Kampus Baru: Jangan Biarkan Cemas Berlarut-larut

0
3618

Masuk lingkungan baru biasanya memunculkan rasa seolah berada di tempat asing sehingga membuat kita cemas, takut tak diterima. Begitu khawatirnya sampai mengganggu konsentrasi belajar. Hati-hati dengan perasaan itu. Apabila kamu tak segera mengatasinya, ia akan terus bercokol di benak dan hatimu. Akibatnya, kamu akan terus tersiksa berada di lingkungan baru. Bersikap terbuka kepada kenalan dan lingkungan baru akan menjadi solusi bagi masalahmu.

Bagi para mahasiswa baru, masa bangga dan bahagia karena diterima kuliah di jurusan idaman pasti masih ada. Namun, yang terjadi pada sebagian mahasiswa, rasa syukur itu malah sudah berubah khawatir. Hal itu terjadi karena para mahasiswa baru itu mulai cemas oleh pertanyaan, apakah nanti aku bisa punya kawan baru di kampus? Bagaimana kalau dosennya galak dan enggak suka? Belum lagi dengan kakak angkatan yang seram? Deretan pertanyaan itu datang bertubi-tubi hingga menciutkan nyali. Ujung-ujungnya, kita menjadi cemas tak berkesudahan.

”Sebenarnya rasa cemas sebagai orang baru itu wajar. Justru itu penting supaya bisa membuatmu berkata, bertindak lebih baik,” kata psikolog Sukma Prawitasari tentang kecemasan yang biasa dialami mahasiswa baru. Kecemasan itu menjadi sinyal baik untuk kita agar mau memperbaiki diri.

Hal itulah yang dirasakan Rizki Saputra, mahasiswa Jurusan Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Sebagai orang yang tak bisa berbahasa Minang, awal kuliah di kampus menjadi peristiwa yang menyesakkan dada Rizki. Di lingkungan barunya, banyak orang masih berbahasa daerah. Rizki merasa seperti orang asing.

”Saya lahir dan besar di Jakarta. Walau kakek saya dari Padang, kami tak pernah kenal bahasa Minang,” tutur Rizki yang lulusan SMA Negeri 48 Jakarta Timur. Rasa terasing itu masih ditambah fakta bahwa dirinya lebih ”senior” ketimbang teman seangkatan di Universitas Andalas.

Rizki baru lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri setelah ia ikut tes pada tahun kedua setelah lulus SMA.

”Rasanya minder, maka saya berusaha menyembunyikan kalau saya lahir tahun 1993. Teman-teman lahir tahun 1994,” lanjutnya. Sebegitu mindernya sampai ia sempat ngumpet dari pergaulan.

Untunglah mantan pengurus inti OSIS di sekolahnya itu segera sadar tindakannya tersebut keliru. Ia segera mencari solusi dengan belajar bahasa Minang, baik dari kawan kuliah, kawan kos, maupun warga di sekitar ia kos. Ia sering nimbrung ke tempat orang mengobrol untuk belajar bahasa Minang. ”Bulan ketiga, saya sudah mulai bisa berbahasa Minang. Setidaknya kalau ada yang menceritakan hal lucu, saya sudah bisa ikut tertawa, he-he-he,” katanya. Tak hanya itu, Rizki kemudian bisa menerima fakta bahwa ia memang lebih ”senior” dibandingkan kawan satu angkatan.

Takut salah jurusan

Kecemasan diri memang tak bisa dianggap sepele. Klaudia Molasiarani yang kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, sempat mengalaminya. Rasa cemas Klaudia berbeda dengan Rizki. ”Kecemasan itu bermula ketika banyak orang memandang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi adalah mahasiswa yang modis, populer, gaul, dan sebagainya. Stereotip seperti itu justru membuatku makin takut karena aku tak merasa seperti yang dideskripsikan kebanyakan orang tentang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi,” ujarnya menguraikan perasaan waktu itu.

Klaudia makin cemas ketika pada penerimaan mahasiswa baru, ia banyak menemukan mahasiswa baru sesuai ekspektasi banyak orang. ”Aku sempat merasa salah jurusan dan terus berpikir tentang pilihan jurusan ini. Aku bahkan sempat takut jika tidak dapat menyesuaikan diri dengan mereka,” katanya lagi. Ia kemudian fokus dan percaya diri kepada cita-citanya awal untuk kuliah di jurusan itu. Hal itulah yang membuat ia terus bisa mengembangkan diri di jurusan idaman.

Tak cukup waktu

Psikolog Sukma Prawitasari yang mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menyatakan, umumnya penyebab kecemasan berlarut karena mahasiswa kurang cukup waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan. Penyebab lain, kecemasan itu tetap ia simpan sendiri dan bersikap tertutup.

Waktu adaptasi yang cukup bisa diperoleh dengan lebih awal tiba di lingkungan kampus. ”Dengan cara itu, dia punya waktu panjang untuk kenal teman kos dan lingkungan kos. Ada kasus, mahasiswa itu sudah lama berada di kos, tetapi tetap bersama orangtua. Akibatnya mahasiswa tetap tak punya waktu beradaptasi dengan orang lain,” jelas Sukma yang menamatkan pendidikan master bidang psikologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Biasanya, rasa cemas yang masih sehat cukup ada sampai hari ketiga. Setelah itu mahasiswa mesti bisa menyesuaikan diri, dalam arti bisa mencari solusi dari perasaan tak nyaman itu.

”Jika ia tetap cemas sampai lebih dari seminggu, sebaiknya ia bercerita ke teman dekat atau orangtua. Masukan yang benar dari pihak lain akan membantu dia,” kata psikolog yang biasa dipanggil Bune ini.

Pada akhirnya ia memberi tips, agar bisa masuk di lingkungan baru, kita harus bersikap terbuka terhadap orang lain, tidak egois, dalam arti menghargai perbedaan serta menerima teman baru apa adanya.


ARGUMENTASI

Kenali Diri Sendiri

Egi Prasetyo, Jurusan Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Egi Prasetyo, Jurusan Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sebagai pendatang dari luar Yogyakarta, saya bahagia diterima di UGM, tetapi saya sempat merasakan gegar budaya. Ada rasa takut, cemas, di awal jadi mahasiswa baru. Maklum saya menjadi perantau. Saya pernah minder sehingga jalan pun menunduk, merasa inferior dibandingkan dengan teman baru yang berasal dari kota, sedangkan saya dari desa.

Beruntung ada Pelatihan dan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru, saya merasa disambut di kampus UGM. Namun, lebih dari itu, menurut saya, kunci pembelajaran sukses mahasiswa baru adalah ”mengenal diri”. Mengenal diri merupakan titik awal untuk upgrading diri saat menjalani masa transisi dari masa remaja akhir ke awal dewasa. Kesadaran diri mengarahkan setiap individu mengenali kepribadian, apa kelemahan dan kelebihan dirinya, ia akan tahu secara jujur. Itu akan berpengaruh ke proses interaksi dengan lingkungan sekitarnya, terutama dalam adaptasi di kampus.

 

Bijak dan Terbuka

Alfi Nur Azizah, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Jawa Timur

Saya berasal dari sekolah khusus putri berlatar belakang agama. Dua tahun lalu saya ikut tes masuk perguruan tinggi negeri, tetapi baru berhasil setelah mencoba lagi tahun kemarin. Tak disangka, ternyata di angkatan baru jurusan saya, kebanyakan adalah mereka yang baru lulus SMA dan banyak dari sekolah ternama. Awalnya saya minder. Bergaul dengan yang lebih muda butuh adaptasi yang beda dengan orang sebaya. Selain itu, saya tak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan, tetapi hal itu malah memunculkan rasa bijak. Akhirnya, saya memilih bersikap lebih bijak, ramah, terbuka, tidak pelit informasi. Berkat usaha itu, kini saya sering mereka jadikan teman bicara.

 

 

Berani Diproses

Artha Anggreiny Nainggolan, Jurusan Pendidikan Guru-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara
Artha Anggreiny Nainggolan, Jurusan Pendidikan Guru-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara

Awal menjadi mahasiswa baru, saya tidak cemas. Percaya bahwa saya dapat dengan mudah diterima, memang terbukti. Bahkan, pada beberapa mata kuliah, saya langsung ditawari ikut serta dalam kelompok belajar tanpa harus mencari. Anggapan bahwa diri saya dibutuhkan dan diterima menjadi bumerang karena ini tidak berlaku sejak saya tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas dalam kelompok belajar kami. Pengalaman ini membuat saya diproses untuk peka pada kepentingan orang lain yang sudah punya jadwal sendiri. Sedih dengan kenyataan bahwa saya tidak diterima membuat saya harus memulai dari awal agar mereka kembali menerima saya. Proses dari sebuah pengalaman membuat saya sadar untuk tak menyia-nyiakan kesan pertama saat diterima sebuah kelompok dan berani diproses selama kuliah bersama teman dan sekitar kita.

 

Dengar dan Amati

Muhammad Aris, Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan
Muhammad Aris, Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan

Saya berasal dari SMA di Sulawesi yang jauh dari ibu kota provinsi sehingga lebih sering menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia. Hal tersebut kemudian menjadi kecemasan saya ketika kuliah di Makassar yang mempertemukan beragam mahasiswa dengan latar belakang bahasa berbeda-beda. Saya takut tidak bisa berkomunikasi dengan baik, takut teman atau dosen tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan, atau sebaliknya saya salah pengertian. Awalnya saya lebih banyak mendengar dan mengamati ketika bergaul, serta memperbanyak membaca buku dan artikel, bukan hanya berbahasa Indonesia karena jurusan saya menuntut mahasiswanya bisa berbahasa Inggris. Hampir satu semester berjalan kemudian saya berani berbicara dalam berdiskusi ataupun bergaul.

 

Ospek yang Membangun

Cynthia Angelina Latif, Jurusan International Business, Swiss German University, Tangerang Selatan, Banten
Cynthia Angelina Latif, Jurusan International Business, Swiss German University, Tangerang Selatan, Banten

Saat menjadi mahasiswa baru, saya terbayang cerita teman yang lebih dahulu kuliah. Mereka harus membawa pernak-pernik untuk menjalani ospek. Di dalam benak saya terbayang juga saya akan disuruh membawa atau melakukan hal yang menurut saya akan membuat saya susah dan malu. Rasa cemas itu buyar pada hari pertama ospek di universitas saya. Tidak ada seorang pun, baik dari pihak universitas maupun para senior, menuntut macam-macam. Ospek berjalan dengan semangat kekeluargaan, sesuai tujuannya, memperkenalkan lingkungan universitas, termasuk orang-orang dan sistem yang ada di dalamnya. Semua kegiatan ospek yang saya lalui adalah kegiatan-kegiatan yang membangun dan mengembangkan soft skills saya. Tradisi ospek telah menjadi awal penciptaan jalinan pertemanan dan persaudaraan antarsesama mahasiswa.

 

(Soelastri Soekirno)


Versi cetak artikel ini terbit di rubrik ‘Kompas Kampus’ harian Kompas edisi 11 Agustus 2015, di halaman 33