Band Efek Rumah Kaca melepas album baru yang menggenapi tahun 2015 berjudul ”Sinestesia”. Lebih menyenangkan lagi, konsep album tersebut digenapi dengan konser apik.

Awalnya kami trio pop minimalis. Sekarang kami sudah jadi keluarga,” demikian ucap Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca (ERK), menjelang akhir acara berjudul ”Konser Sinestesia”. Konser tunggal band dari Jakarta itu digelar di gedung megah Teater Besar di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (13/1) malam. Keluarga yang ia maksud adalah jumlah personel band yang membengkak. Awalnya adalah Cholil (gitar dan vokal), Adrian Yunan Faisal (bas dan vokal), serta Akbar Bagus Sudibyo (drum).

Pada konser itu, tak hanya mereka bertiga yang disebutkan sebagai anggota band. Ada pula Poppie Airil (bas), Andi ”Hans” Sabaruddin (gitar), Dito Buditrianto (gitar), Muhammad Asranur (keyboard), dan Agustinus Panji Mardika (terompet). Di sesi paduan suara adalah Irma Hidayana, Monica Hapsari, Natasha Abigail, dan Wisnu Adji. Dari bertiga berkembang menjadi dua belas. Lipat empat.

Penambahan orang itu tak sebatas menambah angka. Musikalitas mereka pun semakin kompleks, tak lagi minimalis layaknya Radiohead era Pablo Honey. Kompleksitas pada lini musik itu tercermin dalam album teranyarnya, Sinestesia. Konser dibuat untuk merayakan pelepasan album ketiga dalam 12 tahun perjalanan mereka.

Cholil sempat menyebut musik mereka kini bercitra progresif jika ukurannya adalah durasi lagu dan instrumen yang dimainkan. Lagu anyarnya panjang-panjang. Di album, lagu terpendek berdurasi 7 menit (”Hijau”), dan terpanjang 13 menit (”Jingga”). Total durasi album itu 65 menit.

Enam lagu di album itu memakai nama warna sebagai judul: ”Merah”, ”Biru”, ”Jingga”, ”Hijau”, ”Putih”, dan ”Kuning”. Masing-masing lagu terdiri dari dua hingga tiga penggalan. Sederhananya, dua atau tiga lagu dilebur dalam satu lagu bertema tersendiri. Pola semacam ini banyak dilakukan band dengan lagu panjang-panjang.

Penggarapan album itu telah dimulai sejak 2009. Lagu pertama yang dibuat adalah ”Hilang”, sebuah penggalan yang kelak menjadi ”Jingga” setelah diimbuhi ”Nyala Tak Terperi” dan ”Cahaya, Ayo Berdansa”. Mereka sempat mengalami kebuntuan selama pengerjaan album. Bagian musik untuk sejumlah tembang selesai direkam, sementara ide tema cerita lagu belum ada. Daftar orang atau pihak yang diberi terima kasih sudah tersusun terlebih dulu.

Menghadapi kendala itu, ERK membentuk ”saudara kembar” bernama Pandai Besi. Kelompok ini memainkan lagu-lagu dari dua album ERK dalam aransemen berbeda untuk kebutuhan pentas. Lagu semacam ”Debu-debu Berterbangan”, ”Menjadi Indonesia”, dan ”Desember” terdengar lebih segar. Lagu lama aransemen baru itu direkam di Studio Lokananta, Solo, dalam judul ”Daur, Baur” (2013).

Pola musik yang dimainkan Pandai Besi itulah yang menjadi fondasi musik di album Sinestesia. Tak heran, orang yang terlibat di Pandai Besi adalah mereka yang kini ditahbiskan sebagai anggota ERK.

Rupanya, kesegaran baru itu tak lantas memperlancar penggarapan Sinestesia. Kesehatan Adrian, pendiri dan juga penulis lirik, semakin menurun. Sementara Cholil ”cuti” dari ERK dan Pandai Besi untuk sekolah ke luar negeri ketika lagu baru membutuhkan isian vokal. Rencana mengisi vokal dari luar negeri gagal terjadi karena tugas kuliah menumpuk. Pertengahan 2015, Cholil kembali ke Indonesia. Mereka memasuki fase ngebut merampungkan album. Pertengahan Desember album kelar. Seratus keping CD album itu ludes tak sampai satu jam dalam penampilan perdana album baru 21 Desember silam.

Konser Efek Rumah Kaca dengan tajuk Sinestesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (13/1) malam. Konser ini menyajikan tata panggung dan lampu yang menarik. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 4-1-2016
Konser Efek Rumah Kaca dengan tajuk Sinestesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (13/1) malam. Konser ini menyajikan tata panggung dan lampu yang menarik.
Kompas/Hendra A Setyawan

Ke ranah massal

Albumnya mengagumkan. Adrian, Akbar, dan Cholil tak kehilangan ketajaman menulis lirik. Memang tak ada lagu cinta macam ”Jatuh Cinta itu Biasa Saja” dan melankolia terhadap hujan di ”Desember” layaknya di album terdahulu. Mereka beranjak dari hal-hal pribadi ke ranah yang lebih massal. Mereka bercerita tentang kematian yang bertautan dengan kehidupan dalam lagu ”Putih”. Kematian dilihat dari sudut pandang si mati, yang ”melihat” orang-orang bertahlilan di rumahnya. Cerita itu dirangkai dengan kebahagiaan atas kelahiran bayi: sebuah proses yang juga mereka alami sebagai orangtua.

Merah bisa jadi adalah lagu ”keras” di album ini. Merah melambangkan keriuhan tata politik negara. ”Dan kita arak mereka, bandit jadi panglima. Politik terlalu amis, dan kita teramat necis” pada penggalan ”Ilmu Politik”. Penggalan itu dirangkai dengan larik ”moralis, merasa paling baik, macam yang paling etis, awas jatuh menukik” di bagian ”Ada-ada Saja”. Mereka juga bercerita tentang keberagaman agama pada ”Kuning”. Mereka mengatakan bahwa ”Manusia mengonsepsi Tuhan, bernaung dalam pikiran”, akan tetapi juga ”Manusia menafikan Tuhan, melarang atas perbedaan.” Isu ini amat relevan sekarang.

Keping CD dibuat menarik dengan potongan-potongan imaji foto dan ilustrasi karya Ryan ”The Popo” Riyadi, kelompok The Secret Agent serta Pola Artistry. Kelengkapan itu membuat album ini pantas disebut sebagai album terbaik yang keluar di 2015 lalu. Kalau tak kebagian CD-nya, ERK menggratiskan versi digitalnya di situs resmi mereka.

Digenapi konser

Efek Rumah Kaca Kompas/Anton Wisnu Nugroho (INU)
Efek Rumah Kaca
Kompas/Anton Wisnu Nugroho

Keutuhan konsep album itu dilengkapi lewat Konser Sinestesia yang disambut dengan energi penuh para penggemarnya di tengah hujan sepanjang hari di Jakarta. Mereka memainkan enam lagu secara berurutan sesuai album di sesi kedua konser. Aransamen lagu di konser nyaris mirip dengan versi album. Irwan Ahmett, seniman visual, menjadi pengarah artistik konser. Ia bermain dengan cahaya yang ditembakkan ke panggung. Tak ada lampu sorot khusus untuk pemusik. Permainan cahaya itu seolah memadukan musik dan kata-kata dalam liriknya sebagai suatu kesatuan utuh.

Cahaya warna jingga mendominasi panggung ketika lagu ”Jingga” dilantunkan. Ada 13 lingkaran jingga ketika Adrian membacakan nama-nama tiga belas aktivis yang dihilangkan di penghujung rezim Orde Baru. Lingkaran-lingkaran itu perlahan menghilang satu per satu. Cahaya jingga berubah layaknya sinar matahari pada penggalan ”Nyala Tak Terperi”. Cahaya itu menyatu dengan lirik lagu.

Ketelitian paduan cahaya dan lagu tak hanya berlaku pada lagu baru. Tembang dari dua album terdahulu dimainkan dengan baik pula di sesi pertama. Pada lagu ”Di Udara” yang bercerita tentang aktivis HAM Munir, ada rupa lilin tepat di belakang Cholil, sementara bagian lainnya gulita. Api di lilin itu, seperti disebutkan Cholil, melambangkan semangat Munir yang tetap hidup.

Soal Munir, di atas panggung di depan ribuan penggemar yang memadati gedung pertunjukan, Cholil berujar tentang perlunya meluaskan kisah orang-orang berani dan sederhana seperti Munir. Lagu-lagu lama di sesi pertama ini diiringi dengan sesi alat musik gesek yang digubah Alvin Witarsa. Penonton kebagian jadi ”vokalis” diiringi orkestra gesek pada lagu ”Cinta Melulu” karena Cholil menjauh dari mikrofon.

Konsernya berjalan selama sekitar 2,5 jam dalam suasana yang kerap kontemplatif. Tiket sebanyak 1.200 lembar yang dibagi menjadi tiga kelas ludes selama empat hari penjualan. Calo di luar gedung yang biasanya menawarkan tiket berganti menanyakan adakah tiket sisa.

Di luar kendala teknis pembagian tempat duduk untuk konser yang digarap semuanya sendiri, sulit sekali mencari cela untuk pertunjukan ini. Bisa jadi, konser yang digodok tak lebih dari satu bulan ini menjadi standar baru penyelenggaraan konser tunggal bagi musisi Indonesia berikutnya.

(Herlambang Jaluardi)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Januari 2016, di halaman 24 dengan judul ” KONSER, Warna Pembaur Kata-kata”