Pengendalian Diri, Langkah Awal Mengendalikan Inflasi di Hari Fitri

0
97

Di Indonesia, ada dua waktu pasti inflasi terjadi setiap tahunnya, yaitu saat memasuki bulan suci Ramadhan dan Idul fitri, serta saat akhir dan awal tahun baru.  Pada dua waktu itu, harga-harga barang, terutama barang kebutuhan pokok akan melonjak tajam. Para pedagang akan sangat diuntungkan karena dapat menawarkan barang dengan harga tinggi tanpa takut tidak laku terjual dan sebaliknya, para konsumen akan sangat terbebani, meskipun mereka akan tetap membelinya karena faktor kebutuhan. Fenomena inflasi ini selalu dipastikan terjadi setiap tahun.

Inflasi terjadi karena kenaikan harga pada barang-barang kebutuhan hidup. Nah, harga sendiri akan mengalami lonjakan kenaikan apabila permintaan berubah (meningkat). Permintaan barang-barang kebutuhan pokok sendiri akan naik karena masyarakat akan mengonsumsi barang-barang tersebut berkali-kali lipat lebih banyak dari hari biasa. Mereka biasanya akan mengonsumsi makanan yang lebih bergizi ketimbang hari-hari biasa, ditambah banyak kegiatan ibadah seperti misalnya sedekah dan zakat yang melibatkan barang-barang kebutuhan pokok.

Intinya, ada banyak kegiatan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang melibatkan tambahan permintaan kebutuhan pokok. Naiknya harga ini sering membuat ibu-ibu rumah tangga ngedumel. Tetapi, meskipun harga-harga kebutuhan pokok naik, permintaan akan barang-barang yang naik itu tetap saja tinggi. Pergeseran hukum demand dan supply barang-barang kebutuhan pokok seolah diabaikan. Situasinya berbeda karena harga-harga yang melonjak terjadi akibat pergeseran ke dua sisi, yaitu permintaan dan penawaran. Keduanya naik sehingga membentuk harga dalam keseimbangan baru yang lebih tinggi.

Selain itu, lonjakan permintaan disebabkan bertambahnya pendapatan sebagian besar umat islam di Indonesia menjelang lebaran, entah itu dari tunjangan hari raya (THR), bonus atau tunjangan lain-lain. Kenaikan pendapatan tersebut akan menyebabkan daya beli masyarakat menjadi semakin meningkat. Masyarakat akan lebih banyak melakukan pengeluaran untuk sejumlah kebutuhan di bulan Ramadhan dan hari raya. Kebiasaan semacam ini sudah menjadi gaya hidup sebagian besar umat Islam di Indonesia.

Kebiasaan masyarakat Indonesia menghabiskan uang THRnya untuk membeli berbagai macam barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan

THR yang diberikan kepada para pegawai menjelang hari raya Idul Fitri. THR yang disalurkan biasanya akan dibelanjakan langsung atau dibelanjakan dalam waktu dekat. Jarang sekali ditemukan pegawai yang menerima THR akan menyimpan seluruhnya ke dalam bentuk tabungan. THR yang telah disalurkan tadi kemudian akan menjadi instrumen pembayaran yang berupa jumlah uang beredar.

Pada umumnya, besarnya THR melampaui besarnya penghasilan dalam sebulan. Ini artinya jumlah uang beredar yang meningkat di luar keseimbangan harga dan pada akhirnya akan merubah kurva keseimbangannya menjadi semakin elastis dan harga-harga akan semakin mudah untuk mengalami lonjakan kenaikan. Tingginya peredaran uang tersebut masih ditambahkan lagi dengan dicairkannya sejumlah simpanan bank sebagai bagian untuk mendukung aktivitas konsumsi di bulan Ramadhan dan hari raya.

Salah satu bentuk kebiasaan lain menjelang hari raya adalah kebiasaan untuk pembelian kebutuhan sandang. Bentuknya antara lain berupa pakaian jadi, perangkat beribadah, dan lain sebagainya. Kelebihan pendapatan yang diterima ini akan mendorong masyarakat untuk melakukan pembelanjaan atas sejumlah barang-barang tersier. Oleh karena itulah di masa-masa yang berdekatan itu, hampir sebagian besar sektor di sisi penawaran akan terdongkrak aktivitasnya untuk melakukan penyerapan sisi permintaan.

Kebiasaan masyarakat Indonesia menghabiskan uang THRnya untuk membeli berbagai macam barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Itulah yang menjadi penyebab inflasi pada bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Inflasi ini sudah menjadi tradisi menahun dan kebiasaan menjelang hari raya.

Tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, salah satu hal yang menjadi keunikan rakyat Indonesia adalah, seberapa tinggi pun kenaikan harga barang barang yang disebabkan oleh inflasi di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, mereka tetap akan membelinya. Meskipun tak dapat dipungkiri, bahwa Ramadhan ialah bulan yang penuh berkah, karena sebagian orang merasakan bahwa rezeki mereka selalu ada dibandingkan dengan bulan bulan lain di luar Ramadhan, ketika mereka ingin membeli barang ini itu tapi tidak ada uang. Sedangkan pada Ramadhan mereka selalu dapat membeli apa yang mereka inginkan.

Lalu ketika terjadi inflasi di bulan Ramadhan, apa yang pemerintah lakukan? Pemerintah memiliki kewajiban utama untuk melakukan stabilisasi harga. Stabilisasi ini akan dilakukan apabila ditemukan ketidakwajaran di luar perilaku harga pada kondisi normal. Di Indonesia, masalah stabilisasi harga di masa bulan suci Ramadhan dan Lebaran bukanlah persoalan yang sederhana.

Kebijakan perekonomian yang berorientasi pada pertumbuhan lebih menitikberatkan untuk mendorong sisi permintaan, sehingga semakin membentuk gaya hidup yang cenderung konsumtif di masyarakat. Dengan kewenangan yang dimilikinya, pemerintah seharusnya punya kewenangan penuh untuk mengendalikan harga dari ketidakwajaran.

Bijak dalam belanja 

Sedangkan untuk diri kita sendiri, bagaimana sikap seharusnya dalam menghadapi inflasi yang selalu terjadi? Caranya mudah, kita hanya harus mempergunakanlah uang yang kita miliki dengan bijak. Kita harus bisa mengatur pengeluaran dengan bijaksana. Kita juga harus bisa memisahkan daftar barang mana saja yang memang kita butuhkan dan mana yang hanya kita inginkan.

Manfaatkan kelebihan rezeki dengan menabung atau beramal kepada masyarakat yang membutuhkan, ketimbang membelanjakan

Saran itu karena jika kita resapi, Idul Fitri hakikatnya bukan untuk menjadi ajang pamer dan berfoya-foya, tapi sebagai hari dimana kita terlahir menjadi pribadi yang lebih baik setelah sebulan penuh berhasil mengendalikan diri segala jenis hawa nafsu duniawi. Jika hari yang suci itu diwarnai dengan bermewah-mewahan dengan segala macam barang yang tidak terlalu penting, bukankah akan sangat disayangkan?

Kita kehilangan makna dari perayaan Idul Fitri yang sebenarnya. Oleh sebab itu, mari jalani Ramadhan dan Idul Fitri dengan sederhana. Manfaatkan kelebihan rezeki dengan menabung atau beramal kepada masyarakat yang membutuhkan, ketimbang membelanjakannya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Jadilah masyarakat yang cerdas. Kelolalah uang yang kita miliki sebaik mungkin tanpa mengurangi kekhusyukan Ramadhan dan kemeriahan hari Idul Fitri yang akan segera tiba. Marhaban Ya Ramadhan.

Novita Kusuma Wardhani, mahasiswa DIII Akuntansi Alih Program Politeknik Keungan Negara – Sekolah Tinggi Akuntasi Negara