Menjelajah Kota Bengkulu seakan kembali ke masa perjuangan bangsa ini. Jejaknya jelas terlihat di beberapa tempat dan kini menjadi daya tarik bagi wisatawan, terutama peminat sejarah. Tak hanya itu, Bengkulu juga memiliki garis pantai hingga sepanjang 500 kilometer di hadapan Samudra Hindia yang menawarkan keindahan yang sayang untuk dilewatkan.

Benteng Marlborough Bengkulu Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
Benteng Marlborough Bengkulu
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

Senin,

Pukul 10.00 Rumah Pengasingan Ir Soekarno

Perjalanan ke masa lalu bisa dimulai dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Rumah di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 8 ini ditempati Bung Karno dan keluarga saat diasingkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tahun 1938-1942. Rumah dengan halaman luas nan asri ini dibangun tahun 1918 oleh Tjang Tjeng Kwat, pemasok bahan pokok untuk Belanda.

Setelah melintasi halaman dengan rumput hijau dan bunga-bunga di kanan kiri, pengunjung bisa masuk ke bangunan utama. Rumah terdiri atas teras depan, ruang tamu, ruang kerja, kamar tamu, dua kamar tidur, dan teras belakang. Di ruang-ruang tersebut terpampang berbagai macam foto lama, juga mebel-mebel asli yang dipakai keluarga Bung Karno saat pengasingan.

Di ruang kerja terdapat buku-buku tua yang sebagian besar berbahasa Belanda. Ada pula sepeda onthel yang digunakan keluarga Bung Karno. Ranjang besi dengan sprei putih terdapat di ruang tidur Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasih, juga di kamar Ratna Djuami, anak angkat mereka.

Tak ketinggalan koleksi kostum perkumpulan sandiwara Monte Carlo asuhan Bung Karno, Ibu Inggit, dan beberapa sahabatnya. Di rumah inilah Bung Karno berkenalan dengan Fatmawati, yang kemudian dipersuntingnya lalu menjadi Ibu Negara.

Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

Pukul 12.00

Rumah Fatmawati

Tidak jauh dari Rumah Pengasingan Ir Soekarno terdapat sebuah rumah dengan papan bertuliskan ”Rumah Ibu Fatmawati Soekarno”. Rumah ini terdiri dari beberapa ruangan berisi sejumlah barang peninggalan Fatmawati.

Salah satunya, mesin jahit yang pernah digunakan Fatmawati untuk menjahit Bendera Merah Putih pertama. Di dalam kotak-kotak kaca di ruang depan juga terdapat busana yang sempat dikenakan Fatmawati berupa kebaya, kain, dan kerudung. Foto-foto lama yang menggambarkan aktivitas Fatmawati, terutama setelah menjadi Ibu Negara, juga terpasang di berbagai ruangan di dalam rumah berbentuk rumah panggung ini.

Uniknya, sejumlah akademisi di Bengkulu menyatakan rumah itu sebenarnya bukan rumah tinggal Fatmawati. Keluarga Fatmawati berasal dari Kabupaten Rejang Lebong, sekitar 90 kilometer dari kota Bengkulu. Rumah tersebut ternyata rumah kerabat Fatmawati yang kemudian dihibahkan kepada pemerintah daerah setempat.

Rumah Kediaman Bu Fatmawati Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
Rumah Kediaman Bu Fatmawati
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

Pukul 14.00

Benteng Marlborough

Benteng yang dibangun tahun 1713-1719 oleh East India Company ini tidak boleh ketinggalan dikunjungi. Ketika itu, Bengkulu–semasa itu disebut Bencoolen-tengah dikuasai Inggris, sedangkan daerah lain telah dikuasai Belanda. Baru pada 1824, benteng ini diserahkan kepada Belanda.

Marlborough menjadi benteng pertahanan terkuat Inggris di wilayah timur. Bangunan benteng terbuat dari batu bata dengan ketebalan dinding 50-180 sentimeter. Dengan konstruksi yang kokoh, kekuatan benteng teruji saat gempa bumi tahun 2000 dan 2007 yang tidak menampakkan kerusakan.

Dari pintu masuk, pengunjung bisa berkeliling ke berbagai ruangan yang terdapat di dalam benteng seluas 2,7 hektar tersebut. Pengunjung juga bisa naik hingga ke atas benteng dan memandang permukiman di sekitarnya.

Dari atas benteng, pengunjung bisa memandang hingga ke Samudra Hindia. Saat sore, memandang matahari tenggelam menjadi kegiatan yang banyak digemari pengunjung. Di dalam benteng terdapat makam tiga orang Inggris yang tewas dalam beberapa serangan ke benteng, yakni Charles Murray, Residen Thomas Parr, dan Robert Hamilton. Terdapat pula ruang untuk menginterogasi Soekarno ketika diasingkan di Bengkulu.

Benteng Marlborough Bengkulu Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
Benteng Marlborough Bengkulu
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

Selasa

Pukul 09.00

Museum Negeri Provinsi Bengkulu

Museum ini menjadi pilihan tepat jika ingin memahami seluk-beluk Bengkulu. Di museum ini terdapat berbagai koleksi benda bersejarah dan produk budaya masing-masing suku di Bengkulu.

Pengunjung bisa melihat koleksi pakaian pengantin, pakaian adat, alat-alat rumah tangga, senjata tradisional, dan rumah-rumah adat.

Koleksi lain adalah naskah-naskah kuno yang tidak diketahui penulisnya. Banyak di antaranya ditulis dalam aksara kuno Kaganga. Isinya pantun, sejarah, nasihat, dan cara-cara pengobatan kuno. Tak hanya itu, museum ini juga memiliki koleksi kain-kain lama, seperti songket dan batik kain besurek.

Koleksi lain yang menarik adalah mesin cetak Drukkey Populair merek Golden Press buatan Amerika Serikat. Mesin buatan tahun 1930 ini kemudian digunakan Pemerintah Indonesia untuk mencetak uang merah, sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang berfungsi sebagai alat tukar khusus di Bengkulu.

View Tower Bengkulu Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
View Tower Bengkulu
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

Pukul 12.00

Masjid Jamik Bengkulu

Masjid di jantung kota ini istimewa karena renovasinya turut melibatkan Bung Karno yang kala itu tengah diasingkan di Bengkulu. Bung Karno tidak mengubah struktur bangunan lama, hanya memperbarui rancangan atap dan tiang-tiangnya. Atapnya bertumpang tiga berbentuk limasan dengan celah pada bagian tengahnya. Halamannya berbentuk segitiga dan luas, digunakan untuk parkir kendaraan jemaah.

Bagian dalamnya sederhana dengan langit-langit dari deretan potongan kayu. Di sekeliling dinding tempat ibadah bagian atas tertulis kaligrafi ayat-ayat Al Quran. Pada pintu masuk tempat ibadah jemaah putri terdapat tiang-tiang dengan bagian atas bermotif sulur tumbuhan.

Masjid Jamik Bengkulu Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
Masjid Jamik Bengkulu
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

Pukul 15.00 Pantai Panjang

Menjelang sore merupakan saat yang tepat untuk kembali menikmati keindahan alam Bengkulu. Pantai Panjang menjadi tempat tujuan favorit pengunjung untuk sekadar bermain air atau pasir putih, menyantap hidangan sari laut, atau menyaksikan indahnya matahari tenggelam di cakrawala.

Ombak Samudra Indonesia yang berdebur keras menghantam pantai diselingi segarnya angin laut.

Pantai yang landai itu memiliki panjang total hingga 7 kilometer. Di tepian pantai terdapat pohon cemara dan pinus yang memberikan keteduhan dari sengatan matahari. Jika lelah berjalan, pengunjung bisa duduk-duduk di warung makan yang berjajar di sepanjang pantai. Keberadaan warung-warung yang kurang tertata, sayangnya, menyuguhkan pemandangan yang terkesan kumuh.

Saat mentari mulai condong ke barat, warna jingga yang terpantul di lautan sangat indah. Kaki seperti enggan beranjak, mata seakan tak ingin berkedip karena tak mau kehilangan keindahan senja saat itu….

Pantai Panjang, Bengkulu Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 04-06-2016 utk tulisan EKI dan FRO
Pantai Panjang, Bengkulu
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)
04-06-2016
utk tulisan EKI dan FRO

FRANSISCA ROMANA NINIK/SRI REJEKI


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 September 2016, di halaman 30 dengan judul “Bengkulu”.