Retno Marsudi: Diplomasi adalah Seni

0
603

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, hadir dalam sebuah talkshow, Sabtu (14/7/2018), di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 63 tahun Konferensi Asia Afrika.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Menlu memasuki ruangan dan memulai talkshow. Talkshow dibuka dengan cerita Retno mengenai kesan pertamanya makan seblak di Bandung. Beliau ternyata menyukai makanan tersebut meskipun awalnya bingung melihat kerupuk yang dimasak dengan cara berbeda. Ternyata, ia sosok yang humoris MuDaers!

Setelah itu, ia  membahas  sejumlah aksi sosial yang ia lakukan bersama para diplomat seperti pembangunan jembatan yang diberi nama “Jembatan Diplomasi” di Garut, Jawa Barat. Jembatan tersebut dibangun dari hasil penggalangan dana perkumpulan diplomat di Jakarta.

Sebelumnya, jembatan itu ambruk akibat bencana tanah longsor dan kenaikan air sungai setinggi 30 meter. Warga di dua kecamatan di mana jembatan itu berada pun tidak bisa melakukan mobilisasi dan silaturahmi. Retno meyakini tingkat silaturahmi yang rendah, dapat memicu gesekan antar warga. Karena itu, jembatan itu dibangun kembali.

Retno juga mengatakan bahwa jembatan ini sangat mampu merepresentasikan arti diplomasi yang seringkali dipakai untuk menjembatani berbagai perbedaan pendapat untuk menghindari konflik.

Kegiatan amal yang dilakukan oleh para diplomat tersebut juga mampu membantah kesan elite diplomat. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan diplomat semata-mata juga untuk kepentingan rakyat meskipun pekerjaan mengharuskan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Diplomat bukan pekerjaan “di awang-awang” melainkan memahami permasalahan nyata rakyat dan memperjuangkannya di taraf internasional.

Siaga 24 Jam

Selain membahas mengenai kegiatan amal, talkshow tersebut juga membahas mengenai kesetaraan gender di Kementrian Luar Negeri. Sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai Mentri Luar Negeri Republik Indonesia, ia mengatakan bahwa gender sama sekali tidak menjadi persoalan. Sebanyak kurang lebih 50% diplomat baru di Kementrian Luar Negeri adalah wanita. Prestasi mereka pun gemilang yaitu tujuh dari sepuluh nilai terbaik diraih oleh wanita.

Saat Indonesia tertidur, Amerika baru saja terbangun

Namun, Retno juga mengungkapkan bahwa diplomat yang identik dengan pria ada benarnya. Mengapa demikian? Karena pekerjaan diplomat sangat menyita waktu. Ia mengatakan bahwa ia harus siaga selama 24 jam dalam tujuh hari bahkan selalu tertidur di samping gawainya. Hal tersebut ia lakukan karena “saat Indonesia tertidur, Amerika baru saja terbangun”. Jadi, selalu saja ada kabar yang masuk setiap jam terutama bila sedang terjadi krisis.

Fokus politik luar negeri Indonesia saat ini salah satunya adalah perlindungan WNI, karena hal tersebut, Retno sering mendapatkan pesan berisi permohonan bantuan untuk menemukan WNI yang hilang atau diculik. Meskipun dengan informasi yang sangat terbatas, ia langsung mengerahkan timnya untuk melakukan investigasi terkait isu tersebut.

Sebagai seorang wanita, terutama sudah berkeluarga, tentu sulit membagi waktu antara kewajiban pekerjaan dan keluarga. Hal itu juga yang membuat pria terkesan lebih fleksibel jika menjadi seorang diplomat. Namun, Retno membuktikan bahwa ia tetap bisa melakukan tanggung jawabnya dengan maksimal juga seimbang. Baginya, diplomasi tetap membutuhkan peran wanita karena diplomasi adalah seni. Meskipun banyak menggunakan logika, perasaan juga sangat diperlukan dalam menjalankan tugas sebagai seorang diplomat.

Salah satu kemampuan yang harus dimiliki seorang diplomat adalah kemampuan untuk peduli terhadap sekitar. Seorang diplomat harus mampu turut merasakan posisi rakyat dari berbagai kalangan serta peka terhadap situasi sehingga dapat menanggapi dan menjawab kebutuhan Indonesia di kancah internasional.

Menanggapi isu hangat saat ini yaitu terpilihnya Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Retno bercerita mengenai perjuangan ia dan tim selama kurang lebih dua tahun untuk memperjuangkan hal ini. Tim melakukan lobi dan kampanye dan memaksimalkan relasi mereka agar Indonesia bisa kembali terpilih menjadi anggota tidak tepat DK PBB.

Retno menyatakan bahwa rekam jejak menjadi faktor penting dipertimbangkannya Indonesia untuk kembali bergabung. Peristiwa yang menjadi tonggak tersebut salah satunya adalah Konferensi Asia Afrika. Berkat KAA, Indonesia dipandang sebagai negara yang mampu menggerakkan negara dunia ketiga yang notabene baru merdeka untuk berdiri di atas kaki sendiri dan tidak digunakan alat kepentingan negara maju lain.

Hal tersebut menjadi “rapor hijau” yang melancarkan Indonesia menuju keberhasilan misi tersebut dengan perolehan suara 144 dari 193 total suara. Selain itu, Indonesia juga dipandang memiliki modal kuat seperti populasi yang tinggi, demokrasi yang berhasil, serta keberagaman tinggi yang diimbangi dengan toleransi yang tinggi pula.

Nah, MuDaers, sangat menarik bukan pembicaraan dengan Ibu Menlu kita? Beliau sangat ramah dan rendah hati loh! Ia bersedia menjawab pertanyaan ringan dan memberikan jawaban layaknya orangtua, tidak melulu sebagai pejabat negara.