Membangun Usaha Rintisan di Era Digital

0
76

Sekilas kita dapat memahami di era Revolusi 4.0 saat ini segala bidang sudah berbasis digitalisasi, sehingga menuntut kita untuk dapat memanfaatkan fungsi teknologi dengan optimal. Bahkan lebih dari itu, sumber daya manusia ke dalam persaingan global juga merupakan hal patut disiapkan, karena akan jadi percuma jika alat-alat teknologi tersedia namun kemampuan SDM belum mumpuni.

Hal itu mengemuka dalam diskusi Ngeteh Sore Bersama Kompas yang bertema  “Bagaimana Masa Depan “Start Up” Di Indonesia?”, di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (21/1/2020). Eksekutif start up Indonesia yang hadir pada momen itu,  Rama Mamuaya (CEO DailySocial.id), Leontinus Alpha Edison (Co-Founder Tokopedia), dan Andi Kristianto (Venture Capital CEO Telkomsel Mitra Inovasi).

Indonesia saat ini memasuki era segala bidang berbasis digital, diantaranya politik, budaya, sosial, hukum bahkan ekonomi. Bidang ekonomi menjadi bidang yang menjadi sorotan, karena merupakan “tonggak” agar kehidupan masyarakat secara umum dapat terselenggarakan dengan efektif dan efisien dalam pemenuhan kebutuhan.

Lalu jika kita kaitkan dengan sepak terjang “start up” Indonesia di masa mendatang akan bagaimana?

Usaha rintisan menjadi fenomena yang menjadi perhatian dalam kurun waktu 4-5 tahun belakangan ini. Hampir bisa kita temukan iklan ataupun promosi dari sebuah “start up” di laman internet atau media sosial yang kita gunakan. Hal ini menjadi momentum ketika era Revolusi 4.0 digema-gemakan “start up” hadir untuk mengambil bagian dalam proses revolusi teknologi digital untuk peluang ekonomi.

Kita ambil contoh Tokopedia, Gojek, dan Grab. Di tengah kebutuhan masyarakat yang serba instan dan cepat mereka hadir untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Kami hadir unntuk menjawab masalah-masalah yang dirasakan masyarakat, dan mencoba memecahkan masalah tersebut,” ujar Leontinus.

Sejatinya “start up” hadir untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat, terutama memudahkan akses masyarakat dalam pemenuhan akses sehari-sehari.

Rakha Arlyanto Darmawan, mahasiswa Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Pemerintahan.