Wanita Kartini Zaman Now

0
129

Tanggal 21 April 2019 lalu bangsa kita memperingati Hari Kartini. Peringatan yang merupakan wujud penghormatan kepada lahirnya pejuang wanita bangsa Indonesia, Raden Ajeng Kartini. R.A. Kartini saat itu hidup dalam budaya masyarakat yang masih memandang rendah wanita. Namun, dengan kegigihan dan keberanian, R.A. Kartini berani berpendapat dengan lantangnya.

Ia berusaha mendobrak budaya yang ada pada masyarakat mengenai paradigma bahwa wanita hanya boleh di dalam rumah, mencuci, memasak dan melakukan kegiatan rumah tangga lainnya. R.A. Kartini memperjuangkan hak para wanita untuk turut berpartisipasi dalam menjelajah dan membuka jendela dunia.

Dengan semangatnya yang berkobar, R.A. Kartini juga menyalurkan pendapatnya melalui R.A Kartini sebagai pejuang wanita Indonesia berkeinginan untuk mendapat kebebasan bagi wanita-wanita. Namun, bukan berarti juga kita lantas bisa melakukan segala hal dengan keinginan kita tanpa melihat kodrat sebagai wanita, yang sepantasnya memiliki tata bahasa, tata krama dan sopan santun yang harus tetap kita jaga sekalipun sudah di zaman teknologi seperti sekarang.

Tata krama seorang wanita dapat dilihat dari berbagai aspek. Baik itu berpakaian, berperilaku, berpikir dan berucap. Dalam soal berpakaian wanita zaman kini tak perlu  harus menggunakan pakaian seperti zaman dahulu, kain panjang dan kebaya, namun, kita tetap harus menjunjung kesopanan. Seperti tidak menggunakan pakaian yang terlalu terbuka. Untuk muslimah, tentu menggunakan pakaian menutup aurat.

Jaga ucapan dan perilaku 

Tata krama selanjutnya dalam hal berbicara. Banyak didapatkan pada zaman sekarang, wanita yang dengan mudahnya mengucapkan kata-kata jorok, kasar baik di media sosial maupun kehidupan nyata. Benar, R.A Kartini mengajarkan agar wanita berani membela haknya walaupun kepada pria. Namun, tentu dia tidak mengajarkan kita untuk ngotot dan melupakan tata krama. Dengan lemah lembut dan kesabaran, masalah akan mudah diselesaikan dengan perdamaian.

Lalu, tata krama berikutnya adalah kepada orang yang lebih tua. Sungguh miris, banyak kita jumpai di luar sana anak perempuan yang berlaku dan bertutur kata seenaknya pada ibu atau ayah mereka. Dengan berkembangnya tekhnologi, banyak ditemukan kasus anak yang tidak mempedulikan orang tua karena si anak sibuk bermain gadget.

Sangat disayangkan, teknologi justru memperburuk perilaku banyak anak kepada orang tua mereka. Tata krama saat bertemu orang yang lebih tua juga mulai menurun. Padahal, dahulu masyarakat Indonesia terutama kaum wanita merasa sungkan dan amat menjaga kesopanan kepada orang yang lebih tua. Semoga hal itu dapat diperbaiki kedepannya.

Oleh karena itu, wanita Indonesia harus terus bangkit dan jangan terima bila dianggap lemah oleh orang lain. Namun, wanita tetap harus menjunjung tinggi tata krama sehingga dapat seimbang. Wanita kartini harus semangat dan mengingat perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak wanita Indonesia. Wanita Indonesia seharusnya berprestasi sehingga dapat membawa nama baik Indonesia, terutama bagi wanita muda penerus bangsa. Hidup wanita Indonesia!

Nur Alma Aulia, pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang