Avontur 24 Jam: Sisilia-Malta

0
791

Filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), yang pernah dua tahun tinggal di Italia, berujar, Sisilia adalah inti dari apa pun di Italia. Oleh karena itu, apabila mengunjungi Italia, tanpa mengunjungi Sisilia, tak ada nilainya. Daerah otonomi di Italia, dengan penduduk sekitar 5 juta jiwa, itu dikenal dengan peninggalan masa lalu, kekayaan alam, dan tradisi yang menarik.

Sisilia, beribu kota di Palermo, juga adalah pulau terluas di Laut Mediterania. Luas daratannya tidak kurang dari 25.703 kilometer persegi, terbagi dalam sembilan provinsi, seperti Cattania, Syracuse, Enna, dan Palermo, yang terkenal sebagai daerah tujuan wisata. Sisilia juga memiliki Gunung Etna, gunung api yang selama ini dikenal paling aktif di daratan Eropa. Keelokan Sisilia itu kian dilengkapi dengan kisah mafia, seperti dipaparkan Mario Puzo dalam novelnya,The Godfather, yang kemudian juga difilmkan.

Karena daya tarik Sisilia itulah kapal pesiar (cruise) Riviera, yang dimiliki Oceania Cruises, dalam perjalanannya menikmati keindahan negeri para dewa, Yunani, Mei lalu juga berlabuh di Sisilia dan Malta, negeri kecil yang sarat dengan pesona sejarah masa lalu.

Minggu (8/5)

07.56 Pelabuhan Giardini Naxos, Sisilia

Setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam menyusuri Laut Tengah (Mediterania) selepas dari Corfu, Yunani, akhirnya kapal Riviera memasuki perairan Sisilia, Italia. Namun, kapal sepanjang 239,25 meter yang terdiri atas 16 lantai itu tak bisa merapat ke pelabuhan. Penumpang diturunkan dengan menggunakan tunder (sekoci bermesin), dengan waktu tempuh sekitar 15 menit ke daratan. Pelabuhan Giardini Naxos, yang sebelumnya adalah sebuah kampung nelayan, sejak tahun 1970 menjadi daerah tujuan wisata sebab memiliki dua pantai nan indah dan sejumlah peninggalan masa lalu. Naxos, sebelum akhirnya bernama Giardini Naxos, adalah kawasan permukiman orang Yunani di Italia yang didirikan oleh Thucles Chalcidian pada tahun 734 sebelum Masehi. Keluar dari pelabuhan, pemandangan resor di tepian pantai dengan kafe di ruang terbuka yang berjejer pun langsung menarik perhatian. Di sisi pelabuhan terpampang peta besar lokasi wisata dan tempat menarik lain di Giardini Naxos. Di kawasan ini ada sejumlah museum dan peninggalan komunitas Yunani kuno.

08.30 Menikmati Catania

Dengan menggunakan bus wisata yang disewa Oceania Cruises, sejumlah penumpang, termasuk Kompas, meninggalkan Pelabuhan Giardini Naxos menuju Catania. Rombongan lain menuju kawasan Gunung Etna atau Muncibeddu (gunung yang indah) dalam bahasa Sisilia dan tujuan lain. Di Catania, tujuan utama kota wisata di pantai timur Sisilia ini adalah alun-alun atau piazza Catania. Inilah pusat kota Catania, provinsi yang dihuni lebih dari 1,15 juta jiwa. Di kawasan kota lama ini terdapat sejumlah bangunan bersejarah, seperti Kathedral (Duomo) Catania, air mancur (fontana), sejumlah gereja, dan patung. Catania merupakan salah satu pusat budaya, kesenian, pertanian, dan politik di Italia.

Jarak dari Giardini Naxos ke pusat kota Catania tak kurang dari 45 kilometer. Sekitar satu jam perjalanan, mata tak akan lepas dari hamparan pertanian, khususnya jeruk, zaitun (olive), dan sayuran. Perkampungan dan kota kecil yang dilalui juga menyegarkan mata, apalagi perjalanan dilakukan pada bulan Mei saat matahari tak terlalu terik menyinari wilayah Italia. Turun dari bus, wisatawan berjalan kaki menuju Giordino Pacini atau taman Pacini, yang dibangun sekitar tahun 1800. Ini adalah salah satu taman tertua di Catania, yang selain sejuk, juga dihiasi dengan air mancur dan sejumlah patung peninggalan masa lalu. Warga Catania acap kali menggunakan area taman yang dilengkapi jembatan jalur kereta api itu untuk bercengkerama dengan keluarga atau beraktivitas lain.

Menyeberang dari Giardino Pacini, melewati Porta Uzeda (pintu Uzeda), yang biasa dipenuhi pedagang berbagai kerajinan, hamparan bangunan tua membentang. Namun, yang mencolok adalah Kathedral Catania yang dipersembahkan untuk Santa Agatha, orang suci dalam agama Katolik, yang memang berasal dari Catania. Kathedral yang dibangun pertama kali tahun 1078 ini berulang kali rusak karena terkena gempa bumi dan letusan Gunung Etna. Renovasi terakhir gereja dengan gaya barok itu adalah tahun 1711 meskipun kubahnya baru dibangun tahun 1802.

Kompas/Tri Agung Kristanto
Kompas/Tri Agung Kristanto

 

Di depan Kathedral Catania, ada air mancur yang dilengkapi dengan tugu yang dibangun di atas punggung seekor gajah, yang dikenal sebagai Fontana dell Elefante. Patung ini dibangun oleh arsitek Giovanni Battista Vacarinni, yang berasal dari Palermo, tahun 1735. Gajah dalam legenda di Catania adalah binatang yang membebaskan tanah itu dari berbagai binatang buas sehingga bisa dihuni manusia dan diberi nama Katane tahun 480 sebelum Masehi.

Interior Kathedral Catania merupakan gabungan gaya Eropa, Romawi, dan Islam karena Catania pun pernah dikuasai oleh dinasti Islam dari Tunisia, Afrika Utara, tahun 903-1044. Di dalam katedral ini, selain disimpan jenazah Santa Agatha, juga ditampilkan jenazah Uskup Agung Catania, Kardinal Giuseppe Benedetto Dusmet (1818-1894) yang tak rusak hingga saat ini. Namun, tidak setiap saat pengunjung bisa melihat dan mengabadikan jenazah beato(orang suci) itu.

11.30 Aci Castello

Setelah berkeliling di kota lama Catania dan menikmati makanan yang banyak disajikan di kafe yang berderet di sekitar alun-alun, perjalanan dilanjutkan ke Aci Castelo. Kota kecil yang masih menjadi bagian dari Catania ini dibangun oleh bangsa Normandia tahun 1076, di tepian pantai Mediterania. Aci Castello kian berkembang setelah tahun 1296 Roger Lauria membangun kastil di puncak bukit. Kastil berbahan bebatuan dari letusan Gunung Etna itu menjadi kontras dengan warna biru air laut dan bebatuan hitam sisa-sisa letusan gunung yang berserakan di pantai. Di sekitar kastil terdapat sejumlah kafe, tempat pengunjung melepas lelah setelah mendaki bukit menuju ke kastil, yang kini difungsikan sebagai museum dan gereja. Lebih dari 200 anak tangga harus dilalui untuk mencapai kastil, yang sempat diambil alih Raja Frederik III dari Sisilia.

13.30 Mendaki Taormina

Sekembali dari Aci Castello dengan memakai bus ke Giardini Naxos, perjalanan menelusuri tanah Sisilia dilanjutkan dengan menggunakan taksi, seharga 30 euro, menuju Taormina. Inilah kota kecil, yang merupakan bagian dari Provinsi Messina, Sisilia, yang menjadi lokasi pengambilan gambar film The Godfather yang disutradarai Francis Ford Coppola. Jarak kota terletak sekitar 204 meter dari permukaan laut itu dari Pelabuhan Giardini Naxos tak lebih dari 7 kilometer, mendaki bukit.

Suasana di sudut kota Taormina, Sisilia. Kompas/Tri Agung Kristanto
Suasana di sudut kota Taormina, Sisilia. Kompas/Tri Agung Kristanto

 

Taormina menjadi tujuan wisata di Italia sudah sejak lama. Bahkan, pada abad ketiga sebelum Masehi, Yunani yang menguasai wilayah ini sejak abad kedua sebelum Masehi membangun teater untuk berbagai pertunjukan. Teater yang menghadap sisi timur Laut Mediterania itu, dikenal sebagai Teatro Greco (teater Yunani), menjadi daya tarik wisatawan ke Taourmina. Penyair Goethe pun terpikat dengan keindahan teater berdiameter 120 meter dan merupakan kedua terbesar di Sisilia. Goa-goa di perbukitan yang menjadi bagian dari teater itu masih dipertahankan sampai kini.

Teater Yunani kuno di Taormina, Sisilia
Teater Yunani kuno di Taormina, Sisilia

Selain teater kuno, pesona Taormina adalah keindahan alam dan kesejukannya serta tentu saja kisah mafioso. Namun, sejarah mafioso yang berasal dari konflik antarpenguasa di Sisilia tahun 827 tidak bermula dari Taormina. Film itu yang membuat di Taormina banyak ditemukan suvenir yang bercirikan ”mafia”, seperti bertuliskan ”Join the Carleone the Sicily Family”, ”The Godfather”, ”The Mafia”, ”Minchia Il Sicilia Fui”, dan ”Il Padrino Sono Io Sicilia”.

17.00 Kembali ke Riviera

Puas menjelajahi Taormina yang memang menawan, akhirnya harus kembali ke Riviera. Kapal pesiar yang dioperasionalkan sejak 2012 ini harus dijangkau kembali dengan tunder dari Pelabuhan Giardini Naxos. Gelombang Laut Tengah yang meninggi pada petang hari membuat penumpang baru bisa naik ke kapal setelah terombang-ambing tak kurang dari 30 menit. Malam hari di atas kapal dilewatkan dengan menikmati makan malam, yang sudah menjadi bagian dari paket perjalanan selama 8 hari 7 malam dari Athena, Yunani, menuju ke Athena kembali. Sajian makanan di Riviera amat diperhatikan, sesuai dengan motonya, ”The Finest Cuisine at Sea”. Ada tujuh restoran di dalam kapal, dengan berbagai olahan pangan dari beberapa negara.

Jika tidak mengikuti perjalanan dengan kapal pesiar, wisatawan di Sisilia mempunyai pilihan hotel yang amat beragam di Giardini Naxos, Catania, Taormina, atau kota lainnya. Pukul 19.00 waktu setempat, Riviera meninggalkan perairan Sisilia.

Senin (9/5)

08.00 Malta

Setelah melakukan perjalanan di Laut Mediterania kembali, selama sekitar 12 jam yang bisa diisi dengan berbagai aktivitas dan hiburan di kapal, Riviera merapat di Pelabuhan Valletta, Malta. Republik Malta, negara yang terdiri atas lima pulau dengan luas wilayah 316 kilometer persegi ini mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris tahun 1964. Jumlah penduduknya kini tidak lebih dari 450.000 orang. Malta memiliki banyak obyek wisata menarik, seperti Kota Tua Madina, Kathedral Santo Yohannes, taman kota Valletta, dan Benteng Rinella. Namun, karena harus kembali ke Jakarta, saya menikmati keindahan Malta hanya sambil lalu, menuju bandara internasional Malta.

Tri Agung Kristanto 


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juni 2016, di halaman 28 dengan judul “AVONTUR 24 jam: Sisilia Malta”