Enam Hal yang Bikin Kita Keren Saat Mengunjungi Pameran Seni

0
867

Ada perkembangan yang sangat menggembirakan dalam dunia seni rupa beberapa tahun terakhir. Minat masyarakat untuk mengunjungi berbagai pameran seni rupa meningkat pesat seiring mudahnya informasi diperoleh dari berbagai media massa dan media sosial beberapa tahun–setidaknya empat sampai lima tahun-belakangan. Tahun-tahun sebelumnya, pameran seni rupa cenderung hanya dikunjungi oleh segelintir orang yang itu-itu saja. Umumnya mereka adalah kolektor, pemilik galeri, seniman, penulis seni budaya, atau pencinta seni yang kebanyakan sudah saling mengenal satu sama lain.

Sayangnya, antusiasme datang ke pameran kerap tak dibarengi dengan informasi yang memadai tentang apa dan bagaimana etika yang sebaiknya diterapkan kala mengunjungi sebuah pameran. Kompas MuDA bersama tim Jakarta Biennale 2017 mencoba kasih tau MuDAers nih  hal yang mungkin perlu diketahui dan dilakukan kala berkunjung ke sebuah pameran supaya kunjungan kita lebih berkesan dan tak mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Siapa tahu, sehabis membaca artikel ini, MuDAers “mampir” ke Jakarta Biennale yang digelar sampai 10 Desember 2017 bisa langsung mempraktekkan hal ini atau bahkan mengingatkan pengunjung lain.

  1. Pelankan suara. Kita tak sedang naik roller coaster.

Kecuali sedang digunakan untuk ruang diskusi atau menonton performans seniman, ruang pamer tentu saja bukan tempat yang tepat untuk berbincang-bincang, apalagi dalam volume suara yang keras. Boleh saja berbincang mendiskusikan karya seni, tapi pastikan volume suara tak mengganggu pengunjung lain yang tengah menyimak karya-karya yang dipamerkan.

2. Boleh memotret, tapi jangan gunakan lampu kilat

 

Bila tak ada larangan resmi dari penyelenggara pameran, umumnya pengunjung boleh saja mengambil gambar di dalam ruang pameran. Hanya saja, sebaiknya hindari pemakaian lampu kilat. Karena kilatan lampu dalam intensitas yang sangat tinggi akan bisa merusak karya seni seperti lukisan. Lampu kilat juga akan mengganggu kenyamanan pengunjung lain yang tengah melihat pameran. Namun tak hanya lampu kilat saja yang dapat mengganggu. Aktivitas berfoto yang terlalu heboh juga akan mengganggu pengunjung lain. Jadi, tahan diri untuk tak berlebihan menggunakan kamera di dalam ruang pameran. Kita berkunjung ke sebuah pameran untuk melihat dan mengapresiasi karya seni dan bukan hanya untuk berfoto-foto saja, bukan?

3. Jaga jarak dengan karya seni, jangan menyentuhnya kecuali itu memang karya interaktif

Seorang teman yang menjadi panitia penyelenggara sebuah biennale keramik pernah bercerita bahwa di ujung penyelenggaraan pameran keramik dua tahunan itu, ada beberapa karya yang pecah akibat tersenggol pengunjung yang asyik berfoto bersama teman-temannya di sekitar karya tersebut. Di beberapa museum, biasanya diletakkan tali pengaman di sekitar karya. Namun dalam pameran, pemasangan tali seperti ini cenderung jarang dilakukan karena akan merusak tampilan visual karya tersebut secara keseluruhan. Alih-alih  memberi tali pengaman di sekeliling karya, akan lebih baik bila kita, sebagai pengunjung memiliki kesadaran untuk menjaga jarak dan mendisiplinkan diri untuk sama sekali tidak menyentuh karya apa pun –kecuali karya itu memang dibuat sebagai sebuah karya interaktif yang boleh disentuh- supaya kita tidak merusaknya.

4. Karya seni punya konsep karya yang juga menarik disimak

Di masa jaya media sosial seperti sekarang, amat lumrah kita datang ke sebuah tempat dengan semangat tinggi untuk berfoto dan segera mengunggahnya di media sosial kita karena sesuatu yang seru memang harus segera dibagikan sehingga ada lebih banyak orang datang dan mengapresiasinya. Tapi sediakan pula waktu untuk menyimak karya dan membaca keterangan tentang siapa seniman dan apa konsep karyanya. Kalauperlu, potret pula keterangan itu agar caption foto kita jadi lebih informatif dan menarik.

5. Titipkan tas dan barang bawaan agar bisa melihat pameran dengan lebih nyaman

Galeri, museum atau ruang pamer biasanya menyediakan tempat penitipan barang. Ada baiknya kita menitipkan dulu barang-barang yang kita bawa sebelum masuk ke ruang pamer. Bila perlu, siapkan tas kain kecil yang ringkas dan cukup untuk memuat dompet dan gadget dan meninggalkan tas besar di penitipan barang.

6. Jangan makan dan minum di ruang pameran

Ruang pameran seperti juga gedung pertunjukkan berbeda dengan bioskop di mana kita bisa duduk manis menonton film sambil mengunyah popcorn atau hot dog dan menyesap kola dingin. Di ruang pameran seni, penoton biasanya dilarang membawa makanan dan minuman karena dikhawatirkan dapat mengotori karya bila makanan atau minuman itu tumpah.