Gawai, Pintu Ketemu Idola

0
1117

Ingin berjumpa dengan One Direction, Meghan Trainor, Katy Perry, Boyzone, atau artis idola lain? Gampang. Lewat gawai atau ”gadget”, di era digital ini impian bertemu artis idola sangat dimungkinkan.

Agustina Limans (42), Edelweis (12), dan Ellen Sinaga (24) berangkat berombongan dari Jakarta menuju Singapura untuk menonton konser Meghan Trainor ”That Bass Tour 2015” di Pulau Sentosa, April lalu. Tak hanya menonton konser penyanyi yang sedang digandrungi remaja itu, mereka juga ketemu langsung dan berfoto ria di acara Meet & Greet. Tak butuh modal, seluruh pembiayaan, seperti tiket konser, biaya pergi pulang naik pesawat, hingga makan minum selama tiga hari di Singapura, dibayari karena mereka memenangi kuis. Agustina dan Edelweis menjadi pemenang Instagram Video Contest yang digelar Jak FM, sedangkan Ellen memenangi digital kontes Langit Musik dari Sony Music Indonesia.

Video yang diunggah Agustina dan Edelweis cukup unik. Mereka menari ala barbie selama 15 detik dengan iringan lagu Meghan. Sesuai persyaratan kompetisi, mereka harus menyertakan dua CD Meghan Trainor sebagai properti dalam video. Untungnya, Edelweis memang penggemar berat Meghan, penyanyi cantik asal Amerika itu.

Tak sekadar menonton, seluruh aktivitasnya di Singapura diliput oleh Jak FM. Edelweis bisa berfoto bersama Meghan, bahkan ia mendapat keistimewaan turut duduk di barisan jurnalis dalam jumpa pers dengan Meghan.

Penyanyi dan pencipta lagu Meghan Trainor pada konser musik That Bass Tour di The Coliseum, Hard Rock Hotel, Resorts World Sentosa, Singapura, Kamis (23/4). Trainor lewat lagunya "All About That Bass" membawa pesan untuk mencintai diri sendiri tanpa terpengaruh standart kecantikan yang umum berlaku. Ini adalah rangkaian tour pertamanya di tahun ini yang membawakan lagu hits seperti All About That Bass, Dear Future Husband, dan Lips Are Moving. Kompas/Lasti Kurnia
Penyanyi dan pencipta lagu Meghan Trainor pada konser musik That Bass Tour di The Coliseum, Hard Rock Hotel, Resorts World Sentosa, Singapura, Kamis (23/4). Trainor lewat lagunya “All About That Bass” membawa pesan untuk mencintai diri sendiri tanpa terpengaruh standart kecantikan yang umum berlaku. Ini adalah rangkaian tour pertamanya di tahun ini yang membawakan lagu hits seperti All About That Bass, Dear Future Husband, dan Lips Are Moving.
Kompas/Lasti Kurnia

Memenangi tiket nonton konser Meghan dari Sony Music Entertainment Indonesia, Ellen hanya iseng mengaktifkan nada sambung pribadi lagu ”All About The Bass”. Ia gembira bukan main ketika dihubungi sebagai pemenang. ”Sering iseng dan beberapa kali menang kuis kayak gini,” tambah Ellen.

Ketemu Boyzone

Gara-gara gawai pula, Riefa Novianty (33), penggemar berat penyanyi Ronan Keating ini, berkesempatan mengikuti acara Meet & Greet dengan Boyzone yang digelar promotor konser Boyzone di Hotel Mulia, Jakarta, 21 Mei. Ronan Keating adalah salah seorang personel Boyzone. ”Modalnya cuma nekat. Demi Akang Keating,” ujar Riefa.

Dia memang sengaja mencari tahu kesempatan untuk mengikuti Meet & Greet dengan Ronan Keating. Boyzone berkunjung ke Jakarta dalam rangka BZ20 Boyzone Tour Live in Jakarta 2015. Ternyata promotor konser Boyzone, Fullcolour Entertainmnet, mengadakan lomba Meet & Greet melalui akun Instagram. Caranya pun relatif ”mudah”, peserta hanya harus me-repost foto Ronan Keating yang dipublikasikan melalui akun Instagram @FullColourparty untuk mengumpulkan ”like” sebanyak mungkin.

Tanpa berharap menang, Riefa ikut kontes. Jika tak menang, ia sudah cukup senang dengan menunggu artis idolanya di lobi hotel. Riefa punya waktu sekitar dua minggu untuk mengumpulkan like. Di sinilah kreativitasnya diuji karena follower akun Instagramnya @Riefano ”hanya” 2.000 lebih sedikit. Tanpa kehilangan akal, Riefa mengerahkan teman-teman yang memiliki follower banyak di Instagram untuk membantu. ”Istilahnya spam like,” kata Riefa. Tidak disangka, Riefa berhasil menjadi salah satu pemenang. Repost-nya mendapat like lebih dari 3.000 orang.

Riefa pun berhak menjadi peserta Meet & Greet bersama Boyzone, termasuk tentu saja bertemu dengan Ronan Keating. ”Ya ampun, rasanya kayak mau jungkir balik salto, ha-ha-ha,” kata Riefa mengenang.

Meski waktu Meet & Greet tak lama, hanya sekitar 5 menit, dan Riefa hanya bisa memotret tanpa punya kesempatan untuk mengobrol, Riefa tetap senang luar biasa. ”Kayak mimpi rasanya,” kata Riefa.

Rentan protes

Tak sekadar untung-untungan, kreativitas tingkat tinggi dibutuhkan demi meraih artis pujaan. Adri, misalnya, mengerahkan teman-temannya untuk mendandaninya agar mirip dengan Katy Perry. Memenangi kontes foto itu, ia lantas mendapat tiket konser menonton Katy Perry di Jakarta senilai Rp 2,4 juta. ”Lumayan, enggak butuh modal dalam bentuk uang. Tetapi memang harus kreatif,” kata Adri.

Adri tergolong beruntung. Selain tiket konser Katy Perry, ia juga sempat memenangi tiket isi ulang commuter line kereta api listrik Jabodetabek senilai Rp 500.000. Kala itu, ia hanya iseng ikut kuis yang diumumkan di gerbong kereta. ”Beberapa kali menang kuis karena hoki. Ada teman saya yang suka iseng ikut kuis di radio sampai mengubah suara agar bisa berulang-ulang ikut,” tambah Adri yang rajin ikut kuis sejak SMP.

Marketing & Communication Manager Sony Music Entertainment Indonesia Sundari Mardjuki mengatakan, kreativitas anak muda untuk memenangi beragam kuis yang digelar memang luar biasa. ”Namun, risiko diprotes oleh die hardfans juga besar. Mereka melakukan apa pun untuk menang dan kadang kala tidak terima jika kalah,” ujar Sundari.

Salah satu kehebohan peserta kuis terjadi ketika Sony Music Entertainment Indonesia menggelar kontes dengan hadiah satu tiket konser nonton One Direction di Madison Square Garden, New York. Kala itu, penggemar hanya perlu membeli paket CD One Direction Take Me Home dengan harga spesial di bringmeto1Dindonesia.

Setelah itu, mereka harus mengunggah foto unik dengan menggunakan atribut One Direction dan menampilkan ciri khas Indonesia. Pemenangnya adalah anak muda yang paling banyak mendapat like di media sosial. ”Banyak yang kreatif, tetapi yang menang cuma satu orang. Lantas banyak yang protes,” tambah Sundari.

Pakar media sosial Nukman Luthfie menjelaskan, fenomena tersebut merupakan bentuk kepandaian produsen dalam menciptakan keriuhan di media sosial untuk meningkatkan citra atau brand produk. Adapun pengguna media sosial hanya merespons.

Dalam keterkaitan itu, lanjut Nukman, produsen mencoba membaca hasrat pengguna media sosial lalu mendorongnya untuk terlibat dalam keriuhan. Pengguna media sosial akan berhitung, sekiranya dia mendapat nilai tambah dalam keterlibatan itu, mereka akan ikut.

Misalnya produsen menawarkan jalan-jalan ke luar negeri, nonton konser gratis atau mendapat diskon, itu akan dikejar pengguna media sosial. ”Selalu ada segmen pasar di mana produser tahu akan dikejar. Itu adalah cara yang mudah membangun keriuhan di media sosial,” kata Nukman.

Fenomena ini, kata Nukman, tidak akan hilang selama produsen kreatif. Lagi pula, produsenlah yang memiliki modal dan berpeluang untuk mengarahkan hasrat-hasrat pengguna media sosial tersebut.