Belanja Kaset dan Baju di Synchronize Festival 2019

0
107

Synchronize Festival berlangsung di JIEXPO, Jakarta selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 4,5, dan 6 Oktober 2019. Sederet musisi terkenal mengisi line up panggung, menampilkan penampilan terbaiknya. Berbagai kalangan masyarakat hadir untuk turut menikmati festival musik akbar ini.

Tak hanya penampilan musisi di panggung, Synchronize juga menghadirkan berbagai booth untuk sponsor maupun media partner, seperti Kompas, Gatsby, Indofood, dan berbagai produk lainnya. Namun yang menarik, terdapat stand-stand kecil yang menjual berbagai macam produk terkait dengan musik Indonesia. Stand-stand dari berbagai toko ini merupakan sebuah record market yang dihadirkan Synchronize untuk mereka yang gemar mencari koleksi kaset-kaset ataupun CD musik lawas. Bahkan, mereka juga menyediakan vinyl.

Salah satu toko yang menjual berbagai macam produk kaset & CD di  record market merupakan Inal Store. Sang pemilik, Inal (32), mengaku awalnya hanya sekedar iseng mengoleksi berbagai kaset dan CD, namun pada 2013, ia melihat peluang bisnis yang bagus untuk berjualan kaset-kaset lawas.

“Awalnya sih ya iseng-iseng doang koleksi kaset lama, tapi pas tahun 2013 saya pikir-pikir untung juga ya kalo kaset-kasetnya kami jual. Akhirnya, sejak saat itu saya mulai fokus ngerintis toko sampe bisa kayak sekarang,” kata Inal saat diwawancarai Kompas Muda pada Sabtu, (5/10/2019).

Menurut Inal, koleksi kaset yang ada di tokonya cukup lengkap, mulai dari koleksi album Paul Anka & Elvis Presley pada tahun 1950an, hingga album-album terkini seperti HIVI & Payung teduh.

Harganya sendiri bervariasi, mulai dari kisaran Rp 20.000 untuk album lokal, hingga Rp 400.000 untuk album yang cukup langka. Faktor usia, kondisi album, dan kelangkaanya sangat mempengaruhi banderol harga.

Koleksi Kaset yang dijual oleh Inal Store (Foto: Kevin Chandrico Ulaan)

“Kalau semakin tua, semakin langka, nah itu biasanya semakin tinggi juga harganya. Kalau untuk yang paling mahal kita punya album vakansi dari white shoes. Ini harganya Rp 400.000. Bisa mahal begitu karena udah enggak produksi lagi,” katanya.

Namun, menurut Inal, umumnya kaset-kaset tersebut dibanderol dengan harga Rp 30.000 sampai Rp 50.000 rupiah per album.

Vinyl

Selain kaset dan CD, beberapa stand di record market juga ada yang menjual keping-keping Vinyl. Vinyl atau piringan hitam merupakan kaset lawas untuk merekam lagu lagu pada tahun 1900an, diputar dengan alat yang bernama Gramofon. Kini, Vinyl sudah langka keberadaanya sehingga dijadikan bahan buruan untuk para kolektor.

Salah satu toko yang khusus menjual Vinyl adalah Moonship. Berbeda dengan Inal Store, sang pemilik Moonship, Ekel (28) mengatakan, kalau Moonship lebih fokus untuk menjual produk Vinyl ketimbang kaset pita dan CD.

“Kalau kami lebih fokus jual vinyl, soalnya dibanding kaset dan CD, koleksi vinyl tuh lebih asyik. Ya koleksi cd sama kaset juga oke sih, cuma kalo vinyl seni-nya lebih kerasa. Pas hunting (berburu) vinyl yang kita mau, pas dengerin musiknya dari gramofon. Jadi lebih asyik aja gitu,” kata Ekel.

Vinyl yang dijual Moonship pun bervariasi, mulai dari Pop Barat, hingga musik Jepang. Untuk harga dipatok mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 1 juta. Sama seperti kaset lawas, semakin tua dan langka sebuah Vinyl, semakin tinggi harganya.

Suasana keramaian record Market Synchronize 2019. Foto: Kevin Chandrico Ulaan

“Vinyl Miles Davis dan Yoko Ono harganya sekitar 600an, kenapa bisa mahal begini karena mungkin nilai barangnya ya, langka, dan lebih eksklusif. Berasa enak aja gitu untuk dikoleksi, makanya orang banyak yang nyari,” katanya.

Selain Inal store dan Moonship, masih banyak stand-stand yang menjual berbagai macam produk bernuansa musik. Ada Imaginaire, 33RPM, Flexible, dan LaLa.

Tidak hanya record market, di Synchronize juga terdapat clothing area untuk mereka yang ingin berbelanja apparel bertema musik. Produk yang dijual juga bermacam-macam seperti kaus, kemeja, jaket denim, topi bucket, kaus kaki, dan totebag.

Toko-toko yang mengisi stand di record market dan clothing area Synchronize 2019 kebanyakan merupakan brand lokal yang tentu saja tidak kalah saing dengan merek dari luar negeri. Kemeriahan Synchronize tentu saja jauh terasa lebih menyenangkan jika kita membawa pulang cinderamata yang dapat kita beli di toko-toko tersebut.

Sebagai pedagang, Inal dan Ekel, menuturkan akan pentingnya bagi kita generasi muda untuk turut serta mendukung brand lokal dan industri permusikan tanah air yang sedang berkembang pesat. “Ya saya harap sih, yang penting industri permusikan indonesia bisa lebih maju dan lebih baik kedepannya. Tak hanya dari segi panggung dan penampilan, tetapi juga dari segi produk yang bernuansa musik, kata Inal.

Penulis : Kevin Chandrico Ulaan, Siswa SMAN 44 Jakarta, Magangers Kompas Muda Batch XI