Kelantangan Kitab Rupa

0
836

Sejumlah 12 perempuan perupa menghadirkan kengerian perbudakan seks terhadap para perempuan Asia oleh tentara Jepang dalam sebuah pameran Kitab Visual Ianfu. Narasi dalam bentuk rupa itu sungguh lantang.

Di tengah ruang pameran Cemara 6 Galeri di Jakarta, sebentuk kebaya dan kain transparan itu tergolek, tetapi tak luruh. Kebaya dan kain itu kosong, tetapi seperti bertubuh. Seperti ada tubuh manusia yang tidak terlihat, tubuh manusia itu diciptakan sendiri oleh isi kepala pengunjung pameran. Sebentuk kupu-kupu kecil bertengger di kerah kebaya itu, seperti menjadi penyaksi atas kengerian di atas tubuh ”sang perempuan”.

Di atas ”tubuh perempuan” yang tergolek tak berdaya itu, tergantung sebuah ”lampu gantung” menguning suram, dengan ”irisan kristal” dalam formasi bunga krisan berdiameter 1,5 meteran. Sekilas wujudnya serupa lampu gantung krisan yang indah, tapi makin dilihat ”lampu gantung” itu makin menebar nyeri.

Lampu gantung berpola krisan itu tersusun dari formasi 1.000 kondom, tertata rapi. Di antara kerapian itu, puluhan kondom terlepas dari formasi itu, seperti dalam jatuh, mirip bom-bom yang bakal jatuh merajam ”sosok perempuan” yang tergolek di bawahnya. Instalasi karya Indah Arsyad dan Ade Artie Tjakra menumpahkan kengerian mencekam Perang Dunia II di Asia, ketika ratusan ribu perempuan diculik dan dijadikan budak seks tentara Jepang.

Ada sepasang kelambu di dua sudut ruang pameran, seolah menjadi dua bilik dadakan. Kedua bilik dadakan itu mengapit lukisan karya Indyra, melukiskan seorang perempuan dengan kebaya compang-camping, dan kain yang dikenakan sekenanya. Kepalanya terdongak dan tersandar di dinding, menumpu seluruh badan dan jiwa yang koyak.

Begitu kaki mendekat, mata menangkap samar-samar ratusan nama perempuan yang ada di dua kelambu bilik dadakan itu. ”Umikulsum”, ”Mintje”, ”Yosefina”, ”Radijem”, ”Tini”, ”Mardiyem”, ”Lasiyem”, banyak lagi. Di dalam salah satu bilik, sesosok kebaya bening yang kosong duduk terbungkuk ke kiri, seperti lelah menanti kebebasan.

Di dinding bilik karya Bibiana Lee dan Ida Ahmad itu, tertulis sebuah kesaksian Mardiyem, salah seorang perempuan penyintas perbudakan seks tentara Jepang. ”Nama Mardiyem telah hilang dari Telawang. Aku diberi nama Momoye, dan menempati kamar nomor 11.”

Karya instalasi bertajuk Kitab Visual Ianfu dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Selasa (9/8). Pameran hingga 23 Agustus ini digelar dalam rangka sosialisasi dan peringatan Hari Ianfu Sedunia tiap 14 Agustus. Ianfu merupana sebutan untuk perempuan yang menjadi korban kekejaman militer Jepang sebagai pemuas seksual. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM) 09-08-2016
Karya instalasi bertajuk Kitab Visual Ianfu dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Selasa (9/8). Pameran hingga 23 Agustus ini digelar dalam rangka sosialisasi dan peringatan Hari Ianfu Sedunia tiap 14 Agustus. Ianfu merupana sebutan untuk perempuan yang menjadi korban kekejaman militer Jepang sebagai pemuas seksual.
Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM)
09-08-2016

Menggemakan gugatan

Pameran Kitab Visual Ianfu yang berlangsung di Cemara 6 Galeri pada 9-23 Agustus seperti deretan karya seni rupa yang bertutur lantang tentang nasib tragis para jugun ianfu. Sebutanjugun ianfu berasal dari bahasa Jepang. Kata ju bermakna ’ikut’, sementara gun berarti ’bala tentara atau militer’.

Ian berarti ’kenyamanan atau hiburan’, sementara fu bermakna ’perempuan’. Jepang menggelar secara sistematis praktik jugun ianfu demi memastikan para tentaranya terhindar dari penyakit seksual menular sepanjang Perang Dunia II.

Peneliti independen kasus jugun ianfu, Eka Hindra, menuliskan catatan pengantar pameran bahwa ianfu asal Indonesia kebanyakan diculik dari Jawa, disebarkan ke banyak daerah di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Ianfu asal Indonesia—mereka dipilih dari para gadis berumur 14-25 tahun, bahkan ditemukan korban berusia 13 tahun dan 9 tahun—juga dikirim ke Singapura, Myanmar, dan Filipina.

Eka menghitung beragam versi jumlah perempuan yang dikorbankan menjadi jugun ianfu. ”Dr Ikuhito Hata menyebutkan jumlah 90.000 ianfu. Profesor Yoshimi Yoshiaki menyertakan jumlah ianfu sekitar 45.000 dan 90.000. Ilmuwan Tiongkok, Profesor Su Zhiliang, memunculkan angka yang lebih besar lagi, yaitu 360.000 dan 410.000,” tulis Eka.

Gadis Fitriana berhasil menegaskan bahwa pokok persoalan ianfu bukan tentang jumlah ianfu, tetapi bagaimana setiap ianfu mengalami kepedihan mereka.

Gadis membangun instalasi lukisan dan proyeksi digital yang menggambarkan bagaimana setiap ianfu menghitung hari.

Dalam lukisannya, seorang perempuan duduk, tertunduk, memandangi bunga di tangannya, meratap dan menghitung setiap pemerkosanya. Proyeksi digital ”menoreh” satu garis turus di kanvas itu, disusul satu garis turus lain. Lagi, lagi, dan lagi, hingga lukisan tertutup garis turus bertumpukan yang bundar, serupa matahari terbit dalam bendera Jepang.

Dyah Ayu menyangatkan ketegangan itu dengan rupa tiga dimensi dari detak jantung yang berdegum kencang. Dyah menaruh sebuah kesaksian bahwa para ianfu tidak hanya berdegup kencang teringat masa lalu, tetapi juga karena mengingat masyarakat yang melecehkan mereka sebagai pelacur. Mereka tidak pernah memilih, dan dipaksa menjadi ianfu.

Karya instalasi bertajuk Kitab Visual Ianfu dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Selasa (9/8). Pameran hingga 23 Agustus ini digelar dalam rangka sosialisasi dan peringatan Hari Ianfu Sedunia tiap 14 Agustus. Ianfu merupana sebutan untuk perempuan yang menjadi korban kekejaman militer Jepang sebagai pemuas seksual. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM) 09-08-2016
Karya instalasi bertajuk Kitab Visual Ianfu dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Selasa (9/8). Pameran hingga 23 Agustus ini digelar dalam rangka sosialisasi dan peringatan Hari Ianfu Sedunia tiap 14 Agustus. Ianfu merupana sebutan untuk perempuan yang menjadi korban kekejaman militer Jepang sebagai pemuas seksual.
Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM)
09-08-2016

Hari Ianfu

Beberapa karya mencekam itu menggenapi cara kurator pameran itu, Dolorosa Sinaga, membangun alur bertutur dari sebuah narasi sejarah yang tersembunyi tentang para ianfu dari Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Pameran itu dimulai dengan karya Indira Natalia, yang menghadirkan lukisan potret lima perempuan muda, berikut lima potret mereka di masa tua yang digenggam trauma masa lalu menjadi seorang ianfu. Perbudakan seks tentara Jepang telah menghancurkan cita-cita dan mimpi ratusan gadis muda.

Lalu, sebuah lukisan di atas papan kayu karya Nia Laughlin menggambarkan potret seorang perempuan dengan mulut dibekap tangan, menukas bagaimana penyangkalan pelaku dan negara para korban, yang untuk kedua kalinya membungkam serta melukai korban. AP Bestari menggulirkan alur kisah, dengan lukisan cat air seorang perempuan tua yang tegak menatap lurus-lurus, para penyintas yang bangkit dan memelihara harapan meraih keadilan. Para penyintas yang berani lantang menyuarakan apa yang telah dilaluinya.

Putri Ayu Lestari dan Ayu Maulani membangun lagi sebuah ”akhir” alur tutur narasi nasib paraianfu. Putri memilih komik dan instalasi sebagai medium karyanya, membuat komik yang meringkas kesaksian salah satu di antara sejumlah penyintas yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Putri menaruh buku komiknya di dalam sebuah kantong, yang digantung di dinding dan dikerumuni perempuan-perempuan bersayap kupu-kupu, menegaskan ratusan ribu ianfu bukanlah sekadar angka. Sementara Ayu Maulani meneruskan kepedihan itu dengan empat jam dinding yang ganjil, menegaskan para penyintas masih menunggu keadilan datang.

Dolorosa menuturkan, karya 12 perupa perempuan yang dipamerkan sebagai peringatan Hari Ianfu Sedunia pada 14 Agustus itu lahir dari diskusi yang dimulai sejak Maret, disusul riset bersama yang intens digelar sejak Mei hingga Juli. Di antara 12 perupa itu, delapan perupa berusia kurang dari 30 tahun.

”Itu adalah upaya kami mengantarkan sejarah tersembunyi kepada generasi muda. Sejarahianfu tersembunyi dari pemahaman generasi muda kita yang bahkan lebih memahami tragediholocaust yang sama mengerikannya. Padahal, tragedi ianfu adalah bagian dari sejarah Indonesia,” kata Sinaga.

Indonesia memang belum punya kebesaran hati menerima sejarah-sejarah pahitnya. ”Para perupa ini memulainya dan negara harus menjawab hal itu,” kata Sinaga.

Karya instalasi bertajuk Kitab Visual Ianfu dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Selasa (9/8). Pameran hingga 23 Agustus ini digelar dalam rangka sosialisasi dan peringatan Hari Ianfu Sedunia tiap 14 Agustus. Ianfu merupana sebutan untuk perempuan yang menjadi korban kekejaman militer Jepang sebagai pemuas seksual. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM) 09-08-2016
Karya instalasi bertajuk Kitab Visual Ianfu dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, Selasa (9/8). Pameran hingga 23 Agustus ini digelar dalam rangka sosialisasi dan peringatan Hari Ianfu Sedunia tiap 14 Agustus. Ianfu merupana sebutan untuk perempuan yang menjadi korban kekejaman militer Jepang sebagai pemuas seksual.
Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM)
09-08-2016