Berziarah ke Mausoleum Ho Chi Minh

0
1219

Presiden Ho Chi Minh berbaju hitam terbaring tenang di dalam kaca dengan wajah teduh. Kedua telapak tangannya terletak di atas paha. Seorang ibu sepuh berhenti di depan jasad Presiden Vietnam era 1945-1969 itu. Ia menunduk, memberi penghormatan dengan tangan menyembah di dada.

Sekitar tiga jam berada di kompleks Mausoleum Ho Chi Minh di pusat kota Hanoi, Vietnam, pertengahan Desember lalu, terasa betapa rakyat Vietnam sangat menghormati pemimpin besarnya, Ho Chi Minh. Ribuan warga mengantre ratusan meter dalam dua barisan untuk memberi penghormatan pada jenazah pemimpin revolusi Vietnam yang diawetkan dan disemayamkan di dalam mausoleum.

Kompas dan dua jurnalis dari Indonesia yang datang hari itu dalam rangkaian Indonesia Trade Fair and Business Forum di Hanoi untuk peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Vietnam beruntung. Diantar staf Kedutaan Besar Indonesia di Hanoi, petugas keamanan mausoleum mempersilakan kami masuk ke tengah antrean sekitar 200 meter dari mausoleum.

Tas dan kamera harus dititipkan di tempat khusus. Namun, telepon seluler dan dompet boleh dibawa. Semua barang bawaan harus masuk di mesin pemindai lebih dulu. Setiap pengunjung juga dipindai oleh petugas sebelum masuk dalam antrean.

Diperlukan waktu hanya 15-20 menit berada di antrean. Maklum, setiap orang hanya mempunyai waktu sekitar 30 detik untuk melihat wajah Paman Ho yang terbaring. Pengunjung harus tetap berada di dalam barisan yang terus berjalan mengelilingi peti kaca hingga keluar ruangan. Pelajar sekolah dasar, rombongan para sepuh, keluarga, wisatawan asing, hingga rombongan prajurit militer, semua berjalan tertib dalam antrean yang dijaga ketat petugas militer.

Tak ada suara berisik. Hanya suara langkah kaki menginjak tangga mausoleum yang terdengar. Apalagi saat memasuki ruang redup tempat jasad disemayamkan. Semua konsentrasi tertuju pada sosok Ho Chi Minh yang disorot lampu temaram dalam tidur abadi.

Minta dikubur

Mausoleum terletak di tengah Lapangan Ba Dinh, tempat Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945. Meninggal tahun 1969 pada usia 79 tahun, semasa hidupnya Paman Ho minta jasadnya dikubur. Akan tetapi, para pengikutnya menyemayamkan jenazahnya, terinspirasi oleh Mausoleum Lenin di Moskwa.

Pembangunan dimulai pada 2 September 1973 dan diresmikan pada 29 Agustus 1975. Di samping mausoleum terdapat kompleks istana Presiden Vietnam, tempat sehari-hari Paman Ho melakukan tugas kenegaraan. Istana masih digunakan sampai saat ini sehingga pengunjung hanya bisa berjalan di sisi istana dan berfoto di samping istana. Namun, kompleks yang lain dibuka untuk umum. Warga Vietnam gratis untuk melihat kompleks istana di belakang mausoleum tempat Ho Chi Minh beraktivitas. Sementara wisatawan asing perlu membayar 40.000 dong, sekitar Rp 30.000.

Di kompleks itu terdapat rumah nomor 54 tempat Ho Chi Minh tinggal sehari-hari dan bekerja sejak tahun 1954. Di dalamnya ada ruang kerja sederhana tempat Paman Ho duduk menulis dan membaca. Di dinding di atas meja kerja terpasang gambar filsuf Karl Marx dan tokoh politik Rusia, Vladimir Lenin. Dua tokoh yang dikagumi Ho Chi Minh.

Tiga mobil yang digunakan Ho Chi Minh juga dipamerkan di garasi rumah. Selain itu, ruang pertemuan politbiro tempat presiden menerima tamu dengan tempat duduk kayu sederhana diperlihatkan untuk umum. Ada juga sepotong jalan di dalam kompleks yang ditumbuhi pohon mangga besar di kanan-kirinya, tempat sang presiden yang tidak menikah itu lari pagi.

Paman Ho yang terlahir dengan nama Nguyen Sihn Cung juga suka melakukan pekerjaan di sebuah rumah panggung sederhana di dekat kolam ikan besar. Di kolong rumah panggung, presiden mengontrol situasi, terutama saat perang Vietnam. Ada tiga telepon dan satu helm tentara di kolong rumah panggung itu.

Keluar dari kompleks istana, setelah sejumlah toko suvenir, pengunjung akan menemukan bangunan besar museum yang menceritakan kisah hidup Ho Chi Minh memimpin Vietnam dan bagaimana Vietnam berkembang hingga saat ini. Untuk masuk museum, wisatawan asing juga perlu membayar 40.000 dong.

Ada sebuah foto yang menggambarkan kunjungan Ho Chi Minh ke sebuah candi di Indonesia tahun 1959. Setelan baju putih, sepatu sandal karet sederhana, dan topi bulat yang selalu ia kenakan juga dipamerkan, termasuk alat-alat olahraga yang ia gunakan.

Sebelum kembali ke Vietnam untuk memperjuangkan kemerdekaan bersama rakyatnya, Ho Chi Minh puluhan tahun berkelana di luar Vietnam untuk belajar bagaimana sebuah negara dijalankan. Ia berjuang dari luar negeri dan berkali-kali berganti nama seperti ditulis dalam buku President Ho Chi Minh Biography and Career terbitan Information and Communication Publishing House 2015.

Ia pernah bekerja sebagai asisten koki, tukang kebun, pembersih salju, penerjemah, pemandu turis, tukang gambar, hingga jurnalis. Ia bergabung dengan Partai Sosialis Perancis, negara yang menjajah Vietnam untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Rakyat Vietnam tidak lupa dengan perjuangan dan pengorbanan pemimpinnya. Paman Ho tetap dihormati dan dicintai rakyatnya.

(AUFRIDA WISMI WARASTRI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Januari 2016, di halaman 25 dengan judul “Berziarah ke Mausoleum Ho Chi Minh”.