Karena Mandalika Tak Hendak Seragam

0
548

Ombak berbisik menyapu pasir putih nan lembut. Bisikan itu menyambut fajar yang perlahan menerangi alam. Hangatnya berpadu semilir angin membelai kulit, menciptakan kedamaian pagi di Pantai Gerupuk, selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Juni lalu.

Suasana itulah yang lekat dalam kenangan Dani dan Norah. Pasangan asal Swiss tersebut selalu rindu untuk kembali ke Pantai Gerupuk. Sejak 2008, mereka rutin berkunjung ke pantai itu di musim liburan pada Juni. Dalam kawasan yang dikenal dengan nama Mandalika itu, Gerupuk adalah salah satu pantai yang menyambung sepanjang 16 kilometer dengan Pantai Tanjung Aan, Pantai Serenting, Pantai Seger, dan Pantai Kuta. Pantai-pantai itu berpasir putih, dibentengi barisan perbukitan.

Panorama Pantai Kuta, kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/6). Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Panorama Pantai Kuta, kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/6). Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Jumat (17/6) sekitar pukul 07.30 Wita, aktivitas rutin bersantai Dani dan Norah adalah menikmati keindahan pantai dari halaman Edo Homestay. Ropi, petugas hotel, datang menawarkan sarapan. Sembari menunggu makanan tiba, mereka saling bercerita. Ropi fasih berbahasa Inggris dan gemar berkisah tentang alam dan budaya Sasak yang lekat dalam kehidupan masyarakat sekitar. Persahabatan mereka sudah terjalin delapan tahun sejak pasangan ini rutin menginap di Edo Homestay. ”Keindahan alam dan persahabatan ini yang membuat kami selalu rindu untuk kembali,” ujar Dani.

Seusai sarapan, seorang nelayan menjemput Dani dan Norah. Mereka pun berangkat ke laut membawa papan seluncur. Hanya lima menit perjalanan, perahu berhenti di sebuah lokasi berair tenang. Tak jauh dari situ tampak laut bergelombang tinggi. Waktunya bertualang. Pasangan itu meluncur di antara puluhan peselancar, bermain dalam gulungan ombak. Gerupuk merupakan destinasi selancar favorit di kawasan Mandalika. Namun, Gerupuk bukanlah satu-satunya. Ada Tanjung Aan dan Pantai Seger yang lokasinya berdekatan.

Sepanjang pantai-pantai itu bertebing dan berbukit sehingga menarik wisatawan untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Di Pantai Aan, Kompas menapaki sebuah bukit yang dipenuhi rumput ilalang. Pendakian itu melintasi kawanan sapi yang tengah merumput dan tak jauh dari kawanan sapi itu si pemilik menyabit rumput. Di puncak bukit, sepanjang mata memandang hamparan lautan tersaji luas. Biru. Bukit Pantai Seger juga menawarkan keindahan yang tidak kalah menawan. Bukit itu lebih terjal dan berbatu, tetapi jaraknya lebih pendek. Dari situ, wisatawan dapat menikmati puncak-puncak bukit lain di sepanjang tepi laut.

Panorama Pantai Tanjung Aan, kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kawasan pesisir Mandalika akan menjadi salah satu kawasan ekonomi khusus pariwisata yang dikembangkan untuk tujuan wisata unggulan Indonesia. Meskipun demikian, tantangan pembangunan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat lokal serta penataan kelestarian lingkungan terkait dampak pembangunan besar perlu diperhatikan (atas). Wisatawan berselancar di Pantai Ubrug, Jumat (17/6). *** Local Caption *** Published Caption pada Kompas WEB: Panorama Pantai Tanjung Aan, Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Jumat (17/6). Potensi kawasan pesisir Mandalika akan menjadi salah satu kawasan ekonomi khusus pariwisata yang dikembangkan untuk tujuan wisata unggulan Indonesia. Meski demikian, tantangan pembangunan sumber daya manusia serta pemberdayaan masyarakat lokal serta penataan kelestarian lingkungan akan dampak pembangunan besar perlu diperhatikan.
Panorama Pantai Tanjung Aan, kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

 

Dikembangkan

Potensi alam itu mendorong pemerintah untuk mengembangkannya sejak 1984. Proses desain kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika seluas 1.175 hektar baru serius berjalan mulai 2008 oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Indonesia Tourism Development Corporation/ITDC).

Progres pembangunannya kini baru 10-15 persen. Kawasan yang mengandalkan alam sebagai obyek utama dan budaya sebagai wisata pendukung itu belum efektif menarik wisatawan. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Tengah 2015, kunjungan wisatawan mancanegara ke Mandalika mencapai 759.726 orang. Jumlah itu turun dari tahun 2014 yang sebanyak 855.403 wisatawan.

Kepala Disbudpar Kabupaten Lombok Tengah Lalu M Putria menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara naik 40 persen dan wisatawan nusantara naik 350 persen. Masa inap ditargetkan dari 2,1 hari jadi 3,9 hari.

Direktur ITDC Edwin Darmasetiawan optimistis pembangunan infrastruktur di Mandalika melesat dalam 1-2 tahun ke depan. Kawasan wisata elite ini akan dapat dinikmati paling tidak mulai 2018. Konsepnya terencana seperti di Nusa Dua, Bali.

Bedanya, Mandalika berkonsep kota ramah lingkungan. Air laut diolah menjadi air bersih. Selain dari pengolahan sampah, kebutuhan listrik dipasok dari pemanfaatan tenaga surya.

KEK Mandalika dibagi menjadi dua kawasan, yaitu umum (mixed area) dan mewah (luxurious area). Di mixed area akan dibangun hotel-hotel berbintang dengan kapasitas total 5.000 kamar, sarana konvensi dan arena pertunjukan berskala internasional, pertokoan, jalur pejalan kaki, infrastruktur olahraga air, dan sarana ibadah.

Di luxurious area bakal dibangun arena golf seluas 150 hektar. Ada pula resor Medclub yang memiliki jaringan wisata elite terluas di dunia. ITDC akan membangun infrastruktur wisata bawah air, dermaga, hingga sandaran kapal pesiar.

Dibangun pula kluster syariah (Islamic friendly cluster) untuk menarik turis Asia dan Timur Tengah. Pembangunan ini akan memperkuat identitas Lombok sebagai World Best Halal Tourism Destination dan World Best Halal Honeymoon Destination yang ditetapkan dalam World Halal Travel Summit/Exhibition 2015. Demi target itu pula, penerbangan langsung dari Abu Dhabi ke Bandara Internasional Lombok akan dibuka. Wakil Direktur Program ITDC Indah Juanita mengatakan, sebagian besar pembangunan fisik akan dimulai Juli hingga akhir tahun ini, seperti jalan dan hotel. Keran investasi masih terus dibuka.

Akan bisa dibayangkan bagaimana sibuknya pembangunan kawasan ini dalam 1-2 tahun ke depan. Pelancong seperti Dani dan Norah yang baru mendengar itu tercengang. Mereka bertanya akankah kawasan ini menjadi seperti pusat-pusat wisata di Bali yang mereka anggap sudah terlalu padat.

”Jika seperti itu, apalagi yang kami harapkan dari tempat ini?” ujar Norah. Belum lagi, lanjutnya, kehadiran hotel-hotel supermewah itu akan menepikan keberadaan homestay dan hotel kecil.

Terlepas dari kekhawatiran turis, masyarakat setempat berharap pembangunan Mandalika segera terealisasi. Mereka telah menunggu berpuluh tahun. ”Bahkan sudah sampai menjual sawah dan ladang yang menjadi sumber mata pencarian utama. Anak-anak mereka dijanjikan akan direkrut sebagai tenaga kerja,” ujar Kepala Desa Kuta Badarudin.

 

Budaya asli

Pakar budaya dari Universitas Negeri Mataram, Agus Faturahman, mendukung sekaligus mengingatkan agar budaya asli tetap menjiwai pembangunan KEK Mandalika. Hal yang tak kalah penting, pembangunan jangan malah menghilangkan hak akses publik terhadap pantai.

Dia mengatakan, Mandalika memiliki ajang festival berumur ratusan tahun, bau nyale (mengambil cacing laut), yang mendatangkan belasan ribu pengunjung lokal dalam semalam. Warga dari ujung utara hingga selatan Lombok menginap di tepi pantai hanya dengan beralas tikar. Ajang budaya dan wisata rakyat ini jangan sampai mati karena pengembangan KEK.

Ia pun mengingatkan ITDC agar menilik dampak pembangunan wisata di kawasan pantai Senggigi dan 3 Gili. Selain menarik turis, pembangunan hotel dan resor sepanjang tepi pantai menimbulkan ekses negatif. Pantai hanya dapat dinikmati tamu hotel. Masyarakat sulit mengakses dan keindahannya tertutup bangunan hotel.

”Jika pengembangan hanya menjadikan Mandalika kawasan wisata elite, persoalannya menjadi seragam dan berulang. Hilanglah akses bagi rakyat kecil,” ujarnya.

 

(Khaerul Anwar/Runik Sri Astuti/Irma Tambunan)


 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juli 2016, di halaman 22 dengan judul “Kawasan Ekonomi Khusus: Karena Mandalika Tak Hendak Sendiri”