Kelompok sepeda di acara Enervation, parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (25/1). Kompas/Lasti Kurnia (LKS) 25-01-2015

Rumah Hemat Energi

Murah dan Aman, Tapi Tak Populer

0
1366
DI antara banyak ”booth” di arena aksi hemat energi bernama Enervation di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, Minggu (25/1), ada kontainer yang di dalamnya ditata seperti sebuah rumah. Ada mesin cuci, alat pengatur suhu atau AC, kompor, dan alat mirip meteran listrik. Di luar ”rumah” terdapat empat tabung gas beserta genset dan instalasinya.

Sepintas tidak ada yang aneh. Namun, keberadaan tabung besar tersebut memunculkan pertanyaan. Mengapa ada tabung gas dan genset di sisinya? Setelah dicari tahu, ternyata alat-alat tersebut adalah instalasi gas yang diubah menjadi tenaga listrik untuk operasional berbagai peralatan di dalam rumah, seperti lemari es, mesin AC, mesin cuci, dan kompor. Lewat bantuan genset, gas bumi bisa menjadi pembangkit listrik untuk mendukung aktivitas kita di rumah.Yang asyik, penggunaan gas bumi itu membuat pengeluaran orangtua kita jauh berkurang dibandingkan jika memakai listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menghidupkan banyak peralatan di rumah. Itu karena harga gas bumi per kilowatt jam Rp 800, sedangkan harga listrik dari PLN Rp 1.350 per kilowatt jam.”Untuk rumah tangga dengan empat jiwa (orangtua dengan dua anak), per bulan cukup keluar dana kira-kira Rp 100.000 saja,” kata Feliks, petugas pemasaran dari Perusahaan Gas Negara (PGN) yang berjaga di kontainer tersebut.Biaya itu jika dirinci adalah pengeluaran untuk menghidupkan segala macam alat di rumah, misalnya mesin cuci, AC, kompor gas, dan lemari es.

Josh dan beberapa siswa SMA Ipeka Puri Indah, Jakarta Barat, yang mendengarkan penjelasan itu ternganga. ”Wah, murah banget,” kata Josh. Josh membandingkan biaya listrik untuk pemakaian alat rumah tangga dan lampu di rumahnya mencapai ratusan ribu rupiah per bulan.

Iwok dari Humas PGN kemudian memberi penjelasan lebih rinci kepada para siswa yang semula hanya ingin mencoba naik Bajaj berwarna biru berbahan bakar gas yang ada di booth itu. Para siswa kelas XII tersebut kemudian tertarik setelah melihat ada instalasi di luar kontainer.

”Menurutku, ide menggunakan gas untuk menghidupkan alat-alat di rumah sangat menarik. Lebih-lebih bayarnya jauh lebih murah daripada menggunakan listrik dari PLN yang harganya naik terus,” kata Felix, siswa SMA Ipeka.

Staf PGN memberi penjelasan tambahan umpamanya soal instalasi di luar rumah yang menjadi tanggungan PGN. ”Kalau bisa, penerapan sistem ini dipercepat. Aku mau rumahku punya instalasi kayak gitu sebab sepertinya instalasinya aman kok,” kata Josh.

Keamanan terjaminFaktor keamanan dalam pemakaian gas bumi menjadi hal penting. Menurut Kepala Unit Komunikasi Korporat PGN Ridha Ababil, masyarakat masih takut memakai instalasi gas bumi di dalam rumahnya. ”Kami pastikan keamanannya terjamin. Kami sudah memasang instalasi gas di dalam rumah sejak tahun 1970-an dan belum pernah ada kebocoran asal pipanya tak dipacul,” katanya.

Pihak PGN membuat kontainer itu untuk mengenalkan pemakaian gas bumi secara lebih luas kepada masyarakat. Selama ini, masyarakat hanya mengenal gas untuk pemakaian kompor gas. ”Padahal, gas bumi bisa dialihkan menjadi tenaga listrik lewat genset untuk menghidupkan semua peralatan yang memakai listrik sebagai tenaga penggerak,” kata Ridha Ababil.

Awalnya, usaha perluasan pemakaian gas bumi yang harganya lebih murah daripada elpiji dilakukan dengan memasang pipa gas baru di rumah warga, tetapi cara itu mahal dan jalurnya panjang karena harus ada izin dari banyak instansi. ”Sebagai alternatif ada dua pilihan, membuatkan instalasi gas di rumah warga dan menyediakan mobil keliling ke rumah warga untuk mengisi gas atau membuat stasiun pengisian gas di kompleks rumah warga. PGN tinggal mengisi stasiun itu,” katanya.

PGN sudah membuat proyek pembuatan instalasi ke rumah warga yang akan diuji coba di sebuah perumahan di Bekasi, Jawa Barat. Jika uji coba itu sukses, PGN mencoba lagi ke wilayah lain. Lewat cara itu diharapkan masyarakat bisa memperoleh pasokan energi dari dalam negeri dengan harga lebih murah. (TRI)