Dari Gang Sayidan sampai ke Austin

0
2912

Dari Gang Sayidan sampai ke Austin

O coba kawan kau dengar ’ku punya c’rita

Tempat biasa ku berbagi rasa

Suka duka tinggi bersama

Di gang gelap di balik ramainya Jogja

Sebelum melantunkan penggalan lirik lagu berjudul ”Di Sayidan” itu, vokalis Heru Wahyono meminta penonton menyalakan korek api dan mengacungkannya ke udara. Lantai dansa yang panas sontak jadi syahdu. Itu adalah pentas pamitan Shaggydog, Jumat (11/3), di Jakarta, sebelum mereka tampil pada festival South by Southwest di Austin, Texas, Amerika Serikat.

Heru bercerita bahwa 19 tahun lalu mereka cuma enam anak muda tukang nongkrong di gang yang bermuara di Jalan Brigjen Katamso di Kampung Sayidan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Di sekitar mulut gang ada Kelenteng Fuk Ling Miau. Tak jauh dari kelenteng itu ada Gereja Katolik Santo Fansiskus Xaverius. Lokasinya tak lebih dari 1 kilometer dari titik nol Yogyakarta, yaitu di sekitar Gedung Agung. Bisa dibilang tempat nongkrong mereka adalah jantung Kota Yogyakarta dengan keanekaragaman orang di sekitarnya.

Di Sayidan itulah tempat tinggal Richard Bernardo (gitar) dan A Odyssey Sanco atau Bandizt (bas). Mereka adalah saudara sepupu. Heru (vokal), Yustinus Satria Hendrawan atau Yoyo (drum), Raymondus Anton Bramantoro (gitar), dan Lilik Sugiyarto (keyboard) juga sangat akrab dengan lingkungan di Sayidan.

Bandizt yang menulis lagu ”Di Sayidan”. Lagunya ada di album ketiga, Hot Dogz, yang beredar pada 2003. Tahun itu adalah tahun paling sibuk bagi Shaggydog yang lahir pada 1 Juni 1997 ketika pergerakan musik independen (indie) sedang menggeliat, termasuk di Yogyakarta.

Shaggydog kiri-kanan: Raymond, Bandizt, Lilik, Richard, Yoyo, Heru. Kompas/Herlambang Jaluardi
Shaggydog
kiri-kanan: Raymond, Bandizt, Lilik, Richard, Yoyo, Heru. Kompas/Herlambang Jaluardi

Shaggydog bergabung di gerakan itu dengan membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri. Mereka main di pentas underground, yang lebih identik dengan genre punk, hardcore, aneka jenis metal, hingga industrial. Lagu pertama mereka, ”Room”, masuk di album kompilasi musik bawah tanah itu.

Dari album kompilasi itu saja, Shaggydog memberi warna lain di antara komunitas mereka. Mereka konsisten memainkan ska serta mengulik akar dan cabang musik yang berasal dari Jamaika ini. Pada komposisi mereka ada warna rocksteady, dub, dancehall, swing, jazz, rock, dan tentu saja reggae.

Shaggydog membuat album pertama pada 1999 secara swadaya. Album berformat kaset itu terjual hingga 20.000 keping. Angka itu cukup banyak untuk ukuran band baru yang bergerak sendiri. Album kedua menyusul pada 2001 berjudul Bersama.

Karib mereka, Andy ”Memet” Zulfan, menilai penggemar Shaggydog setia karena konsistensi itu. ”Mereka juga mau bereksperimen memasukkan unsur-unsur pembentuk musik ska,” kata Memet yang tak lagi menjadi manajer Shaggydog ini. Ia mendampingi Shaggydog sejak awal mereka terbentuk.

Shaggydog menikmati masa keemasan ska di Indonesia pada permulaan milenium baru. Waktu itu, hampir tiap kota besar punya band ska. Setiap acara musik selalu menampilkan band ska. Kemeja pantai dan topi pet, salah satu ciri ska, jadi tren mode.

Label rekaman besar juga tertarik pada fenomena ini. Shaggydog pun tak ketinggalan. Mereka sudah punya bekal materi lagu yang bagus serta basis penggemar berat. Shaggydog lantas bersepakat dengan label EMI untuk merilis album Hot Dogz. Makin banyaklah orang mendengar lagu ”Di Sayidan”, ”Anjing Kintamani”, dan ”Kecoak”.

Keputusan beranjak ke label besar menimbulkan riak di komunitas underground, bahkan di kalangan dalam band sendiri. Waktu itu sepertinya ”haram” bagi band indie masuk industri besar. Tapi, Shaggydog berhasil mengatasi masalah itu. Mereka tetap utuh. Album berikutnya, Kembali Berdansa, diproduksi anak perusahaan Aquarius Musikindo.

Albumnya makin laris dengan lagu hit macam ”Hey Cantik”, ”Kembali Berdansa”, dan ”Jalan-jalan”. Mereka moncer ketika band ska lain bertumbangan sehingga nyaris tak ada irama ska di radio dan televisi. Ska kembali jadi aliran musik liyan.

Jalur internasional

Shaggydog, salah satu yang bertahan, justru dapat kesempatan manggung di Belanda. Jaringan internasional mereka meluas. Salah satu lagunya, ”Second Girl”, masuk album kompilasi Asian Ska Foundation yang beredar di Jepang. Pada album berikutnya, Bersinar(2006), Shaggydog kerja sama dengan Dr Ring Ding, musisi ska dan dancehall asal Jerman, pada lagu ”From Doc to the Dog”. Mereka sudah ada di jalur internasional.

Berbekal jaringan itu, mereka diundang tampil di festival musik independen bergengsi South by Southwest (SXSW) di Austin, Texas. Shaggydog main dua kali pada tanggal 17 dan 19 Maret di dua panggung berbeda. Sebelumnya, dua band Indonesia, White Shoes and the Couples Company dan The Sigit, juga pernah main di SXSW.

Bagi Heru, main di SXSW membuat bulu kuduknya merinding. Sebab, mereka berkesempatan disimak oleh 30.000 praktisi industri hiburan dan 3.000 media massa. Makanya, mereka merelakan menunda jadwal peluncuran album baru. Sudah enam tahun Shaggydog ”mengamen” tanpa album anyar.

Tampil di SXSW ibarat mimpi yang jadi kenyataan bagi Lilik. ”Ini seperti mimpi, bisa main di pusat musik dunia,” ujarnya. Tapi, dia belum merasa bahwa inilah puncak karier Shaggydog. ”Kami masih punya mimpi bikin tur keliling dunia,” kata Lilik.

Gonggongan para doggies ini pernah menggema di Belanda dan Australia. Pada saat tulisan ini kalian baca, bisa jadi ribuan orang di SXSW juga ikutan menyanyikan larik,”Mari sini berkumpul kawan/dansa-dansa sambil tertawa//.

Herlambang Jaluardi 


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Maret 2016, di halaman 24 dengan judul ”ShaggyDog: Dari Gang Sayidan Sampai Austin”