Kapal pesiar selalu berasosiasi dengan penjelajahan, kemakmuran, pesta, kemewahan. Apalagi ketika kapal pesiar ini terbilang terbaru dan terbesar di dunia, bernama Harmony of the Seas, produk perusahaan pelayaran terkemuka Royal Caribbean International.

Menjalani tugas kantor untuk mengikuti pelayaran perdana Harmony of the Seas dari Southampton, Inggris, yang terbayang dalam penerbangan dari Jakarta ke London bukan hanya petualangan laut dan pesta, tetapi juga cinta. Sebab dari Southampton, pelabuhan ternama di Inggris, sekitar dua jam dari London itu pula sekitar 100 tahun lalu kapal terbesar pada zamannya, Titanic, diberangkatkan menuju Amerika. Tahun 1990-an, kisah mengenai Titanic diangkat oleh James Cameron ke layar perak dengan judul sama. Siapa tidak ingat percintaan antara Kate Winslet dengan pemuda miskin bohemian yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio?

Adakah Kate Winslet nanti…

Bukan, bukan Kate Winslet, melainkan Sandy Olsson, cewek cantik yang pada tahun 1970-an diperankan Olivia Newton John dalam film Grease. Versi panggung film itu ditampilkan pada pelayaran Harmony of the Seas. Pertunjukan musikal Grease ini menyuntikkan darah baru bagi kapal pesiar ini: segala bentuk gaya hidup dan strategi konsumsi mutakhir digelar tanpa batas.

Harmony of the Seas berbobot 226.963 ton. Lebar lebih dari 65 meter, panjang sekitar 360 meter, atau empat kali ukuran lapangan sepak bola. Jumlah kamar 2.747, berada dalam 16 dek, dihubungkan dengan belasan lift. Dek-dek tertentu digunakan sebagai area publik, dari tempat jalan-jalan berupa promenade dengan restoran, kafe, klub, dan toko-toko barang bermerek, sampai taman terbuka hijau. Belum lagi sarana hiburan keluarga semacam pasar malam lengkap dengan karousel, kolam renang, sarana outbound, spa, kasino, dan lain-lain.

Pertunjukan musikal Grease di atas Harmony of the Seas (atas). Bergoyang di Harmony of the Seas (kiri bawah). Suasana salah satu dek dengan restoran dan toko di kiri kanan (kanan bawah).  *** Local Caption *** Bergoyang di Harmony of the Seas. 21-05-2016
Pertunjukan musikal Grease di atas Harmony of the Seas (atas). Bergoyang di Harmony of the Seas (kiri bawah). Suasana salah satu dek dengan restoran dan toko di kiri kanan (kanan bawah).
*** Local Caption *** Bergoyang di Harmony of the Seas.
21-05-2016

Pendeknya, ia adalah kota terapung lengkap dengan segala infrastrukturnya kecuali pemerintahan, birokrasi, tentara. Yang ada hanya hiburan. Penduduknya, dalam kapasitas penuh bisa mencapai sekitar 6.000 penumpang, merupakan unit sosiologi yang minatnya sama: bersenang-senang.

Selama pelayaran perdana seluruh outlet makanan dibuka gratis. Dari restoran sampai kafe-kafe yang barangkali Anda akrabi semacam Starbucks dan Johnny Rockets. Bir, anggur, minuman beralkohol lain Anda tinggal order di mana saja di klub, bar, atau lounge yang buka. Terdapat 40 merek bir dan sekitar 340 merek wine. Tinggal cegluk-cegluk.

Ada orang yang makin kreatif tak kala agak tipsy. Dalam jumpa pers dengan para petinggi perusahaan pelayaran ini ada yang bertanya berapa jumlah telur dikonsumsi. Yang ditanya tertawa. Untuk pelayaran selama tujuh hari, rata-rata dibutuhkan 5.000 lusin telur yang berarti 60.000 butir telur. Daging ayam sekitar 9.700 kilogram. Lobster sekitar 2.100 kilogram, dan seterusnya.

Robot balerina

Kami dikenalkan bar yang dikendalikan tangan robot untuk mencampur minuman. Bar ini namanya Bionic. Kita bisa meracik sendiri, cocktail macam apa yang kita ingini. Racikan kita program lewat iPad, selanjutnya robot akan mengerjakannya. Lucu sekali robot itu melakukannya, terlebih ketika tangannya bergerak mengocok minuman.

”Tangan robot itu dibikin dengan model tangan balerina di New York,” kata petugas di situ. Entah benar atau tidak, tapi keterangannya terdengar menyenangkan.

Wajah Indonesia terlihat di bar sebagai salah satu staf.

”Iya, saya dari Indonesia,” katanya dalam bahasa Indonesia berlogat Bali. Benar. Ia dari Buleleng, namanya Ayu. Katanya dia sudah bekerja di kapal selama tujuh tahun. Sebelum di bar, ia bagian dapur.

”Capeknya setengah mati kerja di dapur,” tuturnya sembari memegang pundak. ”Bicara saja tidak sempat. Beda dengan di sini. Ketemu orang, bisa bicara,” tambahnya bungah. Ia tambah senang ketika saya katakan saya dari Negara, punya warung canang di pasar Negara.

Di lorong kapal di antara kamar-kamar juga sempat ketemu kru dari Indonesia lainnya. Namanya Iqbal, mengaku dari Sukabumi, Jawa Barat.

”Kenal Happy Salma?” tanya saya, menyebut artis manis kelahiran Sukabumi.

”Pasti kenal, neng itu kan terkenal,” jawabnya tertawa.

Salah satu titik yang ramai sepanjang hari di Harmony of the Seas (kiri). Pesta setiap saat di Harmony of the Seas (kanan).  *** Local Caption *** Salah satu titik yang ramai sepanjang hari di Harmony of the Seas. 21-05-2016
Salah satu titik yang ramai sepanjang hari di Harmony of the Seas (kiri). Pesta setiap saat di Harmony of the Seas (kanan).
*** Local Caption *** Salah satu titik yang ramai sepanjang hari di Harmony of the Seas.
21-05-2016

Dia bekerja di kapal selama 10 tahun. Sebelumnya pernah bekerja di sebuah hotel di Pelabuhan Ratu. Setiap tahun ia memperpanjang kontrak kerja di kapal selama tujuh bulan. Setelah itu cuti, libur tiga bulan. Banyak temannya orang Indonesia di sini. Kebanyakan bekerja sebagaicabin attendance dan bagian laundry.

Budi D Gani, representatif Royal Caribbean untuk Indonesia, menuturkan kecenderungan wisata pelayaran semacam ini. Kini, katanya, makin banyak orang Indonesia mengikuti wisata bahari, umumnya mengikuti kapal-kapal pesiar yang berangkat dari Singapura. Pelayaran dari Singapura bergerak di negara-negara seputar situ, seperti Malaysia.

Indonesia menurut Budi belum memiliki pelabuhan yang memadai untuk kapal-kapal besar. Belum lagi kelengkapan infrastruktur termasuk jalan raya. Bayangkanlah, kapal berlabuh di pelabuhan, penumpang turun untuk menikmati kota, akhirnya malah terjebak macet.

Kenangan manis

Globalisme telah mengubah segalanya. Hanya mereka yang mampu memanfaatkan celah-celah yang tersedia dalam arus kapitalisme global yang bakal berkesempatan menyejahterakan diri. Sayangnya, banyak hal kita abaikan. Bahkan kekayaan rempah-rempah kita yang pernah menarik pelayaran dunia di abad pertengahan kini kita abaikan. Kita abai dalam begitu banyak hal. Petualangan laut dalam abad konsumsi ini bukan lagi sekadar di laut kita jaya, tapi di laut kita pesta.

Dunia hiburan adalah roh yang menggerakkan industri gaya hidup dan waktu luang. Nick Weir, Vice President yang mengurusi hiburan sekaligus produser untuk pertunjukan-pertunjukan di kapal dari kelompok Royal Caribbean, menuturkan, untuk tahun ini mereka memproduksi 24 pertunjukan hanya dalam waktu tujuh bulan. Karya disebar di armada pesiar milik Royal Caribbean.

Untuk The Harmony of the Seas, Grease, versi panggung dari film amat terkenal di akhir tahun 1970-an, dengan bintang John Travolta dan Olivia Newton John. Menampilkan bakat-bakat muda, pertunjukan ini mengembalikan kenangan manis tahun 1970-an. Rasanya jadi benar-benar ketemu tokoh yang kita bayangkan.

Mendadak terdengar teguran, menawarkan minum. Kate Winslet?

Seketika saya terbangun. Bukan Kate Winslet, melainkan pramugari Turkish Airlines. Ini penerbangan menuju Jakarta dari Istanbul, lanjutan dari London, setelah pengalaman di kapal pesiar yang menakjubkan.

“226.963 Ton bobot Harmony of the Seas. Lebar lebih dari 65 meter, panjang sekitar 360 meter, atau empat kali ukuran lapangan sepak bola.”

Pertunjukan musikal Grease di atas Harmony of the Seas (atas). Bergoyang di Harmony of the Seas (kiri bawah). Suasana salah satu dek dengan restoran dan toko di kiri kanan (kanan bawah).  *** Local Caption *** Suasana salah satu dek dengan restoran dan toko di kiri kanan. 21-05-2016
Pertunjukan musikal Grease di atas Harmony of the Seas (atas). Bergoyang di Harmony of the Seas (kiri bawah). Suasana salah satu dek dengan restoran dan toko di kiri kanan (kanan bawah).
*** Local Caption *** Suasana salah satu dek dengan restoran dan toko di kiri kanan.
21-05-2016

BRE REDANA


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juni 2016, di halaman 23 dengan judul “Di Laut Kita Pesta…”.