Gerimis, Tim KKN-PPM UGM Pulau Bacan Batal Ikut Apel

0
765

Kuliah Kerja Nyata Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UGM (KKN-PPM UGM) adalah salah satu program yang wajib ditempuh oleh mahasiswa strata pertama UGM. Program wajib ini dilakukan oleh mahasiswa semester enam dari berbagai program studi yang sudah memenuhi 100 sistem kredit semester. Bulan Juni hingga Agustus 2019 nanti, mahasiswa KKN-PPM UGM kembali diterjunkan ke berbagai penjuru wilayah di Indonesia, termasuk di desa Prapakanda dan Tanjung Obit, Kecamatan Batang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Setelah pelepasan pada 28 Juni 2019 yang dilakukan oleh Menteri Kelautan Susi Pujihastuti, sebanyak 30 mahasiswa KKN tim Pulau Bacan berangkat ke desa Prapakanda dan Batang Lomang. Perjalanan ke dua tempat tersebut ditempuh melalui jalur darat, udara, dan laut. Jalur darat ditempuh oleh tim Bacan dengan bus dari Yogyakarta ke Bandara Juanda, Surabaya. Perjalanan dilanjutkan dengan pesawat terbang menuju Ternate selama tiga jam.

Sampai di Ternate, tim Bacan harus menyeberang ke Pulau Labuhan dengan kapal besar selama sembilan jam. Tidak berhenti sampai di situ, untuk menuju desa Prapakanda dan Tanjung Obit masih diperlukan perjalanan laut selama 45 menit dengan kapal yang lebih kecil.

Begitu sampai dermaga desa Tanjung Obit, sambutan warga mulai terasa. Puluhan anak-anak dan beberapa warga desa sudah berjajar sembari melambaikan tangan dengan senyum mengembang menyambut tim KKN Pulau Bacan. Sejumlah 13 mahasiswa desa diturunkan di Tanjung Obit, sementara 17 lainnya terus melanjutkan perjalanan ke desa Prapakanda dengan kapal yang sama. Sambutan serupa juga ditemui di desa Prapakanda.

Senin pagi, tepat 1 Juli 2019, tim KKN Pulau Bacan kembali menuju Labuha untuk mengikuti apel bersama pemda. Apel dilakukan di kantor Bupati Halmahera Selatan, Kapubaten Halmahera. Sejak pukul enam pagi waktu setempat, tim KKN Pulau Bacan sudah berkumpul di dermaga desa Prapakanda.

Dari Prapakanda tim menggunakan bodi, sebutan untuk kapal di Maluku, menuju Tanjung Obit, kemudian ke Labuha. Untuk menuju kantor Bupati, tim KKN Bacan masih harus menggunakan oto, sejenis mikrolet. Oto adalah salah satu angkutan umum jalur darat yang mudah dijumpai di Labuha. Satu kali naik oto biasanya hanya perlu biaya lima ribu rupiah.

Sampai di Kantor Bupati, terlihat aparatur sipil negara sudah mulai menuju lapangan apel dan bersiap mengikuti apel. Tim KKN Pulau Bacanpun dipersilakan menuju lapangan untuk mengikuti apel yang akan segera dimulai. Tim KKN Pulau Bacan yang mengenakan kaos KKN dilapisi almamater berwarna karung goni sudah bersiap menuju tengah lapangan saat rintik gerimis mulai menetes dan semakin deras seketika. Saat itu tim KKN Pulau Bacan diputar arah oleh petugas di Kantor Bupati menuju ke dalam kantor Bupati.

Setelah menyelesaikan beberapa administrasi, tim KKN Bacan menunggu kehadiran bupati. Sembari menunggu di salah satu ruangan di dalam kantor bupati, tim ini baru menyadari bahwa di tengah gerimis yang tidak terlalu lebat para ASN tetap melaksanakan apel. Sementara kami menunggu dan beristirahat di dalam ruangan dan tidak perlu ikut apel di tengah gerimis. Ucap syukur tercermin dari raut muka anggota tim ini yang lebih dulu harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk sampai di Kantor Bupati.

Di ruangan ini, anggota tim KKN yang melihat colokan listrik tanpa pikir panjang langsung mengisi baterai gawai masing-masing karena listrik sangat terbatas di desa Prapakanda dan Tanjung Obit. Beberapa waktu menunggu, tim KKN Pulau Bacan akhirnya bertemu dengan Sekretaris Daerah Halmahera karena saat itu bupati sedang memiliki agenda lain.

Audiensi kemudian dilakukan untuk koordinasi program-program KKN yang akan dilakukan di desa Prapakanda dan Tanjung Obit. Semoga audiensi ini berlanjut dengan kemudahan bagi Tim KKN-PPM UGM untuk belajar memberdayakan masyarakat di desa Prapakanda dan Tanjung Obit.

Aeni Surya Ningsih, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Anggota Tim KKN-PPM UGM Pulau Bacan