Aksen: Semarak “Modest Wear”

0
1323

Busana hijab atau “modest wear” semakin diminati. Pasar yang kian besar dan daya pakai yang tinggi karena bisa dipakai semua kalangan membuat banyak desainer terdorong untuk ikut menggarap segmen ini.

Lenny Agustin dan Lisa Fitria adalah dua di antaranya. Pelanggannya sudah cukup lama meminta Lenny membuatkan mereka busana hijab. Namun, Lenny masih ragu. Oleh karena ia tidak memakai hijab, Lenny khawatir kurang bisa menjiwai kebutuhan konsumennya. Baru setelah bertemu Lisa Fitria, rekannya sesama desainer, keduanya kemudian sepakat berkolaborasi mengeluarkan label busana hijab.

Lisa, meski memakai hijab, pada awalnya mendesain baju berkonsep nonhijab. Baru tiga tahun terakhir ia memutuskan mengemas ulang labelnya dan hijrah ke busana hijab. Toh, baju-baju panjang tanpa hijab cocok dipakai semua kalangan perempuan sehingga sebenarnya secara pasar, Lisa tidak kehilangan, tetapi justru bisa memperluas pasarnya. Kolaborasi keduanya ternyata saling melengkapi.

“Aku tipenya tomboi, Mbak Lenny girly. Aku suka hitam putih, Mbak Lenny colorful banget,” kata Lisa.

Kolaborasi ide, konsep, dan karakter rancangan masing-masing melebur dalam Double L, label yang diusung keduanya. Untuk koleksi pertama keduanya yang ditampilkan lewat acara Ramadhan in Style di Mall Gandaria City, Jakarta, beberapa waktu lalu, duet Lenny dan Lisa menampilkan koleksi yang dikemas dalam warna hitam putih dengan potongan bernuansa feminin atau maskulin. Rok, kaftan, blus, celana panjang, celana jodhpur, ponco, kamisol, atau overall menjadi pilihan keduanya.

Untuk mengimbangi warna hitam putih, digunakan detail dan aplikasi yang lebih feminin, seperti renda dan ruffle atau rimpel. Mengangkat tema “Gardener”, keduanya memanfaatkan teknik stiker cetak digital untuk mengaplikasikan gambar-gambar yang berkaitan dengan tema berkebun, mulai dari tabur benih hingga panen, seperti bibit, buah, kupu-kupu, sarung tangan, sekop, pot, ataupun petak tanah. Motif pertama kali dicetak di atas kertas stiker yang kemudian dipindahkan ke atas kain. Kelebihannya, lebih mudah untuk mengatur letak motif pada baju.

“Ini gara-gara kami ke London dalam rangka Indonesian Weekend. Jadi, 12 desainer dari Indonesian Fashion Chamber mengikuti peragaan di dekat Potters Fields Park dengan latar belakang Tower Bridge di tepi Sungai Thames. Waktu itu bunga-bunga sedang bermekaran. Kami berdua berpikir, ih keren ya kalau bisa kita angkat lewat koleksi,” kata Lisa.

Gambar hasil corat-coret keduanya ini dituangkan dalam warna hitam putih atau berwarna yang kemudian diaplikasikan pada bagian blus atau celana panjang. Ada pula motif pada stiker yang dipotong lalu dipasang sebagai aplikasi yang tidak sepenuhnya menempel, yakni pada bagian tepi mantel panjang atau leher bagian atas blus.
“Berbusana sopan itu ternyata juga bisa fun. Kolaborasi dengan Lisa mempermudah adaptasi saya dengan styling modest fashion, bagaimana mengatur keseimbangan antara batasan dalam modest fashion dan keindahan dalam fashion,” ungkap Lenny.

Misalnya, ia mencontohkan, terkadang komposisi desainnya terlihat lebih indah jika berlengan pendek atau dalam bentuk gaun mini. Namun, ini bisa diakali dengan memadukannya dengan celana panjang meski tidak selalu berakhir sesuai harapan.

“Pegangan saya dalam modest fashion, harus tertutup, tetapi tetap nyaman. Akhirnya, saya menemukan cara untuk menyeimbangkan kedua hal, yakni mengalihkan fokus ke satu bagian saja. Misal, bagian atas atau bawah saja sehingga salah satu harus terlihat simpel, enak dilihat, dan tidak berlebihan,” kata Lenny.

Kasual dan elegan

Masih dari ajang Ramadhan in Style, Irna Mutiara yang sudah lebih dahulu terjun dalam dunia busana hijab menampilkan ciri khasnya dengan busana-busana yang bergaya romantis dan elegan lewat labelnya, Irna La Perle.

Dengan pemilihan warna-warna yang lembut, seperti merah muda keabu-abuan atau dusty pink, hijau mint, dan putih tulang atau broken white, Irna ingin memperlihatkan kesan feminin dan elegan tetap bisa dicapai, tetapi dengan tetap memperhatikan kaidah dalam berbusana. Pemilihan bahan yang jatuh, seperti sifon, organdi, dan tafeta, diimbangi dengan teknik drapping dan smock atau kerut untuk membuatnya lebih bervolume dan bertekstur.

Irna berpegangan pada prediksi tren dan kondisi lingkungan sekitarnya serta gen dasar rancangannya dalam mendesain busana. Untuk mencapai keseimbangan antara aturan berbusana dan ketiadaan batas dalam fashion, Irna mempelajari dulu kaidah yang ada kemudian menerapkannya dalam busana yang ia rancang. “Kalau busana desain saya dipakai terlihat pantas dan tidak mengundang komentar negatif orang, saya anggap sudah sesuai dengan norma dan aturan serta tetap tercapai sisi estetikanya,” kata Irna.

Deden Siswanto juga menggarap busana hijab, bahkan hingga ke baju pengantin. Ia bahkan sudah menggarap busana hijab sejak 2005. Ada dua lini yang dikembangkannya, yakni AD Siswanto dan DedenSiswanto untuk busana harian dan couture atau adibusana serta Densis untuk busana pengantin berhijab.

Kesukaannya mengolah kain tradisional, seperti tenun dan batik, tidak ia tinggalkan. Misalnya, pada salah satu koleksi AD Siswanto yang terlihat simpel. Dengan warna-warna tanah dan bebatuan yang cenderung gelap, Deden memberi sentuhan tenun pada bagian tepi bawah rok. Sementara pada koleksi DedenSiswanto, yang sama-sama dimunculkan dalam kesempatan ini adalah tenun digunakan secara penuh untuk bawahan yang dililit atau bagian kerah lebar pada mantel pendek.

Sri Rejeki


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Juli 2016, di halaman 22 dengan judul “Semarak “Modest Wear””.