Fashion Show Mel Ahyar Kompas/Totok Wijayanto

Pertautan antara dunia mode dan seni rupa tampaknya masih akan menjadi kecenderungan yang menarik saat ini di Indonesia. Fenomena ketika dunia kreatif kian lebur terbebas dari sekat-sekat definisi. Mungkin ini celah untuk mengantisipasi stagnasi dalam berkarya.

Salah satu tonggak signifikan terjadinya konvergensi seni rupa (lukis) dengan perancang mode adalah ketika pada tahun 1960-an perancang mode asal Perancis, Yves Saint Laurent, menukil inspirasi dari lukisan karya seniman Belanda, Piet Mondrian. Hasilnya adalah enam helai busana yang kemudian dikenal dengan julukan mondrian dress yang sangat ikonik dalam dunia mode. Busana dengan ciri visual garis vertikal dan mendatar serta penggunaan warna hitam, putih, dan warna primer (biru, kuning, dan merah) ini mewakili gerakan seni ”De Stijl” yang digagas Mondrian. Gaya komposisi warna ala mondrian dress itu di era mode masa kini lantas dijuluki color blocking.

Ketika Yves Saint Laurent sekadar menukil gagasan dari lukisan, di era yang berbeda perancang mode Indonesia, Mel Ahyar, mencoba lebih jauh. Dalam perhelatan tahunan IPMI Trend Show 2017 yang ke-30 beberapa waktu lalu di Senayan City, Jakarta, Mel mengajak pelukis Jeihan Sukmantoro bermain-main liar. Kolaborasi keduanya ini lalu menghasilkan koleksi 18 busana bertajuk ”Kini Abadi”, koleksi menghantarkan energi cinta yang transenden.

Pergelaran busana yang digarap Rama Soeprapto itu diawali dengan gema suara Jeihan yang terdengar dari rekaman video footagefootageoleh Anton Ismael, yang melatari landas peraga. ”Puncak dari peradaban adalah kebudayaan. Puncak dari kebudayaan adalah seni. Puncak dari seni adalah puisi. Puncak dari puisi adalah filsafat. Puncak dari filsafat adalah sufi,” ucap sang maestro.

Perlahan, satu per satu model memasuki landas peraga dalam sorot lampu temaram dari arah atas, menimbulkan kesan misterius yang menghanyutkan. Setiap busana menampakkan lukisan karya Jeihan, dengan ciri khasnya manusia-manusia bermata hitam, seperti mengisap apa pun yang dipandanginya. Goresan-goresan Jeihan dalam kanvas busana terasa hidup, bergerak-gerak lembut diayun lenggak-lenggok tubuh model.

Menurut Mel, dari 18 busana itu, 7 busana dilukisi langsung oleh Jeihan dengan cat tekstil. Jeihan melukis ketika busana berbahan sutra organza itu sedang dikenakan model. Dalam video footage juga, sekilas menampakkan proses kreatif tersebut. Seperti juga lazimnya lukisan, ketujuh busana lukis tersebut dinamai, yaitu, ”Ia”, ”Maya”, ”Adam”, ”Hawa”, ”Cinta”, ”Misti”, dan ”Matahari di Atas Laut”.

Sementara, sisa 11 busana lainnya digarap Mel dengan menerjemahkan beberapa lukisan Jeihan yang pernah ada dalam busana dengan berbagai teknik. Visual lukisan ditransfer pada busana dengan cetak digital, lalu berpadu dengan teknik adibusana dekoratif, misalnya sulam tangan yang membentuk obyek lukisan Jeihan. Dengan demikian, Mel seperti melukis ulang lukisan Jeihan dengan benang pada medium busana.

”Jadi, kalau Jeihan melukis dengan kuas, aku melukiskannya dengan benang. Di setiap busana, baik yang dilukis langsung maupun yang berupa adaptasi, ada torehan tanda tangan Jeihan langsung dengan tinta,” kata Mel.

Busana karya adaptasi ini juga dinamai sesuai nama lukisan Jeihan, seperti ”Terbang ke Barat” (1986/1987), ”Indonesia, Cintaku, Negaraku” (1986), ”Model A” (2002), ”Par” (1999), ”Istiqamah” (1999), ”Aku Jeihan” (2007), ”Tari Bedoyo” (2009), ”Melina” (1998), dan ”Nasar” (1977).

Lukisan dalam ”scarf”

Mel mengadaptasi gaya mode sejak era 1950-an hingga masa kini dalam berbagai siluet, mulai dari yang serba longgar hingga melekat di tubuh. Busana yang berpotongan serba longgar dan cenderung berukuran serba besar (oversized) terlihat bervolume, dengan lengan cocoon yang menggembung dan jahitan ujung pundak yang diturunkan. Dalam koleksi yang serba longgar ini tampak sekali perbawa dari lukisan Jeihan terhantarkan lebih kuat.

Sebagian busana lainnya digarap Mel dalam siluet yang lebih pas tubuh hingga cenderung lekat, dengan ornamentasi yang menonjolkan keterampilan tangan. Mel juga tampak memperkaya sebagian busana dengan detail aksen yang berkilau. Eksekusi semacam ini jika lewat batas, bisa berpotensi menenggelamkan ruh dari lukisan yang disandang busananya. Namun, Mel terlihat piawai meraciknya sehingga selamat dari potensi itu, dan tak terasa ada pretensi glamor yang membayangi.

”Di lini couture ini memang menjadi playground buat aku untuk lebih gila-gilaan, merancang lebih bebas, juga bebas dari pretensi,” ujar Mel.

Keseluruhan koleksi ”Kini Abadi” memberi kesan utuh yang anggun, misterius, dan seksi. Seksi di sini bukanlah seksi dalam perspektif patriarkis yang cenderung erotis. ”Busana seksi buat saya bukan berarti harus diterjemahkan dengan menampakkan kulit tubuh,” kata Mel, lulusan sekolah mode di Perancis, ESMOD Paris sebagai Best Nouvelle Couture Graduate.

Tak hanya busana, Mel juga mengeluarkan pula koleksi scarf sutra cetak digital yang memuat karya-karya lukis Jeihan yang ikonik. Misalnya saja, lukisan ”Aku” (2006), ”Ibu dan Anak” (2002), ”Aku Jeihan” (2007), ”Mirah” (1990), dan ”Bedoyo Trisakti” (2015). Setiap scarf menyesuaikan dengan dimensi ukuran lukisan asli. Jika ukuran lukisan tidak terlalu besar, ukuran scarf dibuat sama persis. Jika ukuran lukisan terbilang besar, ukuran scarf dibuat lebih kecil dengan rasio ukuran yang sama.

Penggunaan scarf pun kini tidak monoton sebagai hiasan yang dikalungkan di leher, tetapi juga dapat dikenakan sebagai atasan semacam blus dengan teknik ikat, lilit, dan simpul. Ketika tidak dikenakan, scarf pun dapat digantung di semacam gawangan sebagai penghias ruang sehingga dapat dinikmati sebagai koleksi karya lukis dalam medium kain. Di sini berarti, konvergensi seni rupa dan mode tidak terbatas pada proses kreatif saja, tetapi juga pada penggunaannya.

Mel mengatakan, strategi bisnis mode dengan membagi karyanya dalam beberapa lini menjadi salah satu jalan baginya untuk merawat kreativitas. Pada lini couture, Mel bisa lebih bebas berekspresi, berkreasi, bahkan tanpa belenggu rasa khawatir apakah karyanya akan cepat direspons pasar. Sementara pada lini lainnya, Mel melenturkan dirinya dengan pasar tanpa harus menggugurkan ciri rancangannya yang berkarakter twisted beauty, keindahan yang tak biasa.

Mel kini berkarya untuk empat lini, selain Mel Ahyar Couture, yaitu Mel Ahyar First, Happa, dan terakhir Happa XY untuk busana pria. Koleksi terkini dari tiga label terakhir itu ditampilkan dalam perhelatan Jakarta Fashion Week 2017. Pada tiga lini yang lebih komersial ini, bagaimanapun menjadi bahan bakar penting baginya untuk bisa tetap gila-gilaan saat berkarya menggarap busana di lini couture. Dengan merawat kegilaan, Mel setidaknya berusaha mengantisipasi bayangan stagnasi dalam berkarya.

SARIE FEBRIANE


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Desember 2016, di halaman 20 dengan judul “Seni Merawat Kegilaan:  Fashion is more art than art is—Andy Warhol”