MENGENAL SAOBI, PULAU SUBUR DI TIMUR MADURA

0
81

Indonesia, negara kepulauan dengan ribuan pulau terhampar dari ujung timur hingga barat. Salah satu pulau yang memiliki potensi dan kekayaan berupa cagar alam adalah Pulau Saobi yang terdapat dalam Kepulauan Kagean, tertetak di bagian timur Pulau Madura. Tim IMPALA (Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam) Universitas Brawijaya, mendokumentasikan potensi Pulau Saobi dalam program penelitian eksploratif “Brawijaya Saobi Research” yang berlangsung pada 7 – 20 Juli 2019 yang lalu.

Perjalanan yang panjang ditempuh untuk mencapai Pulau Saobi, dimulai dari 6 jam perjalanan dari Malang menuju Sumenep, dilanjutkan dengan 12 jam perjalanan menyebrang ke Kepulauan Kagean. Tidak behenti sampai di situ, berjalan menuju Sungai Batu Guluk dan menyeberangi sungai bak amazon yang bermuara di lautan lepas.

Dari aspek hidup bermasyarakat, penduduk Pulau Saobi yang senang berkumpul dan berbincang santai, hal ini sangat yang jauh berbeda dengan karakter masyarakat pesisir pada umumnya. Persaingan di wilayah ini juga terbilang rendah, salah satu penyebabnya diyakini adalah akses yang cukup sulit untuk mencapai Pulau Saobi. Temuan lain yang didapatkan dari tim “Brawijaya Saobi Research” walaupun dekat dengan laut, air dan sumur di Pulau Saobi nyatanya tawar dan bukan payau.  Berdasarkan penuturan dari masyarakat setempat hal ini dikarenakan lokasi Pulau Saobi dekat dengan hutan, tepatnya Cagar Alam Saobi. Sedikit kontras dengan kondisi air di Pulau Bungin dan Sapapan yang payau layaknya wilayah pesisir lainnya. Bahkan di Pulau Bungin, masyarakat perlu membeli untuk mendapatkan air tawar.

Hewan ternak seperti sapi dan kambing dibiarkan terlepas di jalan-jalan pulau, berbeda dengan masyarakat kota yang cenderung memiliki kandang. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, hal ini didasari oleh keamanan yang terjami di wilayah pulau. Bahkan sepeda motor yang dengan kunci menggantung diyakini tidak akan hilang.  Mata pencaharian sebagian besar masyarakat Pulau Saobi adalah sebagai nelayan tetapi ada juga yang bertani melihat kondisi alam yang cukup subur. Namun, panen hanya terjadi satu tahun sekali, apabila jumlahnya melimpah makan panen akan menjadi persediaan ataupun dijual ke wilayah lain.

Hewan ternak yang dibiarkan lepas di Dusun Laoana

Saobi ditetapkan sebagai cagar alam pada 1926. Namun dengan lemahnya pengawasan, terdapat suatu masa dimana pengambilan kayu dilakukan dengan mudahnya dan liar di Pulau Saobi, sehingga cagar alam Gundul.  Selain itu masyarakat gemar memburu Menjangan yang dianggap sebagai daging terbaik dengan tekstur lembut tanpa bau. Namun peraturan kembali ditegaskan dan dilakukan pengukuran ulang lahan cagar alam dan masyarakat membatasi perburuan Menjangan. Walaupun demikian, masyarakat tetap diperbolehkan melintasi hutan cagar alam. Masyarakat pun lebih sadar akan manfaat hutan, salah satunya sebagai penyedia air bersih.

Potensi alam yang dimiliki Pulau Saobi sayangnya belum diimbangi dengan infrastruktur yang memadai. Observasi tim “Brawijaya Saobi Research” menemukan bahwa belum tersedianya tempat pembuangan sampah, tak heran jika masyarakat membuang sampah di lahan kosong tidak terpakai ataupun ke laut. Di lain sisi, masyarakat sudah bisa mengakses listrik dengan diesel yang umumnya menyala pada pukul 5 sore hingga 5 pagi sehingga pulau ini tidak diselimuti gelap pada saat malam hari. Selain itu juga jalan juga sudah mulai dilakukan perbaikan. Pembangunan infrastruktur ini diyakini berdampak pada perubahan tempat tinggal masyarakat Pulau Saobi yang mulai meninggalkan bentuk rumah panggung. Mulai banyak warga yang membangun rumah dengan batu bata dan semen seperti di perkotaan. Pembangunan rumah pun dapat dilakukan secara mandiri ataupun bersama dengan tetangga. Di wilayah Pulau Saobi tidak ada pasir hitam sehingga untuk membangun rumah atau membuat batu bata menggunakan pasir putih, sedangkan beton fondasi menggunakan batu karang atau batuan dari hutan yang dihancurkan menjadi kerikil.

Warga Pulau Saobi memecah batu untuk fondasi rumah

Pulau Saobi memiliki 2 Sekolah Dasar Negeri, 5 MI, 1 MTS, dan 1 MA. Walaupun Pulau Saobi memiliki akses yang terbatas dan sulit namun semangat anak-anak setempat untuk belajar tidak surut. Banyak yang merantau ke luar pulau dan bersekolah di pondok pesantren atu pendidikan tinggi. Mayoritas mengambil jurusan pendidikan dan kesehatan agar kelak bisa kembali untuk memajukan Pulau tercinta mereka.

Penulis: Nisrina Arifah Hibatullah, Anggota IMPALA Universitas Brawijaya dan Brawijaya Saobir Research