Denyut Betawi di Kampung Sawah

0
89

Gereja Katolik St. Servatius tidak disematkan sebagai gereja Betawi hanya karena ia terletak di wilayah perkampungan Betawi, tapi karena gereja ini masih secara konsisten mendenyutkan kebudayaan Betawi. 

“Siapapun yang datang ke Kampung Sawah, kudu jadi orang Kampung Sawah,” kata Wakil Ketua Dewan Paroki Gereja Kampung Sawah St. Servatius, Matheus Nalih ketika ditemui beberapa waktu lalu di halaman Gereja Katolik St. Servatius. 

Sulit membicarakan gereja yang sudah berdiri sejak abad ke-19 ini tanpa menyertakan tanah di mana gereja tersebut dibangun, yaitu Kampung Sawah, Kota Bekasi, Jawa Barat. Kebudayaan Betawi yang telah dipupuk berabad-abad dan diturunkan dari generasi ke generasi ini memang terlalu kaya untuk dibiarkan hilang begitu saja. 

Bersama dengan 11.860 jemaat lain, pengurus gereja menjaga agar kebudayaan Betawi tetap bisa dilibatkan dalam proses peribadatan sebagaimana hal tersebut telah berlangsung sejak tahun 1896, di mana 18 orang warga Kampung Sawah dibaptis sebagai Katolik oleh Pastor Bernardus Schweitz, SJ. Sebelumnya telah didahului dengan pembatisan enam orang oleh Pastor Schweitz.

Jemaat Gereja Katolik St. Servatius di Kampung Sawah. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Di minggu pertama setiap bulan, masih dapat disaksikan jemaat yang datang untuk beribadah dalam balutan busana khas Betawi. Baju kurung dengan warna terang menyolok dan dipadukan dengan sarung kain batik mengidentitaskan jemaat wanita. 

Baju koko dan kopiah yang erat diasosiasikan dengan agama Islam, sejatinya adalah pakaian adat Betawi. Melihat dulunya kebanyakan masyarakat Betawi merupakan pemeluk agama Islam. Tapi bagi Nalih dan jemaat lain yang telah lama mengenal Kampung Sawah dan kebudayaan Betawi, baju koko dan kopiah tersebut tidak semata mewakili Muslim saja.

“Kata Ridwan Kamil, kopiah itu bukan identitas pria muslim, tapi identitas pria Musantara,” ujarnya sembari membetulkan letak kopiahnya. 

Matheus Nalih, Wakil Ketua Dewan Paroki Gereja Kampung Sawah St. Servatius. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Pengejawantahan lainnya adalah proses peribadatan yang dilakukan dengan menggunakan Bahasa Betawi Kampung Sawah, sesuai dengan yang dilakukan beberapa abad yang lalu. Proses pengembangan budaya Betawi di Gereja Servatius ini sempat mengalami kevakuman lantaran banyak yang meninggalkan. 

Hingga di tahun 1990-an, ia dihidupkan lagi sesuai kesepakatan dan diikuti dengan pembentukan Perkerabatan Santo Servatius pada tanggal 13 Mei 1996, yang terdiri dari 12 bapak dan ibu asli Kampung Sawah. 

Apa yang terjadi di Kampung Sawah selama perkembangannya tidak pernah secara jelas terdokumentasi. Apa yang Nalih berusaha lakukan melalui Gereja Servatius adalah segelintir upaya untuk membuktikan adanya dinamika peradaban.

“ Kami mencoba untuk memahami, mencoba untuk melihat dan mencoba untuk merefleksikan gitu. Apa sih makna dari tradisi, makna dari budaya yang dulu pernah dilakukan oleh para leluhur? Tradisi atau budaya, di mana tempat itu sudah punya kebudayaan, di mana tempat itu sudah punya budayanya tinggi, berarti peradaban sudah terjadi di situ,” papar Nalih. 

Paduan Suara Gerejawi di Gereja Kampung Sawah St. Servatius. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Lagu-lagu gerejawi pun digubah sesuai dengan nada lagu Betawi, yang penampilannya juga diiringi dengan gambang kromong. Seperti karya Marsianus Balita ini, “…darilah Kranggan ke Pasar Kecapi. Cik Abang mampir di Pondok Damai… Rajin sembahyang beramal bakti. Keluarga cik abang rukun dan damai…”

Tradisi lain yang secara konsisten masih dilakukan adalah tradisi “Sedekah Bumi”, yang dulunya dikenal di Kampung Sawah sebagai “Bebaritan”. Sebelum tahun 1936, tradisi ini dilakukan untuk mempersembahkan hasil bumi kepada roh-roh yang dipercaya berkuasa atas Kampung Sawah supaya menjaga keselamatan para warga sekitar. 

Namun, sejak 24 Oktober 1936, Bebaritan mengalami modifikasi dengan bimbingan dari Pastor Oscar Cremers, OFM. Bebaritan menjadi Sedekah Bumi. Dalam Sedekah Bumi, jemaat akan mempersembahkan hasil bumi yang diserahkan kepada Romo untuk kemudian diberkati. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas berhasilnya panen mereka. 

Jemaat Gereja Kampung Sawah St. Servatius mempersembahkan kudapan sebagai pengganti hasil bumi dalam perayaan Sedekah Bumi. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Kini, Sedekah Bumi merupakan satu perayaan yang membawa sukacita dan kegembiraan kepada para jemaat. Hasil bumi tidak lagi menjadi pakem dalam merayakan Sedekah Bumi. Jemaat bisa membawa makanan sesuai dengan tema yang diberikan oleh panitia untuk kemudian diserahkan dan diberkati oleh Romo. 

Nalih mengungkapkan bahwa menjaga budaya Betawi tidak semata dilakukan hanya karena ia memang anak Betawi, tapi karena dirinya percaya bahwa kondisi budaya di suatu wilayah merefleksikan peradaban di mana budaya itu dipelihara.

“Bukan karena saya pribadi adalah anak Betawi, tapi karena saya merasa itu sudah menjadi budaya yang ada sejak lama dan itu sudah sungguh memiliki peradaban, dan itu harus dipertahankan,” pungkasnya kemudian. 

PENULIS: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

FOTO: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita