Produk Perbankan untuk Sehari-hari

0
3671

Produk perbankan bukan lagi produk yang jauh dari mahasiswa masa kini. Banyak perguruan tinggi menjalin kerja sama dengan bank nasional sehingga kartu tanda mahasiswa pun berfungsi sebagai kartu anjungan tunai mandiri dan uang elektronik (e-money). Mayoritas mahasiswa juga akrab dengan produk perbankan seperti tabungan, yang hampir sebagian besar diisi dananya oleh orangtua masing-masing. Baru sebagian kecil yang membuka rekening sendiri untuk keperluan investasi.

Bahkan, di kota-kota tertentu, kartu tanda mahasiswa (KTM), yang sekaligus berfungsi sebagai kartu anjungan tunai mandiri (ATM), berguna pula sebagai uang elektronik (e-money) untuk pembayaran ongkos kendaraan umum seperti kereta api dan bus. Tidak punya uang tunai tetap bisa naik kendaraan tersebut asal saldo di uang elektronik mencukupi.

Di Universitas Indonesia, misalnya, KTM UI dapat digunakan untuk naik KRL commuter line dan bus transjakarta. Sementara KTM Universitas Gadjah Mada dapat digunakan untuk membayar bus transjogja setiap hari, termasuk hari libur.

KTM atau kartu ATM tersebut juga menyimpan data mahasiswa bersangkutan dan berfungsi pula sebagai kartu perpustakaan. Bahkan ada yang sekaligus merupakan kartu asuransi kecelakaan dengan batasan minimal saldo tertentu.

Di beberapa negara maju ada skema peminjaman biaya pendidikan kuliah, baik yang disponsori pemerintah maupun swasta. Namun, sangat sedikit perbankan Indonesia yang memberikan fasilitas kredit khusus untuk keperluan tersebut. Mayoritas bank hanya menyediakan kredit multiguna dan kredit beragunan sertifikat rumah berjangka panjang yang dapat digunakan peminjam untuk membiayai sekolah atau kuliah anak-anak mereka.

Di negeri ini hanya beberapa bank yang memberikan pinjaman khusus biaya pendidikan dengan bekerja sama langsung dengan sekolah tertentu, seperti sekolah penerbangan dengan jaminan dari perusahaan.

Sama seperti perusahaan-perusahaan lain, bank-bank juga menyusun strategi membidik anak muda sebagai pasar potensial. Mereka pun menyediakan produk dan layanan khusus bagi anak muda, mulai dari tabungan khusus anak muda, kartu kredit untuk anak muda, hingga layanan perbankan khusus untuk anak muda.

Ada pula bank yang menjadi pendamping inkubator pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di perguruan tinggi demi mencetak generasi pelaku usaha di kalangan mahasiswa. Seperti yang mengemuka dari diskusi Microfinance Forum: Tantangan Pengembangan UMKM, di Medan, Sumatera Utara, Desember lalu. Diskusi itu merupakan kerja sama Kompas dan BRI.

Upaya lain untuk mendorong ketangguhan UMKM di antaranya mempermudah proses beragam izin usaha sehingga UMKM bisa lebih cepat tumbuh dan naik kelas. Selama ini izin usaha butuh waktu satu hingga dua tahun dengan biaya yang tidak transparan. Proses izin usaha juga merepotkan.

Apalagi UMKM berpeluang sebagai potensi ekonomi nasional, terutama karena bonus demografi yang dimiliki Indonesia, pasar masyarakat ekonomi ASEAN yang mencapai 600 juta orang, dan sumber daya alam melimpah.

Hambatan yang ada antara lain proses perizinan yang lama, bahan baku yang tak tersedia sehingga perlu impor, serta promosi yang minim sehingga membutuhkan dukungan pemerintah. Pelaku usaha juga mengaku kesulitan mengurus merek, minim pengetahuan perihal manajemen, inovasi teknologi yang minim, serta kurangnya standardisasi produk dan modal. Jadi, pendampingan menjadi kunci bagi UMKM untuk berkembang.

Ketika itu, Pemimpin Kantor Wilayah BRI Medan Ebeneser Girsang mengatakan, saat ini BRI tengah membuat program dengan fokus utama menyalurkan kredit dan memberikan pendampingan usaha bagi pelaku UMKM baru di kalangan mahasiswa. ”Mahasiswa tidak perlu malu mengajukan kredit usaha rakyat,” ujarnya.

Berbelanja di kantin

”Saya memiliki kartu ATM sejak SMA di Sidoarjo, tetapi tidak sering dipakai, hanya untuk punya saja dan untuk keadaan darurat,” kata Niko Alvian Akbar, mahasiswa semester II Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang.

Sejak berkuliah di Malang dia memiliki KTM yang sekaligus berfungsi sebagai kartu ATM. Kartu ini memiliki fungsi sebagai kartu debet yang dapat digunakan di semua kantin di setiap fakultas.

”Tidak ada jumlah minimum pembelanjaan di kantin dan setiap mahasiswa Universitas Brawijaya pasti memiliki kartu ini,” ujar Niko. Dia menambahkan, saat ini dirinya belum memiliki pekerjaan paruh waktu dan belum tertarik mempunyai kartu kredit. ”Kebutuhan saya juga tidak besar. Mungkin nanti kalau saya sudah bekerja,” kata Niko.

AA Raniry A Rahman, mahasiswa semester VIII Jurusan Manajemen Perbankan Universitas Sangga Buana YPKP Bandung, juga mengatakan, KTM di kampusnya berfungsi pula sebagai kartu ATM. Hal itu memudahkannya untuk urusan uang.

”Beberapa bulan lalu saya membuat kartu rekening dan kartu ATM lagi untuk investasi. Ketika itu ada acara promosi pasar modal di kampus yang memungkinkan mahasiswa mulai berinvestasi di bidang jual beli saham dengan dana awal murah, yakni Rp 100.000,” ujar Afan, sapaan akrabnya.

Menurut Afan, dana pembukaan itu sangat rendah dan terjangkau mahasiswa pada umumnya. Padahal, untuk masyarakat umum, dana awal minimal adalah Rp 10 juta. Jika syarat dana minimal sejumlah itu, dia pasti tak mampu memulainya.

”Sebelum membuka rekening untuk investasi itu, saya berdiskusi dulu dengan kedua orangtua saya di Ternate. Baru setelah mereka memberikan persetujuan, saya berani membuka rekening,” kata Afan. Lebih lanjut Afan menjelaskan, saat ini bersama sejumlah teman, ia tengah memulai usaha di bidang busana, clothing line yang penjualannya melalui daring (online). ”Rekening baru itu akan berguna untuk bisnis saya nanti,” ujarnya optimistis.


ARGUMENTASI

Rekening Beasiswa

Noviani Kumalasari Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Pada era modern, mahasiswa menjadi generasi yang mengikuti gaya yang serba praktis. Saya mengenal produk perbankan seperti tabungan sejak masuk perguruan tinggi. Tabungan yang saya buat tidak lepas dari kepentingan untuk perkuliahan dan kebetulan saya mendapat beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Awalnya, saya belajar bagaimana memanfaatkan kartu ATM agar dapat digunakan secara tepat. Kepraktisan yang ditawarkan membuat saya berhati-hati agar tidak terlena dan tetap mengontrol pengeluaran. Saya mengelola produk perbankan dengan cara tetap menggunakan metode lama, yaitu bertransaksi dengan uang tunai. Apabila kita wajar dalam penggunaan uang, saya yakin akan tetap mengatur pengeluaran, dalam arti lain tidak hanya gesek-gesek saja.

Tentunya sebagai mahasiswa yang menerima beasiswa seperti saya, harus ekstra menjaga pola pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari ataupun perkuliahan. Saya merasa terbantu dengan adanya produk bank, dengan tabungan disertai rekening membuat pengiriman dana beasiswa menjadi lancar.


Tak Perlu Repot

Dian Permata Sari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya

Aktivitas terkait perbankan tidak dapat terlepas dari kehidupan. Tidak dapat dimungkiri beragam transaksi keuangan di bank yang memberikan penawaran kemudahan dan efisiensi yang semakin hari hampir menggeser pembayaran secara tunai.

Salah satu aktivitas perbankan yang saya lakukan adalah penyetoran secara berkala. Ketika saya memiliki uang saku atau hasil tambahan dari mengajar les privat, sebisa mungkin saya masukkan ke tabungan. Bank bisa dibilang sebagai sarana pengendalian diri dalam ”berinvestasi”.

Selain penyetoran, saya lebih sering memanfaatkan sistem transfer. Ketika nantinya saya membutuhkan uang untuk membayar pendaftaran lomba atau seminar, saya tidak perlu repot menemui panitia karena saya memanfaatkan sistem transfer dari mesin ATM. Pembayaran kuliah pun menjadi semakin mudah karena saya bisa mentransfer UKT (Uang Kuliah Tunggal) saya melalui mesin ATM juga. Sesekali saya memanfaatkan sarana transfer untuk membayar belanja online yang saya lakukan.


Jeli Memilih

Isma Malicha Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang

Saat ini, sistem perbankan memang memberikan kemudahan bagi para mahasiswa, selain sebagai alat memudahkan dalam transaksi jual beli. Masyarakat juga lebih senang dengan banyak kemudahan, termasuk bagi mahasiswa. Mahasiswa mampu membeli segala produk dengan praktis dan singkat. Sesekali gesekan, produk yang dibeli pun dapat dimiliki dan dimanfaatkan.

Namun, sebagai mahasiswa, kita perlu lebih teliti dalam memilah-milah jenis perbankan yang ada di masyarakat. Sebab, tidak semua jenis perbankan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Perbankan yang seimbang, artinya tidak terlalu merugikan dan juga tidak terlalu memberikan kesenangan yang berlebihan bagi mahasiswa.

Sistem perbankan yang berkolaborasi dengan entrepreneur merupakan sebuah pilihan yang membantu saya yang tak hanya mengeluarkan uang secara cuma-cuma. Namun, pemasukan dan pengeluaran pribadi juga harus seimbang. Dengan cara seperti itulah, saya mampu memperoleh banyak keuntungan. Mampu mengelola keuangan secara matang, dan mampu membiayai kehidupan saya selama kuliah.


Uang Elektronik

Muhammad Ridha Tantowi Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Pesatnya perkembangan teknologi membuat semakin banyak tempat usaha yang mulai beradaptasi memanfatkan peluang ini. Misalnya e-commerce yang sedang ramai bersaing. Diakui, kehadirannya mampu menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan bagi saya. Bahkan, demi efisiensi waktu dan biaya, saya cenderung lebih sering belanja daring dibandingkan dengan menggunakan cara konvensional.

Tidak jarang pula ada gerai yang menawarkan diskon gila-gilaan pada periode waktu tertentu dan dengan metode pembayaran tertentu. Saya pun memanfaatkan momen tersebut untuk belanja barang-barang yang memang saya butuhkan, dengan menggunakan uang elektronik (e-money). Di samping dapat memudahkan transaksi tanpa harus repot-repot membawa banyak uang, saya pun dapat mengerem laju belanja saya. Misalnya, dalam satu bulan hanya memiliki jatah Rp 500.000, saya cukup melakukan top-up sebesar itu tanpa takut akan kebablasan melakukan transaksi layaknya menggunakan transfer ATM ataupun kartu kredit.


Mengatur Keuangan

Ulin Noor Baroroh Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria, Kudus

Mahasiswa mempunyai banyak kebutuhan yang mendadak di luar dari perkiraan, baik kebutuhan kuliah maupun kebutuhan harian. Adanya produk perbankan sangat memberikan andil besar bagi mahasiswa, seperti anjungan tunai mandiri (ATM). Saya telah menggunakan ATM sejak pertama kali menginjak bangku kuliah karena kartu tanda mahasiswa (KTM) universitas berfungsi pula sebagai kartu ATM. Adanya kartu ATM memudahkan saya memenuhi biaya perkuliahan. Di sisi lain kartu ATM memberikan rasa aman bagi para penggunanya karena tidak perlu lagi membawa uang tunai ketika bepergian.

Pengelolaan kartu ATM sebisanya saya rem. Ketika tidak benar-benar membutuhkan, kartu ATM tersebut saya simpan di dalam dompet saja. Berkenaan pengeluaran, saya sesuaikan dengan kepentingan saat itu saja. ATM mengajarkan saya untuk belajar mengelola pemasukan dan pengeluaran dengan baik.


(Ida Setyorini & Wisnu Nugroho)


Versi cetak artikel ini terbit di rubrik ‘Kompas Kampus’ harian Kompas edisi 4 Agustus 2015, di halaman 34