Tabot, Tradisi Masyarakat Pesisir Bengkulu

0
826

Bengkulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera. Provinsi itu kaya akan budayanya salah satunya adalah Tabot.

Tabot adalah bahasa lokal Bengkulu yang dalam bahasa Indonesia disebut tabut. Tabut sendiri berasal dari istilah At-Tabut yang secara harfiah berarti kotak atau peti.

Tabot merupakan kesenian khas masyarakat Bengkulu yang biasanya dilakukan di pesisir kota Bengkulu dan jaraknya 3,5 kilo meter dari pusat Kota Bengkulu. Perayaan Tabot ini merupakan peringatan atas gugurnya Husain, cucu Nabi Muhammad SAW di padang Karbala (Irak). Tabot dibawa ke Bengkulu oleh bangsa India Manggala pada Tahun 1685.

Perayaan ini dilaksanakan langsung oleh kelompok masyarakat yang dikenal dengan Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) Bengkulu. Dan juga disaksikan oleh masyarakat sekitar dan para wisatawan.

Pada hari pertama, biasanya akan ada prosesi “mengambil tanah” yang akan dipimpin oleh ketua adat. Upacara ini dilakukan mulai pukul 20.00 WIB atau selepas shalat Isya menjelang tanggal 1 Muharram. Tanah di ambil di dua tempat yakni di Pantai Nala dan Tapak Paderi. Prosesi ini dimaksudkan sebagai pengingat manusia akan keberadaannya yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Kedua, upacara sakral Duduk Penja yang dilaksanakan selama dua hari, yakni pada tanggal 4 dan 5 Muharram pada pukul 16.00 WIB. Dan ketiga, upacara Menjara yang dilaksanakan malam hari tanggal 5 dan 6 Muharram mulai pukul 19.30 WIB. Keempat, upacara Arak Jari-Jari dilakukan pada tanggal 7 Muharam pukul 19.30 malam.

Kelima, Hari GAM berlangsung pada tanggal 9 Muharam, dimulai pada pukul 06.00 WIB. Hari GAM berarti tidak boleh ada bunyi – bunyian sama sekali sampai Tabot Naik Pangkek. Dan keenam, Pada pukul 14.00 WIB sesudah shalat Dhuhur tanggal 9 Muharram dilakukan acara Tabot Naik Pangkek.

Ketujuh, Malam Arak Gedang Pada tanggal 9 Muharram pukul 16.00, Pada pukul 19.00 malam harinya Tabot sudah bersanding di tanah lapang, prosesi ini disebut Malam Arak Gedang. Dan kedelapan Tabot bersanding, pada tangal 10 Muharam sebagai puncak prosesi pembuangan Tabot. Setelah itu arak-arakan Tabot menuju komleks pemakaman Kerabela. Biasanya dalam proses ini banyak wisatawan yang ingin melihat proses pembuangan tabot secara langsung dengan berjalan kaki mengikuti arak – arakan.

Tidak hanya ritual Tabot, ada juga berbagai pertunjukan seni, perlombaan tradisional yang akan diikuti oleh sepuluh kabupaten kota se-provinsi Bengkulu. Ada lomba ikan-ikan, lomba telong-telong, perlombaan musik Melayu khas Bengkulu dan perlombaan Kreasi Musik Dol yang terbuat dari kayu dengan dilubangi tengahnya dan kemudian ditutup dengan menggunakan kulit lembu.

Acara tahunan Tabot Bengkulu ini akan kembali digelar pada awal bulan September 2019 di Bengkulu, atau tepatnya dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram dalam kalender Islam.

Anung Rifan Fauzi, mahasiswa Ilmu Komuniklasi Universitas Amikom Yogyakarta