Kisah Gendhis Mencari Ibu lewat Surat-suratnya

0
628

Kisah tentang seorang anak yang ditinggal pergi begitu saja oleh sang ibu, bahkan ketika anak itu masih berusia beberapa bulan, pastinya akan menjadi sebuah cerita pilu nan menyayat hati.

Apalagi ketika sang jabang bayi yang kemudian beranjak remaja bertekad mencari sang ibu walau hanya berbekal beberapa pucuk surat yang pernah dikirimkan oleh si ibu kepada sang bapak, diperankan aktor watak kawakan Tio Pakusadewo.

Proses pencarian itulah yang menjadi inti utama cerita film Surat Untukmu. Film itu sendiri mulai diputar di sejumlah bioskop di Tanah Air sejak akhir Agustus lalu.

Adalah Gendhis, diperankan dengan sangat manis oleh Prilly Latuconsina, seorang gadis pemurung dan terbilang misterius untuk anak baru gede (ABG) sebayanya. Sejak awal cerita, Gendhis digambarkan sebagai gadis cerdas yang sangat terobsesi untuk bisa pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Jakarta demi mencari sang ibu.

Oleh si bapak, ide seperti itu sangat ditentang. Jakarta, menurut bapak, bukanlah tempat yang bagus untuk seorang anak gadis seperti Gendhis. Menurut dia, Jakarta hanya kota dengan banyak orang yang ora pati nggenah (serba tidak jelas) tinggal.

Namun, penolakan sang bapak semakin tak digubris, apalagi belakangan Gendhis mengetahui ratusan surat yang sejak lama dia kirimkan ternyata selalu kembali lantaran alamat tidak diketahui. Padahal, ratusan surat itu telah dia kirimkan, bahkan sejak Gendhis mampu membaca dan menulis. Setiap hari dia juga meminta bapak membacakan surat-surat lama dari ibunya.

Sang bapak sebenarnya selalu berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa surat-surat Gendhis dikembalikan.

Atas kesepakatan, petugas pengantar surat selalu menyerahkan surat-surat yang dikembalikan itu langsung kepada bapak. Walau terus menentang, sosok bapak sayangnya bukan orang yang mampu memberi solusi. Dia hanya melarang anaknya tanpa pernah sekali pun berusaha mengantarkan sendiri Gendhis ke Jakarta mencari ibunya.

Keberadaan sosok ibu sendiri memang sangat misterius bagi Gendhis. Dia hanya tampil sebagai sosok rekaan dalam benak gadis remaja itu. Ikatan batin di antara mereka hanya terpaut pada beberapa pucuk surat lama dari sang ibu.

Perjalanan hidup Gendhis memang tak semanis namanya, yang dalam bahasa Jawa berarti gula. Bersama bapaknya yang bekerja sebagai penari wayang orang, Gendhis hidup di rumah sederhana di kawasan dataran tinggi Dieng.

Setiap hari sang bapak bekerja menjadi seolah artis ”pengamen” yang menemani para wisatawan yang ingin berfoto bersama dengan latar belakang area kompleks candi Dieng, lengkap dengan pakaian tradisional karakter Gatotkaca.

Bertualang

Lebih lanjut, kerinduan Gendhis terhadap keberadaan sosok sang ibu adalah kerinduan yang teramat memilukan. Hal itu setidaknya coba dideskripsikan oleh kakak beradik, Harris Nizam sang sutradara dan Bunga Rizka Nizam sang penulis naskah, lewat salah satu adegan.

Pada sepotong adegan itu digambarkan Gendhis diminta tampil di depan teman-temannya peserta Kemah Tahunan Murid Berprestasi setelah menghilang karena mencoba mencari ibunya.

Pada malam hukuman itu Gendhis mengajak semua peserta kemah berdialog. Mereka diminta menggambarkan sosok ibu masing-masing.

Teman-temannya yang berasal dari sejumlah daerah di Nusantara memaparkan dengan jelas seperti apa sosok ibu mereka masing-masing. Hal itu semakin membuat Gendhis bersedih.

”Gendhis enggak nyangka begitu mulia sosok ibu sampai bisa dirasakan lewat masakannya. Sayang, Gendhis belum pernah mencicipi masakan ibu,” ujarnya.

Dia juga mengatakan iri dan ingin rambutnya yang panjang dikepang sang ibu, seperti dilakukan ibu teman-temannya yang lain. ”Sayang Gendhis cuma bisa mengagumi ibu lewat surat-suratnya,” kata Gendhis yang mengundang derai air mata rekan-rekannya yang hadir saat itu.

Alur cerita pun berlanjut walau dalam beberapa adegan susunan plot cerita dibawa maju dan mundur sehingga sedikit membuat bingung.

Pada satu adegan Gendhis digambarkan tengah mendatangi tempat sang ibu pernah tinggal sebelumnya, namun digusur proyek pembangunan. Sementara pada momen setelahnya Gendhis digambarkan berburu mencari sang ibu dengan berbekal sejumlah petunjuk yang didapat dari beberapa surat sang ibu kepada dirinya.

Baru belakangan ada satu adegan kilas balik (flashback) yang menjelaskan surat-surat sang ibu kepada putrinya itu diserahkan seorang bekas tetangga di area gusuran.

Ibu bekas tetangga, diperankan artis senior Rima Melati, menyerahkan satu kotak berisi beberapa macam benda dan surat, yang kemudian dipakai Gendhis untuk mencari petunjuk.

Bersama teman-temannya, Gendhis bertualang menelusuri jejak sang ibu dengan cara terlebih dahulu menerjemahkan dan mencari arti benda-benda di dalam kotak. Perjalanan petualangan itu seolah mengingatkan orang pada kisah-kisah novel remaja klasik semacam Trio Detektifatau Lima Sekawan karya penulis legendaris Enid Blyton.

Sejumlah tempat di beberapa daerah ditelusuri berdasarkan petunjuk dari setiap benda. Sebut saja potongan kain bermotif batik mega mendung, bekas seragam sang ibu, yang membawa mereka ke sentra batik di Cirebon, Jawa Barat.

Ada lagi petunjuk yang didapat dari catatan pengurus sebuah masjid yang mengarahkan Gendhis dan kawan-kawannya pergi ke sebuah kampung nelayan di Karawang, Jawa Barat, di mana mereka bertemu mantan pemilik kontrakan tempat ibu Gendhis pernah tinggal. Selain itu, catatan tentang istilah Latin, yang belakangan diketahui sejenis tanaman obat, daun binahong, dan baru diketahui khasiatnya sedikit banyak menggambarkan kondisi kesehatan sang ibu.

Petualangan demi petualangan dan upaya memecahkan sejumlah petunjuk dalam surat, yang bahkan ditulis dalam kode-kode tertentu, memang tampaknya sengaja ditonjolkan di bagian-bagian akhir film sebagai semacam ”bumbu penyedap”.

Lantas, akankah Gendhis berhasil menemukan sang ibu yang dirindukan serta diinginkannya? Silakan menyaksikan dan mengikuti perjalanan Gendhis.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 September 2016, di halaman 20 dengan judul “Kisah Gendhis Mencari Ibu lewat Surat-suratnya”.