Penuh Cinta dan Saling Berbagi di Asrama Mahasiswa

0
1933

Banyak mahasiswa yang memilih tinggal di asrama saat jauh dari orang tuanya. Dengan mengetahui berbagai konsekuensi atas pilihannya, mereka pun berusaha menyesuaikan diri.

Tak mudah bisa berbaur dengan orang lain yang baru dikenal untuk tinggal bersama. Setiap hari, kita akan bertemu dengan teman-teman sekamar sampai teman satu asrama yang jumlahnya bisa ratusan.

Nah, apa kata mereka yang pernah tinggal di asrama ya?  Bagaimana rasanya berbagi dengan penuh rasa empati?

Asrama Putri Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

Susana Alkorisna, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan St Paulus, Ruteng, NTT

Tinggal di asrama merupakan alternatif untuk mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus untuk menikmati kehidupan yang baik dan nyaman. Hal ini karena biaya sewa asrama terjangaku dan fasilitas asrama disediakan pihak asrama. Selain itu, kegiatan-kegiatan di asrama selalu berdampak positif bagi mahasiswa.

Aku bersama 80 mahasiswi lainnya sekarang  tinggal di asrama putri milik kampus. Banyak pengalaman yang kudapatkan sejak tinggal di sini tujuh bulan yang lalu. Sukanya, aku dapat menguanakn fasilitas lengkap dengan sewa asrama yang murah dan mengikuti kegiatan kebangunan rohani dan rekreasi bersama teman seasrama. Sedangkan dukanya saat orang tua telat kirim uang, aku hanya makan nasi dengan garam.

Nilai positif yang kudapat selama tinggal di asrama. Pertama, mandiri karena segala urusan peribadi kukerjakan sendiri. Kedua, toleransi  dengan teman yang memiliki gaya belajar berbeda. Ketiga, kerja Sama dengan teman saat bakti sosial. Keempat, disiplin dengan mentaati peraturan yang telah disepakati. Kelima, hemat  menggunakan air dan listrik sesuai kebutuhan.

Teman adalah Keluarga

Fauzan, Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Kehidupan di asrama memang lekat akan kebersamaan. Kami bersama sama merasakan pahit manis kehidupan di asrama. Saya akan sedikit bercerita pengalaman saya ketika tinggal di asrama di salah satu pondok pesantren di Bogor ketika SMP dulu.

Pernah suatu hari teman saya sedang tidak punya uang dan bekal makanan ringannya habis. Sedangkan orang tuanya baru akan datang  2 hari lagi. Kebetulan saat itu orang tua saya sedang datang dan membawa banyak makanan untuk persediaan 1 bulan kedepan. Pada saat itu juga saya membagi makanan saya untuk teman saya tersebut. Saya melakukan itu karena saya juga pernah berada dalam posisi seperti teman saya itu. Ketika saya sedang kehabisan amunisi uang jajan dan makanan, pasti ada saja teman saya yang ingin berbagi makanan dan uangnya untuk kami jajan. Kami saling mengisi satu sama lain.

Jika ada salah satu dari kami sakit, kami bersama sama merawatnya karena kami sadar saat jauh dari orang tua seperti ini, kita harus saling tolong menolong dan saling menjaga. Prinsip ini yang kami pegang dalam waktu 3 tahun. Selama 3 tahun ini kami sangat kompak dalam segala hal, baik yang positif maupun negatif.

Kangen Keluarga

Cicilia Erni, Jurusan Perhotelan, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta

Tinggal jauh dari keluarga adalah tantangan, di mana kita dituntut untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang kita buat. Memasak, berbenah, mengatur keuangan, membagi waktu dan hal-hal lain yang biasa kita lakukan dengan mengandalkan orangtua, kini harus kita lakukan sendiri.

Itulah yang saya rasakan ketika harus tinggal di asrama saat menjalani double degree program di salah satu perguruan tinggi di Thailand. Suka duka saya lewati selama tinggal di asrama, seperti kehabisan uang bulanan, makanan yang tidak cocok atau perasaan gelisah karena jauh dari rumah atau biasa disebut homesick.

Tapi percayalah bahwa itu semua adalah proses pendewasaan diri, menghadapi tantangan untuk berubah dari yang awalnya selalu bergantung dengan orang lain. Namun pada akhirnya kita akan menyadari bahwa kehidupan asrama yang telah kita jalani akan menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya.  Banyak nilai-nilai positif yang dapat kita peroleh ketika tinggal jauh dari orangtua yaitu memupuk rasa keberanian, tanggung jawab, dan melatih diri untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjadi Pengurus Asrama

Ahmad Afandi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, Jawa Tengah

Hidup di asrama tentunya kita hidup dengan banyak teman yang berlatar belakang berbeda-beda. Memahami karakter masing-masing bukanlah perkara yang mudah bagi penghuni asrama. Dan yang paling sulit adalah menyatukan segala perbedaan yang dimiliki oleh anggota asrama.

Dalam asrama tentunya ada semacam organisasi yang bertanggung jawab atas terselenggaranya kemaslahatan masyarakat asrama, atau dalam pesantren biasanya disebut pengurus pondok. Ketika saya sebagai bagian pengurus asrama menjadi sebuah kewajiban bagi saya berlaku atau menjalankan tugas saya sebagai pengurus.

Menjadi sekretaris dalam sebuah kepengurusan bukanlah hal yang mudah. Saya harus bisa mengelola kesekretariatan asrama, pengarsipan, data anggota, dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan administrasi atau kesretariatan. Selain itu saya juga harus bisa memanage jadwal kegiatan asrama agar tidak bertabrakan dengan waktu kuliyah.

Saya dan ketua harus memikirkan bagaimana memajukan penghuni asrama agar tidak hanya menjadi mahasiswa biasa, tetapi mahasiswa yang memiliki keterampilan lain. Di sinilah saya berlatih bertangung jawab.

Tentang Kesetiakawanan

Koridatul Jannah, Jurusan Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Kehidupan di asrama begitu syahdu. Kamar asrama yang saya tempati berisi 9 mahasiswa dari berbagai kalangan. Kamar berukuran 5×2,5 m menjadi saksi akan kesetiakawanan yang terjalin. Mulai dari berebut kipas angin, stop kontak untuk ngecas hp atau nyetrika, dan memakai bantal teman sembarangan. Terkadang juga hanger hilang atau tertukar dengan teman sekamar tidak kaget lagi. Begitu yang menjadikan saya memilih tinggal di asrama selama kuliah dari pada harus nglaju dari rumah.

Hidup dengan teman-teman banyak suka dukanya. Suka kalau menu masakannya enak, ada yang ulang tahun, dan mbolos jamaah pada malam minggu untuk keluar bareng menghirup udara segar. Sedangkan dukanya saat ada konflik internal antar teman, yang lain terkena imbasnya. Saat jatah piket bersih-bersih ada yang bermalas-malasan hingga membuat yang lain naik darah. Adalagi saat teman sekamar akan diwisuda, sedihnya luar biasa serasa akan ditinggal selamanya.

Nilai yang saya dapat 99 persen adalah sosial. Karena hidup di sekitar masyarakat harus menjunjung tinggi nilai sosial. Saya mendapat pengalaman lebih tentang kesetiakawanan, meleburkan rasa, menyamakan persepsi, dan merekatkan persaudaraan.