Pengalaman Tak Ternilai dari World Scholar’s Cup

0
454

Keikutsertaan generasi muda untuk mengikuti ajang kompetisi tingkat dunia tentu menjadi pengalaman yang tak ternilai dan tak terlupakan. Mulai dari persiapan untuk bersaing di tingkat nasional sampai kemudian bisa masuk ke kompetisi internasional. Perasaan membanggakan itulah yang dirasakan siswa Sekolah Lentera Indonesia, Jakarta yang mengikuti ajang World Scholar’s Cup di babak Tournament of Champions di Yale University, Amerika Serikat

WSC adalah ajang kompetisi tingkat dunia dengan empat kategori kompetisi, yaitu Debate, Writing, Scholar’s Challenge, dan Scholar’s Bowl. Setiap tim dari berbagai sekolah yang berasal dari 50 negara wajib mengirimkan tiga orang peserta yang akan diikutsertakan dalam empat area kompetisi tersebut.

Gabrielle Petra Adamma, siswa SLI kelas X, mengatakan di kompetisi ToC meski para peserta mempunyai pengetahuan dengan kurikulum yang berbda dari berbagai negara, kompetisi terasa menyenangkan. “Kalau dibandingkan dengan kompetisi tingkat regional dan nasional di Jakarta, pastinya lebih berat. Meski begitu, kami termotivasi untuk melakukan yang terbaik,” kata Gabrielle yang mendapat penghargaan sembilan medali emas dan 4 medali perak.

Kompetisi tahun ini bukan yang pertama bagi Gabrielle. Tahun lalu, dia juga mengikuti ajang yang sama. “Tekanannya memang lebih tinggi. Sebagai siswa yang pernah mengikuti kompetisi ini, kami harus menjadi yang terbaik,” katanya.

Selain Gabrielle, ada tiga siswa lainnya dari SLI yang mengikuti ToC, yaitu Shin So Jung yang mendapat 13 medali emas, Josephine Davina Kairupan (tiga medali emas, empat medali perak) dan Grace Lim (tujuh medali emas dan enam medali perak). Selain itu, SLI juga mendapat Top 6 In The World, Top 2 In South East Asia, Top 9 Challenge Teams dan Top 8 Scholar’s Bowl.

Sementara itu, So-jung merasa mendapat banyak inspirasi saat mengikuti kompetisi di Amerika Serikat. “Sebenarnya, saya tidak yakin. Tetapi setelah mengikuti semua ini, saya merasa orang yang bisa beradaptasi dengan cepat. Saya bisa bertahan dengan tidur selama 3 sampai 5 jam, selama dua minggu ini,” kata So-jung yang awalnya harus berjuang untuk mendapat ijin orang tuanya.

Di tengah persiapan mengikuti kompetisi, Gabrielle dan So-jung juga mengurusi SLI Carnival. “Saya berusaha selalu berpikir positif, supaya keduanya, persiapan ToC dan SLI Carnoival bisa berjalan dengan baik. Pokooknya, harus bebas stres,” katanya.

Sedangkan, So-jung mengandalkan manajemen waktu untuk bisa membagi waktu mengurusi dua hal yang penting. “Manajemen waktu. Gila, pastinya. Satu hal yang saya pegang, dedikasi. Saya kira banyak yang saya korbankan, terutama kesehatan. Saya mencurahkan semua tenaga untuk dua ToC sekaligus, SLI Carnival, tetapui saya juga harus mempunyai waktu untuk istirahat,” kata So-jung.

Semua pengalaman pasti akan sangat berguna untuk masa depan. Jadi, jangan ragu untuk mengis lebih banyak pengalaman di saat masih muda.