Repatriasi Seni ke Tanah Leluhur

52
1213

Jejak nenek moyang seni Bali berhasil dilacak. Repatriasi rekaman-rekaman berupa piringan hitam berjumlah 78 rpm, yang pernah dilakukan Beka dan Odeon tahun 1928, menjadi penyambung mata rantai sejarah yang hilang. Dari situ seni yang kini diwarisi Bali diperkirakan berasal muasal.

Repatriasi ditandai dengan peluncuran lima album dan diskusi yang diselenggarakan STIMIK/STIKOM Bali dan Bentara Budaya Bali, Minggu (12/7) lalu. Marlowe Makaradhwaja, sebagai koordinator proyek ini, menyebut dalam lima album berbentuk CD dan DVD itu berisi rekaman-rekaman gending, tari, dan tembang Bali yang direkam oleh Beka dan Odeon. Tahun 1928, Beka dan Odeon, sebagai produser rekaman komersial, antara lain merekam maestro tari kebyar duduk dan terompong I Marya (I Ketut Maria), maestro legong Ida Boda yang sedang mengajar muridnya, sampai seni ngoncang (musik lesung). Di dalamnya juga terdapat musik kekebyaran, pelegongan, selonding, gender, kendang tunggal, terompong, dan gamelan joged. Album ini juga berisikan tembang-tembang Bali Kuna, yang kini nyaris tidak pernah dinyanyikan kembali.

Piringan hitam asli 78 rpm dari rekaman bersejarah tahun 1928-1929 dengan label yang khusus ditulis dalam aksara Bali. Piringan hitam oleh Beka Records yang memuat rekaman Pupuh Adri ini merupakan satu-satunya cakram dari gending tersebut yang tersisa di dunia.  Arsip Jaap Kunst di Universitas Amsterdam.
Piringan hitam asli 78 rpm dari rekaman bersejarah tahun 1928-1929 dengan label yang khusus ditulis dalam aksara Bali. Piringan hitam oleh Beka Records yang memuat rekaman Pupuh Adri ini merupakan satu-satunya cakram dari gending tersebut yang tersisa di dunia.
Arsip Jaap Kunst di Universitas Amsterdam.

”Ini jejak penting kebudayaan Bali secara umum. Oleh sebab itu, kita mengejarnya sampai ke berbagai museum dan perorangan yang masih menyimpan rekaman dari Beka dan Odeon itu,” ujar Marlowe. Kesulitannya, tambah Marlowe, ratusan piringan hitam yang direkam dan diedarkan Beka dan Odeon ”terpaksa” dimusnahkan oleh produsernya sendiri lantaran frustrasi tak laku di pasaran. ”Mereka beranggapan tidak ada gunanya lagi,” kata Marlowe.

Tim repatriasi yang dipimpin Dr Edward Herbst sudah bekerja puluhan tahun sampai akhirnya memulainya dari rekaman-rekaman yang pernah dibeli oleh komposer Colin McPhee. McPhee pernah menetap di Bali bersama istrinya, seorang psikolog bernama Jene Belo, tahun 1931-1938. McPhee menjadi kolektor paling setia dari semua rekaman yang diedarkan oleh Beka dan Odeon mengenai kesenian Bali. Selain itu, kata Marlowe, arsip diperoleh dari Miguel Covarrubias dan Rolf de Mare, serta UCLA Ethnomusicology Archive.

Mata rantai

Prof Dr Made Bandem yang berbicara dalam diskusi menganggap repatriasi rekaman dari Beka dan Odeon ini akan menambah perbendaharaan seni Bali. Menurut pemetaan kebudayaan Bali yang pernah dilakukan pada 1992 oleh Universitas Udayana dan ISI (dulu STSI) Denpasar, setidaknya terdapat 5.612 grup kesenian. ”Dengan pemulangan ini berarti pemetaan itu akan bertambah,” ujar Bandem. Dalam piringan hitam, juga disebutkan beberapa kelompok kesenian di Bali yang menjadi sumber dari perekaman.

Lebih penting dari itu semua, pemulangan sebuah arsip ke tanah leluhurnya akan menjadi penggenap mata rantai yang hilang. Film-film tentang I Ketut Maria dan Ida Boda yang sedang mengajar tari kepada anak-anak menjadi arsip penting tentang pengajaran tari. Bali memiliki metode pengajaran seni dengan cara peniruan. Tak jarang Maria dan Boda memegang, menggerakkan, dan menuntun murid-muridnya untuk mengikuti sebuah gerakan. ”Di situ sebenarnya juga terdapat pengaliran energi seni dari guru kepada muridnya,” kata Bandem. Barangkali metode semacam ini hampir tidak digunakan lagi dalam pengajaran kesenian.

Direktur Pusat Arsip Etnomusikologi UCLA Anthony Seeger mengatakan, proyek repatriasi musik, tembang, dan film ke Bali menjadi proyek terbaiknya sepanjang tahun. ”Proyek ini merupakan contoh lengkap dan sangat menggairahkan akan usaha yang sering disebut-sebut sebagai repatriasi. Kami sangat senang bisa menyertakan arsip-arsip kami,” kata Seeger yang turut berbicara dalam diskusi bertajuk ”Bali 1928: Memorabilia”.

Proyek perekaman kesenian Bali yang dilakukan oleh Beka dan Odeon sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan proyek besar Pemerintah Kolonial Belanda bernama Baliseering atau Balinisasi, yang mulai diluncurkan tahun 1920-an. Proyek ini sejalan dengan politik balas budi kepada penduduk di tanah jajahan setelah diperas habis semasa proyek tanam paksa tahun 1830-an, ketika Belanda kalah perang. Baliseering berhasrat merekonstruksi, bahkan menciptakan kebudayaan Bali yang ”manusiawi” dengan mendirikan sekolah, museum, serta rekonstruksi terhadap kesenian. Muncullah kemudian kelompok-kelompok kesenian yang menghidupkan Bali. Para antropolog didatangkan untuk melakukan penelitian dan membangun kembali kebudayaan Bali yang ”hilang”.

Upaya perekaman yang dilakukan oleh Beka dan Odeon tak bisa dilepaskan dari proyek Balinisasi. Meski direkam dan kemudian diedarkan dengan maksud-maksud komersial, ia telah menjadi dokumen penting terhadap gelegak kreativitas yang muncul tahun 1920-an di Bali. Para seniman seperti I Ketut Maria menciptakan tarian terompong dan kebyar duduk yang diwarisi sampai kini. Hasil penting lainnya, tahun 1920-an menjadi masa-masa awal ”perumusan” tetabuhan kekebyaran, sebuah perangkat gamelan besar dengan bunyi-bunyian dinamik, yang sampai kini amat populer di Bali. ”Beka dan Odeon antara lain merekam bagaimana gairah gong kebyar mulai hidup di tanah Bali,” kata Made Bandem.

Lima seri CD dan DVD tentang Bali di masa lalu yang kini beredar akan mempermudah memahami bahwa pada suatu masa Bali sudah bergairah dan secara ”ajaib” menuju masa Bali yang sekarang, di mana industri kebudayaan menjadi tulang punggung kehidupan kebanyakan warganya.

(Putu Fajar Arcana)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Agustus 2015, di halaman 30 dengan judul “Repatriasi Seni ke Tanah Leluhur”.