Sebuah Catatan; Menyambut Merah

0
838

Musik mungkin memang ditakdirkan untuk dinikmati. Tetapi ketika musik itu disisipi oleh sebuah pesan, bukan tidak mungkin musik menjadi sebuah media literasi yang kuat yang membuka wawasan si pendengarnya.

2009 lalu, sebuah album bertajuk ‘The Headless Songstress’ milik sebuah band bernama Tika & the Dissidents dirilis. Saya baru menemukannya sekitar 2 tahun setelahnya. Album ini mungkin memang bukan album yang bertujuan untuk mengedukasi pendengarnya. Ketertarikan awal saya hanya sebatas sebagai pendengar umumnya, menikmati musik yang terdengar. Dan ketertarikan itu berlabuh pada vokal yang begitu kuat dari sang vokalis, Kartika Jahja, yang menuntun saya mengikuti cuapannya melalui akun twitter pribadi miliknya.

Di sana Ia banyak bersuara tentang kesetaraan. Menentang diskriminasi, yang kemudian berujung kepada penilikan tentang lirik-lirik di balik ‘The Headless Songstress’ tersebut. ‘Tantang Tirani’, yang jelas dari judulnya tentang menentang kekuasaan yang semena-mena. Juga ada ‘Mayday’ yang menyuarakan mungkin keberpihakan pada buruh, tentang ‘1st of May’, hari buruh. Dari situ wawasan-wawasan saya terbuka lebar, dan dari situ saya merasa banyak berhutang kepada seorang Kartika Jahja, orang yang tidak saya kenal.

Tujuh tahun dari dirilisnya ‘The Headless Songstress’ muncul kabar gembira, di mana album ke-dua Tika & the Dissidents, ‘Merah’ akan dirilis melalui gerai-gerai digital pada Jumat (11/3) nanti yang kemudian akan disusul rilisan fisiknya di bulan ke-empat tahun ini. Lima tahun mengikuti Kartika Jahja, dan ia masih orang yang sama, yang menyuarakan kesetaraan, yang menyuarakan pendobrakan akan stigma batas moralitas seseorang yang tercermin dari salah satu lagunya di album terbaru nanti, ‘Tubuhku Otoritasku’.

Dan, saya akan menjadi salah satu yang paling excited menyambut album ini. Album dari orang yang tidak saya kenal, yang dari pribadinya yang tertuang lewat musiknya, yang membentuk sikap dari pribadi saya. Welcome, Merah.