Anak Desa Keren: Ekspresikan Idemu

0
1018

TANGERANG, KOMPAS CORNER – Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 252.370.792 jiwa, tetapi 10,96% masyarakat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini berdampak pada generasi penerus yang kian sulit mencicipi ilmu pendidikan dengan baik. Kesadaran akan adanya teknologi yang dapat membantu proses belajar mengajar nampaknya tidak berpengaruh bagi sebagian besar warga pedesaan JABODETABEK.

Menanggapi minimnya penggunaan perangkat teknologi di beberapa sekolah sub-urban, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengadakan Proyek Sosial Edukatif hasil dari Workshop Personal Branding through humanity act didukung oleh Kompas Corner, yang dikenal dengan Anak Desa Keren (kenal kreasi dan seni). Proyek ini mendapat Juara II pada kompetisi Proyek Sosial sebagai kelanjutan dari workshop “Personal Branding Through Humanity Act” dan mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 3.000.000,- untuk mendukung keberlangsungan acara ini. Kompas Corner sendiri sangat tertarik dengan pengaplikasian Harian Kompas sebagai dasar ilustrasi yang dilakukan oleh anak-anak tingkat sekolah dasar ini. Dengan tingkat literasi dan minat baca masyarakat Indonesia yang rendah dibandingkan negara asia sekitar, tentu hal ini diharapkan mendorong semangat anak muda untuk mulai membaca.

Mahasiswa UMN (kiri) membimbing dan membantu siswi (kanan) dalam pemilihan warna.
Mahasiswa UMN (kiri) membimbing dan membantu siswi (kanan) dalam pemilihan warna.

Kegiatan yang dicetuskan oleh Ryan Sucipto, Regina Devie, dan Ly Agung selaku mahasiswa UMN ini bertujuan untuk memupuk semangat anak-anak di pedesaaan agar dapat berinovasi sejak kecil melalui bidang seni rupa. Tak hanya itu, Ryan dkk juga mengajak mahasiswa lainnya untuk turut ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan dan sosial seperti ini.

Sabtu (16/04) Anak Desa Keren mengunjungi SDN Curug Wetan V untuk membangkitkan semangat membaca kemudian menginterpretasikan apa yang dibaca ke dalam sebuah lukisan. Sebagai bahan bacaan, panitia membagikan peserta yang adalah murid kelas 4 dan 6 beberapa harian Kompas dan majalah Bobo. Dalam wawancaranya bersama Kompas Corner, Agung mengatakan bahwa akan ada enam kelompok dengan enam tema cerita berbeda, yang kemudian akan digambar, dan dipresentasikan oleh beberapa anak. Tema yang diusunng berdasarkan tema harian Kompas antara lain Pendidikan, Kebudayaan, Iptek, Lingkungan, dan Persahabatan. “Karya mereka minggu depan (23/04) akan dipamerkan juga di sekolah ini selama satu minggu” terang Agung.

Cantika (kanan) mencoba melihat pemahaman siswa (kiri) terhadap materi yang diberikan.
Cantika (kanan) mencoba melihat pemahaman siswa (kiri) terhadap materi yang diberikan.

Pada awal kegiatan, para peserta diberi pengantar tentang bagaimana dasar-dasar menggambar yang baik oleh Cantika Sunandar. Kemudian, dilanjutkan dengan pembagian kelompok serta pendistribusian perangkat menggambar. Dalam setiap kelompok tersebar mahasiswa sukarelawan dari UMN yang bertugas membimbing dan menjelaskan murid-murid tentang artikel yang tepat untuk mereka baca dan tuangkan ke dalam buku gambar yang dibagikan. Pada penghujung acara, perwakilan dari setiap kelompok maju dan menceritakan karyanya di depan kelas. Tidak disangka, antusiasme adik-adik sekolah dasar ini begitu tinggi mendengarkan teman-temannya bercerita di depan kelas loh!

Regina (kiri) menuntun siswa (kanan) dalam menjelaskan hasil gambarnya.
Regina (kiri) menuntun siswa (kanan) dalam menjelaskan hasil gambarnya.

Dalam wawancara bersama Kompas Corner, Supriyadi selaku wakil kepala SDN Curug Wetan V menyatakan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Anak Desa Keren dan mahasiswa UMN lainnya yang telah berpartisipasi dan meluangkan waktu untuk berbagi ilmu Seni Rupa bersama anak didiknya. “Karena kemampuan guru di sini dalam menggambar kan terbatas, kalau adik memang dilatih dalam bidang tersebut, jadi luas informasinya tentang gambar” sambung Supriyadi. Beliau berharap 36 siswa kelas 6-nya dapat langsung mempraktikan ilmu yang diberikan ketika menghadapi Ujian Sekolah Seni dan Budaya kelak.

Dengan keterbatasan dalam mengakses perangkat teknologi informasi, generasi penerus bangsa dapat memanfaatkan media konvensional untuk terus belajar dan berinovasi, sehingga mereka kelak dapat bersaing mengharumkan nama bangsa Indonesia.

 

 

Penulis  :  Herlina Yawang

Editor   :  Sulyana Andikko