Medali Untuk Negeri

0
562

Sejumlah anak muda Indonesia mencatat prestasi internasional pada awal tahun 2018 ini. Ada yang memenangi lomba inovasi, olimpiade, menyanyi, dan mendesain medali.

Salah satu siswa yang meraih penghargaan internasional adalah Ferris Prima Nugraha (17), pelajar kelas XII IPA SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang. Ferris meraih medali emas dari Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) 2017 yang diselenggarakan di Yogyakarta, Juli 2017. Pencapaian itu merupakan langkah terbaiknya setelah beberapa bulan sebelumnya, Ferris meraih medali perak pada Olimpiade Fisika Asia ke-18 di Yakutsk, Rusia.

”Sewaktu kelas X, saya sudah ikut kompetisi Olimpiade Fisika Asia tahun 2016 di Hong Kong. Saya bersyukur, walaupun saat itu baru meraih medali perunggu,” kata Ferris ditemui di sekolahnya, Rabu (21/2).

Keberhasilan Ferris merupakan buah ketekunannya belajar dalam program kelas brilian di sekolahnya. Tentu saja, prestasinya ini membanggakan. Bukan hanya untuk sekolahnya, melainkan juga lebih untuk bangsa Indonesia.

Selain Ferris, SMAK BPK Penabur bertaburan anak-anak muda yang memiliki tingkat kecerdasan di bidang sains. Sepanjang tahun 2017 beberapa siswa membawa bendera Indonesia di kancah olimpiade sains internasional. Mereka di antaranya Mario Lorenzo meraih medali perak di Olimpiade Kimia Internasional (IchO) di Thailand, Otto Alexander meraih medali perak di Olimpiade Matematika Internasional di Brasil. Ada juga Agnes Nathasya, pelajar Satuan Pendidikan Kerja Sama SMAK Penabur Kelapa Gading, yang meraih medali emas di Olimpiade Biologi Internasional (IBO) 2017 di Inggris.

Ferris merasakan keseruan, sekaligus ketegangan saat berhadapan dengan peserta dari 80 negara. Setiap negara mengirimkan lima delegasi sehingga kompetisi berlangsung ketat. Artinya, Ferris yang merasa berjuang di kandang sendiri tidak ingin tampil memalukan di depan peserta lain.

Perjalanan Ferris menuju kemenangan sangat panjang. Dia memulai dengan berkompetisi di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Kemudian, pemenang harus menjalani tiga tahap pelatihan nasional untuk diseleksi, dari 30 pelajar peraih medali menjadi tersisa 5 orang. Setiap masa pelatnas berlangsung satu bulan.

Ferris Prima Nugraha, pelajar SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, meraih emas dalam Olimpiade Fisika Internasional 2017. Foto: Stefanus Osa/Kompas

Ferris merasa beruntung bisa menyukai fisika yang selama ini menjadi momok bagi sebagian besar orang. Justru, kompetisi fisika ini menunjukkan, fisika bukan sekadar teori, melainkan juga eksperimen, seperti mengambil data, menggambar grafik, ataupun membuktikan teori-teori fisika.

”Kebanyakan orang belajar fisika memang cenderung hanya menghafal rumus, tetapi belum sampai pada memahami makna atau esensinya. Padahal, saya sebetulnya hanya mengerti prinsipnya, tetapi turunan-turunannya itu yang bikin menarik. Sebenarnya, pola pikir memahami turunan inilah yang harus dibangun. Itulah pola pikir kreatif,” kata Ferris yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Bagi Ferris, kemenangannya bukanlah diraih oleh kemampuan atau kecerdasannya sendiri. Banyak orang sudah berjasa, mulai dari guru, teman-teman, hingga para alumnus peraih medali di IPhO. Foto kemenangan mereka pun dipajang di sekolah.

Bidang seni

Kabar baik antara lain datang dari Muhamad Farid Husen, siswa SMAN 1 Ponorogo, Jawa Timur. Anak muda berusia 18 tahun itu dinyatakan sebagai pemenang lomba desain medali Olimpiade Pemuda Musim Panas Buenos Aires 2018. Desainnya yang berjudul ”Firework of Victory” menyisihkan sekitar 300 desain lain dari banyak negara. Desain itu dianggap energik dan unik dibandingkan desain lainnya. Dengan kemenangan itu, Farid diundang menyaksikan Olimpiade Pemuda yang akan digelar pada Oktober 2018 di Buenos Aires, Argentina.

Tim SMAN 3 Denpasar, Bali, memenangi kompetisi penelitian tingkat internasional di Bangkok 2018. Foto: Kompas/Soelastri Soekirno

Kabar gembira juga datang dari SMAN 3 Denpasar, Bali. Awal Februari ini enam tim sekolah itu memenangi kompetisi Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition di Bangkok. Kompetisi itu diadakan setiap tahun pada tiap Day Investor di Thailand. Tahun ini peserta kompetisi dan pameran inovasi berasal dari 26 negara di Eropa dan Asia.

Dari 6 tim, 4 tim meraih medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Peraih emas adalah tim yang terdiri dari Nyoman Gede Tryadhi Putra Setiawan, Cokorda Istri Mega Wulandari, Ni Luh Putu Hardy Lestari, dan Ni Komang Yuko Utami. Mereka merebut medali emas lewat inovasi membuat lengis melah (minyak baik). Minyak itu berbahan minyak kelapa murni (VCO) dicampur dengan minyak nilam.

Tim lain, tim pembuat biokomposit terdiri dari I Nyoman Aris Suardana dan I Gusti Agung Ayu Deshinta Linggarcani. Biokomposit untuk bahan pengganti kayu, misalnya untuk membuat perkakas meja-kursi dibuat dari sampah daun di sekolah dicampur kulit singkong.

Dua tim lain, I Gede Guntur Saputra, Ni Luh Putu Pranadhia Sutari, Made Ayu Kirana Astra, Ni Luh Wayan Putri Dewi Angelina, dan Ni Made Ayu Regina Karasugi, membuat superkapasitor, yakni alat penyimpan daya listrik yang lebih tinggi daripada daya yang ada pada baterai.

Adapun Tim Rup-Zone terdiri dari Sophia Kardiana Bertha dan Ayu Laksmi Subadra. Dua cewek itu membuat mainan edukasi, seperti jungkat-jungkit untuk membuat orang senang membuang sampah pada tempatnya.

Kakak beradik, Putu Yasodhara Shita Brahmani Duarsa (kelas XII IPA) dan Putri Yasuda Maharani Duarsa (kelas X IPA) menemukan obat antibiotik dari dedaunan yang berada di rumahnya. Tim tersebut meraih medali perak, lalu Luh Putu Mia Wijayanti meneliti tentang penurunan pemakaian bahasa Bali di kalangan masyarakat mendapat medali perunggu.

Kerja keras dan prestasi mereka patut mendapat apresiasi karena mereka meneliti dengan biaya sendiri. Tak hanya itu, setelah melakukan penelitian hingga membuat mereka sering berada di sekolah atau rumah salah satu anggota tim sampai malam hari, para siswa harus menanggung sendiri biaya keberangkatan ke Bangkok.

Enam tim terdiri atas 13 siswa, tetapi 3 siswa tak berangkat karena kesulitan biaya yang mencapai lebih dari Rp 5 juta per orang. Tryadi, siswa kelas XII IPS yang ditemui di sekolahnya, Senin (19/2), menyampaikan rasa senangnya bisa memenangi kompetisi tersebut.

”Ketika diumumkan menang, rasa hati biasa saja, tetapi saat naik ke panggung untuk menerima medali emas sembari membawa sang Saka Merah Putih, rasanya luar biasa senang dan bangga,” katanya.

Lomba menyanyi

Tarisa Galih Charity, siswa kelas II IPA SMA Negeri 11 Yogyakarta, juga mencatat prestasi gemilang di ajang internasional. Ia menyabet medali emas pada Asia Pacific Arts Festival (APAF): Festival for Peace 2018 untuk kategori solo vokal pada Januari lalu.

Tarisa, biasa dipanggil Icha, mengalahkan lebih dari 100 peserta dari sekitar 10 negara se-Asia Pasifik, seperti Jepang, Singapura, Hong Kong, Kazakhstan, dan Filipina. Icha mengaku tidak menyangka bakal menang di ajang itu. ”Peserta dari Indonesia saja sudah banyak, belum dari negara lain, pokoknya banyak sekali karena ada berbagai kategori, ada solo vokal, seriosa, dan lainnya,” kata gadis berusia 16 tahun itu.

Dalam daftar nama peserta lomba, peserta dari Indonesia tak kurang dari 40 orang dari Banjarmasin, Jakarta, Serpong (Banten), Karawaci (Banten), Yogyakarta, Palembang, dan lainnya. Kompetisi diadakan pada 26-29 Januari lalu. ”Aku grogi sekali waktu di belakang panggung sampai perut mual seperti mau muntah,” kata Icha.

Maklum, itu pertama kali ia ikut lomba menyanyi tingkat internasional. Beruntung ketika sudah di atas panggung, rasa grogi hilang sendiri. Ia lancar menyanyikan lagu berjudul ”Dear Dream” yang di alihbahasakan dari lagu berjudul ”Janji untuk Mimpi” karya Erwin Gutawa.

Keikutsertaan Icha ke kompetisi yang sudah diadakan lima kali itu berawal dari penunjukan dirinya oleh lembaga tempat kursus menyanyi, Sekolah Musik Purwatjaraka Yogyakarta. Sebenarnya, ia baru empat bulan berlatih vokal di sana, tetapi ia sering diminta tampil menyanyi acara di mal dan sekolah.

”Dibayar kue saja he-he,” katanya. Untuk persiapan ikut APAF, Icha berlatih menyanyi selama sebulan di bawah bimbingan guru vokalnya, Justina.

Kesukaan Icha menyanyi sesuai dengan hobi ayahnya, Mudrajad Kuncoro, pengajar Fakultas Ekonomi UGM, dan ibunya, Erlina Juwita. Keluarga ini punya kebiasaan rutin, yakni karaoke bersama-sama.