Public Speaking: Berdiri Tegak dan Berbicara Sebaik Berpikir

0
2218

SERPONG, KOMPAS CORNER – Menyampaikan gagasan atau ide dalam dunia profesional bukan merupakan hal yang asing. Oleh sebab itu, keterampilan public speaking umunya telah diajarkan sejak dalam bangku pendidikan. Dengan harapan generasi muda dapat berbicara dengan baik dan benar di depan publik. Namun, berdasarkan survei dari The People’s  Almanack Book of List oleh David Wallechinsky yang dikutip dalam Daley (2005), hal yang paling ditakuti adalah berbicara di depan kelompok.

Apa yang paling Anda takutkan?
Berbicara di depan kelompok

Ketinggian

Serangga dan hama

Masalah keuangan

Air yang dalam

Penyakit

Kematian

Terbang

41 %

32%

22%

22%

22%

19%

19%

18%

Gambar 1. Hasil survey terhadap tiga ribu orang Amerika

Hal diatas membuktikan bahwa berbicara di depan publik bukan merupakan hal yang mudah. Namun, dengan terus berlatih dan mempraktekkan cara yang tepat seseorang dapat mahir berbicara di depan ribuan orang sekalipun.

Ketika hendak melakukan presentasi, sebagian besar orang merencanakan apa yang akan ia lakukan di hadapan penonton. Namun, meski segala sesuatu hal telah dikendalikan di dalam pikiran Anda, penuturan Anda kerap kali tersendat. Suksesnya tahap awal ini melibatkan banyak persiapan, antara lain:

  1. Persiapan: Mental Dan Fisik
    Inti dari bagian persiapan adalah untuk mengetahui tujuan dan isi dari apa yang akan Anda sampaikan. Apakah pesan yang disampaikan bermanfaat bagi audiens yang mendengarkan saat itu atau tidak? Churchill dalam Daley (2005) menekankan bahwa dirinya membutuhkan waktu enam sampai tujuh jam untuk menyiapkan pidato berdurasi 45 menit. Dengan waktu dan usaha cukup yang Anda berikan, akan memberikan kepuasan tersendiri terhadap diri Anda.

    Selanjutnya Anda dapat menulis apa yang akan Anda sampaikan terlebih dahulu, dan berlatih membacanya berulang kali di hadapan rekan atau keluarga. Ingat! Naskah tersebut tidak untuk dihafal, hanya untuk dijadikan kerangka pembicaraan.

    Di hadapan audiens, Anda tidak boleh membaca naskah yang telah disusun. Jika hal yang akan disampaikan cukup panjang dan memiliki beberapa poin yang harus disampaikan, Anda dapat menggunakan sebuah catatan kecil berisikan kata kunci dari hal-hal tersebut.

  1. Bagaimana Pembicara Memengaruhi Audiens
    Ketika Anda seorang diri sedang memaparkan sebuah gagasan, pastikan Anda melakukan kontak mata. Sering kali pembicara tergelincir ke dalam kebiasaan aneh yang berpengaruh negatif kepada audiens. Contoh beberapa perilaku defensif tersebut menurut Daley (2005):

    • Mengalihkan pandangan dari audiens ketika mencari-cari sebuah kata
    • Melihat kepada orang-orang tanpa benar-benar memandang mereka
    • Melihat ke atas, mengharapkan campur tangan Ilahi
    • Menutup mata sejenak untuk berpikir
    • Melayangkan pandangan ke seluruh ruangan
      Febriko Anggara melatih peserta workshop (02/05) untuk fokus pada satu pasang mata dalam menyampaikan gagasan di depan publik.
      Febriko Anggara melatih peserta workshop (02/05) untuk fokus pada satu pasang mata dalam menyampaikan gagasan di depan publik.

      Febriko Anggara (Riko) dalam workshop HUT Kompas Corner yang ke-3, “Conduct Critical Interview” (02/05) mengajarkan bahwa Anda harus fokus pada satu pasang mata terlebih dahulu. Karena fokus Anda hanya pada satu orang, tekanan yang ada berupa rasa gugup disaksikan puluhan pasang mata akan berkurang. Mata Anda akan mengendalikan otak Anda seakan penonton hanya satu orang, sehingga Anda dapat menyelesaikan satu pokok pembicaraan dengan baik. “Lakukan konfirmasi dengan anggukan kepala, dan pastikan seseorang tersebut membalas anggukan kita” tegas Riko. Hal ini penting karena Anda dapat mengetahui apakah pemilik sepasang mata itu menaruh perhatian terhadap apa yang Anda bicarakan. Jika orang tersebut tidak membalas anggukan Anda, Anda dapat melontarkan pertanyaan “apakah bisa dimengerti?” dsb. Pastikan orang yang Anda tatap matanya tersebut membalas anggukan Anda.

  2. Cara Memengaruhi Audiens
    Albert Mehrabian, seorang professor di UCLA, melakukan riset Pengaruh Visual Dalam Komunikasi sebagai berikut

    Gambar 2. Pengaruh Visual Dalam Komunikasi. Diadaptasi dari Non-verbal Communication, ©1972 Albert Mehrabian yang dikutip dalam Daley (2005).
    Gambar 2. Pengaruh Visual Dalam Komunikasi. Diadaptasi dari Non-verbal Communication, ©1972 Albert Mehrabian yang dikutip dalam Daley (2005).

    Bagaimana Anda tampil meliputi pakaian, bahasa tubuh, dan pergerakan mata. Umumnya penampilan Anda dapat memperlihatkan atau mengontrol rasa gugup. Bagaimana Anda bersuara sangat bergantung pada volume dan infleksi bukan kualitas suara Anda. Apa yang Anda katakan, umumnya tidak terlalu berpengaruh. Anda bisa saja mengumbar janji atau menyatakan prospek kerja Anda dengan berapi-api, tetapi belum tentu akan dipercayai oleh pendengar.

    Letak tangan Anda yang tepat dalam presentasi adalah tergantung secara wajar di sisi tubuh Anda. Dengan adanya gerakan yang terjadi secara berkelanjutan berdasarkan pada hal yang ingin digarisbawahi, tangan Anda akan memancing mata audiens yang cenderung mengembara. Karena jika Anda hanya terdiam di depan sana, mata audiens akan mengembara ke tempat lain dan menimbulkan rasa kantuk.

    Cara Anda berdiri akan terlihat lebih berwibawa jika Anda menancapkan kaki selebar bahu, dan sejajar dengan pendengar. Dengan demikian, Anda akan merasa nyaman dan merasa kendali ada pada diri Anda. Rasa percaya diri pun akan bertumbuh, dan Anda dapat lebih leluasa menyampaikan gagasan. Akan lebih baik jika Anda tidak berjalan bolak-balik sembari berbicara. Namun, hal ini tidak berarti tatapan Anda hanya satu arah, Anda tetap dapat menggerakan kepala ke kiri dan kanan untuk melakukan kontak mata.

    Volume suara Anda juga sangat berperan penting dalam public speaking. Kevin Daley dan Laura Daley (2005) bersaksi bahwa dari 450 ribu lebih eksekutif yang mereka latih, hampir semua tidak berbicara dengan volume yang cukup. Volume rendah identik dengan pidato yang monoton dan membosankan. Dengan demikian audiens akan menilai bagaimana saya bisa tertarik dengan apa yang Anda katakan sedangkan Anda tidak terlihat bersemangat atau meyakinkan? Hal ini merupakan salah satu penyebab kegagalan bisnis, karena dengan volume rendah ketertarikanpun menjadi rendah (Daley, 2005).

  3. Hal Yang Harus Dihindari
  • Menahan energi kegugupan yang akan menhancurkan pembicaraan Anda.
  • Menyatukan kedua tangan. Karena mereka akan bergerak bersamaan sehingga tekanan pada hal-hal penting menjadi kurang jelas. Tangan seharusnya bergerak sendiri-sendiri setiap kali guna menciptakan semangat.
  • Berpikir bahwa dengan membaca teks pidato, Anda dapat mengatasi rasa gugup, karena sesungguhnya audiens tidak suka kalau Anda lakukan hal tersebut.

Semoga dengan beberapa masukan di atas, dapat membantu Anda untuk lebih baik lagi menyuarakan pemikiran Anda. Ingat! Penampilan Anda akan terus meningkat, seiring berjalannya waktu dan pengalaman. So, tetap semangat berlatih!

 

 

Penulis: Herlina Anace Yawang

Editor: Editorial Kompas Corner

Sumber

https://kompasmuda.com/2016/05/05/wakili-publik-dengan-pertanyaanmu/

Daley, K., & Daley, L. (2005). Speaking Mastering: Menguasai Strategi Presentasi yang Efektif. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Sumber Foto

https://kompasmuda.com/2016/03/19/bangun-personal-branding-lewat-aksi-sosial/