Penyetaraan Perempuan-Lelaki. Penting Apa Enggak Sih?

0
619

Perempuan adalah manusia kedua yang diciptakan oleh Tuhan. Keberadaan gender ini bertujuan sebagai sebuah pelengkap dari gender yang berbeda. Gender yang diperuntukan untuk melengkapi seorang lelaki yang kesepian bernama Adam di dalam Taman Eden.

Lelaki yang kesepian itu memiliki tujuan dalam hidupnya di bumi yaitu untuk memenuhi bumi dengan populasi manusia, beranak cucu yang jelas tidak bisa dilakukan apabila diirnya hanya seorang diri. Maka dari itu, Tuhan yang maha kasih menciptakan seorang perempuan bernama Hawa.

Semenjak berawalnya umat manusia di bumi, Adam dan Hawa telah melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan oleh Tuhan peciptanya. Seperti memakan buah apel dari Pohon Pengetahuan yang membuat mereka dapat membedakan baik dan buruk, membuat mereka menyerupai Tuhan mereka yang memiliki sifat tersebut.

Manusia yang diciptakan oleh Tuhan sekian rupa pun dapat berbuat kesalahan, seperti Hawa yang tergoda ular akan rayuannya untuk menjadi seperti Allahnya. Padahal karya Allah akan umat manusia sudah menjadi yang terbaik, tanpa noda, akan tetapi banyak godaan di dalam kehidupan manusia yang tidak dapat dipungkiri.

Semakin berjalannya waktu, manusia semakin banyak berbuat dosa. Kesalahan-kesalahan yang tidak dikehendaki Tuhan mereka dan terus-menerus memancing agar mereka dapat serupa dengan Allah. Hubungan sosial antar manusia memicu mereka untuk menjadi lebih baik dari yang lainnya, membangun pemikiran bahwa manusia dapat hidup sendiri tanpa kekuatan lain. Pemikiran ini pula yang membentuk perseteruan gender, jika dibayangkan, Tuhan yang maha besar pun dilawan, apalagi sesama manusia yang dapat dilihat dan mudah dihantam? Seperti seorang perempuan.

Kondisi dimana perempuan dibedakan dari kaum laki-laki, tidak dianggap memiliki standar yang setara dan kualitas yang sama dengan laki-laki. Padahal dari awal sejarah telah mencatat meskipun Perempuan terlahir sebagai manusia kedua yang diciptakan, tetapi, tanpa perempuan, lelaki tidak dapat melanjutkan tujuannya dalam dunia boro-boro beranak cucu.

pemikiran sempit akan perbedaan kesetaraan gender ini masih sering dialami dalam kehidupan manusia sehari-hari

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak dan standar yang sama. Meskipun begitu, pemikiran sempit akan perbedaan kesetaraan gender ini masih sering dialami dalam kehidupan manusia sehari-hari. Masih banyak lelaki di luar sana yang menggangap bahwa perempuan adalah gender yang lemah dan hanya dapat berdiam di dapur memasak untuk suaminya ketika ia pulang dari pekerjaannya yang menekan.

Setiap individu memiliki kualitas yang berbeda dan tidak dapat dibedakan dari gender yang dimilikinya. Setiap individu memiliki sifat baik dan buruk, sifat baik untuk dipelihara dan sifat buruk untuk dikurangi. Dalam hal pekerjaan misalnya, perempuan memiliki stigma positif akan seseorang yang lebih detail dalam perhitungan dari lelaki sedangkan lelaki memiliki stigma positif akan pembacaan peta yang baik.

Stigma seperti itu mungkin dapat disimpan sebagai pengetahuan individu, akan tetapi bukan berarti semua perempuan atau laki-laki mampu dengan baik dalam menghadapi topik-topik yang dicontohkan diatas.

Selain itu, yang lebih menjadi masalah adalah stigma negatif, dimana laki-laki dianggap macho dan keren apabila ia memiliki sifat negatif seperti dapat mendekati banyak wanita dalam waktu yang sama atau apabila mereka memiliki sifat yang adiktif terhadap merokok. Sedangkan perempuan yang merokok dianggap sebagai seseorang yang tidak benar untuk memiliki ketergantungan yang sama dengan laki-laki.

Menulis hal seperti ini bukan berarti seorang perempuan seperti saya, mendukung seorang perempuan yang merokok, akan tetapi saya seratus persen mendukung penyetaraan gender dalam kehidupan sosial yang terus dan terus berjalan.

Setiap hal negatif adalah hal yang tidak patut dicontoh dan tidak dapat dibedakan akan perbedaan gender yang tidak dapat manusia pilih ketika dilahirkan ke dalam dunia. Hal ini adalah yang seharusnya dihindari bagi pemikiran manusia yang terlahir dan hidup dalam dunia millennial ini, setiap aksi negatif, tidak dibedakan dalam gender lelaki dan perempuan memiliki konotasi yang sama yaitu negatif.

Baik juga dengan hal positif yang dilakukan gender manapun memiliki arti dan konotasi yang sama. Perempuan dan laki-laki adalah individu yang memiliki nilai yang sama dan kualitas mereka pun harus dinilai dari setiap pribadi dan bukan berdasarkan gender yang mereka miliki.

Abigail Aurellia, Magangers Kompas Muda Harian Kompas