digunakan untuk menunjang keberlangsungan belajar mahasiswa dengan dosennya.

Enak sih jadi punya waktu yang lebih fleksibel.”

Kegiatan kuliah daring memang dapat diakses dimana saja dan di waktu yang telah ditentukan bersama. Materi perkuliahan yang diberikan oleh dosen melalui kuliah daring juga dapat dipelajari kembali dengan mudah oleh mahasiswa di waktu yang lebih fleksibel. Baik dosen maupun mahasiswa juga dapat lebih menguasai teknologi informasi dan komunikasi di tengah era globalisasi yang menuntut manusia untuk hidup bersama teknologi. Mahasiswa juga dapat melakukan pembelajaran dengan lebih santai dengan caranya masing-masing saat mengikuti perkuliahan secara daring.

Memang, kuliah daring memberi waktu yang lebih luang bagi beberapa mahasiswa, sehingga dapat melakukan kegiatan lain yang disukai dengan waktu yang banyak. Namun, tak bisa dipungkiri, mahasiswa pun juga manusia yang memiliki perbedaan.

“ Bosan”
“ Tidak enak
“ Lelah menatap layar terus hampir setiap hari”

Ya, kenyataannya tidak semua mahasiswa merasakan kenikmatan dari kuliah daring. Justru ada yang mengeluh akan sistem kuliah daring yang dijalani dan menyatakan lebih senang melakukan kuliah secara tatap muka. Lalu, apa kabar mahasiswa dengan kuliah daringnya?

Banyak tugas
“Aku ngerasa jadi banyak banget tugas,”

Ekspektasi kebanyakan mahasiswa mengenai kuliah online yang menyenangkan –karena bisa kuliah santai dari rumah- seakan-akan lenyap karena realita yang terjadi. Faktanya banyak mahasiswa yang mengeluh karena kuliah model itu yang seharusnya dilaksanakan justru beralih menjadi tugas secara daring. Tak hanya itu, tenggat waktu yang diberikan pun semakin membuat mahasiswa berasa ingin memiliki otak seperti Albert Einstein yang cerdas dalam hal pengetahuan.

“Asli, tugas banyak banget, bukan kuliah daring melainkan tugas daring, dan setiap minggu selalu ada tugas, kadang dosennya enggak ngasih sesuai jadwal, terkadang juga kasihnya sekarang besok terakhir dikirim,” ujar Fika Mayani, mahasiswi jurusan Akuntansi, Universitas Gunadarma Depok.

Fika merasa, kuliah online seakan menjadi mimpi buruk baginya karena dihantui dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh dosennya tanpa menjelaskan materi perkuliahan yang seharusnya ia dan teman-temannya terima.

“Susah enggak enak banget, kampusku enggak seperti kampus lain ada Zoom sama dosennya. Kami diberi materi, forum, dan kuis, lah kan jadi belajar sendiri. Mana sudah bayar mahal, tahunya belajar sendiri gak sesuai banget, kuota banyak habis,” lanjut Fika dengan keluhannya via chat.

Beberapa mahasiswa yang saya tanyakan tentang bagaimana kuliah online yang mereka jalani mengaku bahwa mereka hanya diberi materi tanpa ada penjelasan dari pengajar mereka. Alhasil, mereka hanya sekadar baca namun tak mengetahui apa yang mereka baca.

“Ada satu mata kuliah yang tugasnya membaca dari bab empat hingga tujuh, serta mengerjakan tugas di masing-masing bab. Karena itu materinya hitungan semua, jadi enggak bisa  connect kalau hanya membaca tanpa penjelasan, ujar Yohanes Andrian, mahasiswa semester dua Teknik Elektro Universitas Tidar Magelang.

Dia mengaku, akhirnya tugas kuliah yang seharusnya ia kerjakan, diselesaikan dengan melihat milik temannya. ”Waktu UTS jadinya enggak tahu mengerjakannya bagaimana,” lanjut Yohanes.

Atau yang seperti ini,

“Kampusku tugas online, karena tidak ada penjelasan langsung dari dosen, tapi dapat materi dan tugas seabrek,” kata Kayika Pratidina, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma, yang mengatakan hal tersebut sebagai bentuk keluhannya terhadap sistem kuliah online di kampusnya.

Tak tahu siapa yang salah pengertian. Antara dosen yang memiliki pengertian bahwa tugas banyak yang mereka berikan termasuk dalam kegiatan kuliah online atau mahasiswa yang memiliki pengertian bahwa tugas yang banyak bukanlah kegiatan dari kuliah online.

Ya, tak hanya satu atau dua orang yang mengeluh akan banyaknya tugas yang diberikan karena kuliah secara daring itu. Tugas yang banyak seakan menghantui banyak mahasiswa. Mereka mengerjakan satu tugas yang diberikan hari ini, tetapi esok harinya datang kembali tugas lain yang tak kalah membuat mahasiswa semakin mengeluh. Tugas kuliah seakan-akan tak bosan-bosannya datang kepada mahasiswa.

“Lagi sibuk tugas online, kuliah terasa dua puluh empat jam, huft,” kata salah seorang mahasiswa jurusan Hukum Universitas Lampung bernama Faishal Ghifary.

Tak hanya tugas ternyata, ada pula yang mengungkapkan bahwa saat ini sedang melaksanakan ujian dan entah kenapa karena kegiatan kuliah online ini tingkat kesulitan ujiannya jadi meningkat.

“Tingkat kesulitan UTS dan tugas jadi naik. Soal UTS berbentuk esai dan di soal terakhir adalah soal analisis. Analisis ditulis sebanyak 1500 kata dan harus menyertakan referensi dan itu artinya menjawab tiap nomor soal harus menggunakan data jadi harus fact finding juga,”

Adalah Lucas Pieter, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung bingung dan lelah ia rasakan. Tapi mau tak mau hal tersebut harus tetap dikerjakan agar nilai yang baik tercantum dalam kartu hasil studinya.

“Itu semua harus dikerjakan dalam waktu satu jam, lebih dari satu jam dianggap tidak mengikuti UTS sama dosennya,” lanjutnya.

Berbeda halnya dengan Faishal Ghifary. Ia memiliki pandangan sendiri terhadap dosennya yang memberi tugas. Tak mengelak bahwa ia juga memiliki tugas yang banyak yang diberikan oleh dosennya. “Mungkin dosen juga pusing kali ya,” katanya.

Bagaimana tidak? Kuliah daring yang tiba-tiba harus dilaksanakan ini turut membuat dosen kelimpungan. Tidak semua dosen menguasai teknologi saat ini. Boro-boro menyajikan materi lewat daring, melalui power point di kelas saja tidak menjamin mahasiswanya menerima pelajaran dengan baik dan jelas.

“Tapi ya mau gimana lagi, dosen juga pasti bingung mau mengajar seperti apa, mengoreksi hasil tugas mahasiswa bagaimana. Hanya meratapi ini semua sambil berharap korona cepat berlalu wkwkwk,” lanjut Faishal dengan nada guyonan.

Melelahkan
“Jadi lebih capek aja karena enggak ada batasan waktu. Kapan kita belajar sama kapan kita mengerjakan tugas, seperti menyatu gitu,”

Tak pelak, bahwa tugas online yang diberikan oleh dosen, dan tentunya harus dikerjakan oleh mahasiswa mengundang banyak rasa yang mewarnai hari-hari mereka.

Lelah. Sebuah kata yang diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penat; letih; payah; tidak bertenaga. Itulah yang menggambarkan kondisi beberapa mahasiswa saat ini dalam menjalani kuliah online.

Aneh bukan? Kuliah online yang padahal dilakukan di rumah dengan berbagai cara yang nyaman yang dapat diciptakan oleh mahasiswa itu sendiri, tetapi malah membuat mahasiswa lelah.

Lelah yang dirasakan pun beragam. Lelah terlalu banyak menulis, lelah terlalu sering menatap layar laptop, lelah karena otak dipaksakan untuk mengerti materi yang diberikan karena tidak ada penjelasan dari dosen, dan lelah karena dikejar-kejar oleh tugas yang berdatangan sambung-menyambung seperti kereta.

“Kalau offline kan ya pusingnya selama jam mata kuliah saja. Selesai matkul ya sudah beres, tidak ada beban. Tugas yang dibawa pulang palingan hanya seminggu empat kali. Tapi ini, selama kuliah online sehari bisa ada dua tenggat waktu. Dosen lebih banyak beri tugas, jarang memberi materi. Bahkan ada yang benar-benar hanya memberi tugas doang,” ucap Adhitia Dharma Putri, mahasiswi Teknik Informatika Universitas Telkom Bandung.

Bosan? Tentu juga dirasakan mahasiswa. Kuliah dari rumah, tak boleh kemana-mana karena diluar sana virus korona sedang merajalela. Ingin bersosialisasi, tetapi hanya bisa dilakukan melalui virtual yang artinya menatap layar laptop kembali. Huft, berasa hidup bersama laptop saja.

Praktikum terbengkalai
Beberapa mahasiswa yang saya tanyakan mengenai nasib kegiatan praktikum mengaku bingung dan tidak tahu bagaimana nasib praktikum mereka. Karena perkuliahan online tidak memungkinkan untuk melakukan praktikum.

“Minggu awal waktu presiden mengumumkan libur dua minggu itu aku satu praktikum diganti ke video sama buat review nya. Tapi buat praktikum lainnya tidak tahu bagaimana, tidak ada kabar sama sekali,” kata Nadia Fitri Amelia, mahasiswa Fakultas Teknik Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.

Nadia mengungkapkan belakangan ini ia tidak menerima kabar apa-apa mengenai praktikum yang seharusnya dijalankan itu. “Mereka (asisten dosen) tidak konfirmasi ke kami bagaimana ini praktikumnya. Mungkin karena mereka bingung juga ya praktikum online gimana,” ujarnya. Ia lalu menambahkan, menurut kata ketua program studinya, kalau bisa dan sempat sehabis UAS akan dilaksanakan praktikum.  ”Tapi masih belum jelas juga karena lihat kondisi dulu. Jadi, intinya ya kita enggak ngapa-ngapain,” kata Nadia lagi.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya nasib praktikumnya tersebut, entah kapan akan dilaksanakan. Disaat pihak rektorat Universitas Padjadjaran mengeluarkan surat edaran mengenai kegiatan kuliah online, terdapat  keputusan yang mengkhawatirkan para mahasiswa yang harus praktikum.

Salah satu diantaranya Nadia. Para mahasiswa khawatir, dosen bisa saja memindahkan praktikum di semester ini menjadi di semester depan. Itu artinya beban praktikum mahasiswa di semester depan akan bertambah.

“Tapi enggak mau juga praktikum semester dua ini di pindah ke semester tiga, karena di semester tiga itu sudah ada tiga praktikum. Kalau praktikum yang di semester ini benar dipindahkan, jadi lima praktikum,” lanjut Nadia menjelaskan alasan kekhawatirannya.

Sama hal nya dengan Tia -nama panggilan Adhitia Dharma Putri-, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Telkom. Ia mengatakan semenjak kuliah online asisten praktiknya menjadi seperti tidak berguna.

“Mereka (asisten praktik) pasti banyak tugas juga seperti kita, karena kan asprak kaka tingkat gitu. Jadi kalau mau tanya kadang dibales kadang enggak. Dosen juga sepertinya kurang interaksi sama asprak. Asprak nya kasih praktikum apa, dosennya menjelaskan apa. Jadi enggak nyambung gitu,” ujar Tia.

Harapan mahasiswa
Ketar-ketir mahasiswa maupun dosen atau pihak kampus yang lainnya memang tak bisa dihindari. Kaget pasti ada, sebab ini semua terjadi tanpa ada rencana di jauh-jauh hari sebelumnya. Kebijakan yang dibuat hari lalu juga pasti dibuat atas dasar desakan keadaan. Banyak yang berharap kepada kampus-kampus yang berdiri di negeri ini agar dapat menciptakan konsep yang lebih efektif lagi untuk kegiatan kuliah daring ini.

“Berharap banget kampus bisa kasih kebijakan yang menunjang kegiatan belajar mengajar secara daring ini. Berikan yang terbaik buat mahasiswa yang kuliah online. Bukan cuma kampus yang repot sama kebijakan itu, tapi mahasiswa juga repot karena kendala keterbatasan komunikasi, apalagi banyak dosen yang tak acuh sama komunikasi via online,” kata Faishal.

Ia  minta bantuan agar cara komunikasi seperti itu dihapus. ” Tolong banget dihapus sifat yang seperti itu, soalnya mahasiswa juga mau komunikasi sama dosen dengan baik-baik,” harap Faishal kepada pihak kampus yang melaksanakan kuliah online.

Tak hanya kepada para kampus, ia juga mengungkapkan keinginannya itu kepada pemerintah yang membuat kebijakan di negara ini.

“Buat pemerintah, berharap banget kasih kebijakan yang sangat bisa dinikmati oleh kampus, mahasiswa, dan juga pemerintah sendiri. Saya tahu pandemik Covid-19 ini memang tidak diharapkan kedatangannya di Indonesia, tetapi sifat cepat tanggap harus benar-benar dilaksanakan,” ujar Faishal.

Ia menyatakan gerak cepat pemerintah dibutuhkan karena banyak hubungannya dengan proses akademik di sekolah dan perguruan tinggi. ”Kalau misal kuliah tidak maksimal sekarang kan juga berpengaruh buat kita ke depannya yang akan menggantikan posisi pemerintah saat ini,” tambah Faishal. Ia sungguh berharap pemerintah mendengar apa yang ia katakan.

Mungkin saat ini bisa menjadi sejarah bagi Indonesia, bahwa rindu besar-besaran pernah terjadi di negeri ini. Tak ada yang bisa bohong akan kerinduan yang mahasiswa alami. Bagaimana tidak? Keseharian mahasiswa adalah di kampus, bukan di rumah saja seperti ini.

Terlambat bangun pagi saat ada kelas pagi, terburu-buru melangkahkan kaki ke kampus, suasana riuh di kelas. Selain itu mahasiswa pasti mencari  makanan di kantin. Gurauan mereka yang memiliki kemampuan humoris saat sedang menunggu pergantian kelas, tak dapat dirasakan untuk sementara waktu ini.

Sumpah kangen banget sama kuliah. Kangen teman-teman sama kangen suasana kampus,”. Kalimat itu yang terselip dari setiap pembicaraan dengan narasumber yang saya wawancarai.

Elsa Damayanti Siburian, mahasiswi Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran