Ramalan Bintang: Jadikan Sarana untuk Mawas Diri

0
976

Dunia remaja memang penuh warna. Soal ramal-meramal pun seakan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Ramalan bintang, misalnya, dengan mudah kita temui di hampir semua majalah dan tabloid remaja. Belakangan, ada pula ramalan bintang yang diunggah lewat Twitter.

Bahkan buat sebagian remaja, mencermati ramalan bintang itu sesuatu yang harus dilakukan, setidaknya sekali dalam seminggu. Tak heran kalau ramalan yang muncul setiap minggu di media massa menjadi sesuatu yang kita tunggu, terutama yang menyangkut soal asmara dan keuangan.

Tak peduli cewek ataupun cowok, dua hal itulah yang kita tunggu-tunggu. Maklum, kehidupan remaja memang tak lepas dari kisah asmara. Selain itu, untuk melakukan pe-de-ka-te alias pendekatan, kita perlu uang sebagai sarananya.

Wawan, pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 40, Jakarta, termasuk cowok yang sempat menggandrungi ramalan bintang.

”Aku tahu soal zodiak pertama kali dari majalah. Setelah itu kayaknya aku selalu pengin tahu apa, ya, ramalan buatku minggu ini,” ujar cowok berbintang Libra ini. Dia pun semakin keranjingan mencari tahu soal ramalan atas dirinya ketika melakukan pendekatan kepada seorang cewek.

”Waktu itu aku jadi sering membaca ramalan soal asmara, he-he-he,” kata dia. Wawan sebenarnya sadar betul, kalaupun apa yang kemudian terjadi ternyata sesuai dengan ramalan, itu hanya faktor kebetulan semata. Itu sepenuhnya bukan karena ramalan. Tetapi entah mengapa, dia senang saja membaca ramalan.

Untuk hiburan

Dalam soal keuangan pun demikian. Apabila dia diramalkan minggu ini rezekinya berlimpah dan ternyata benar, dia tak percaya itu berkat ramalan.

”Urusan rezeki, aku dapat uang banyak atau tidak, kan, semua datang dari Tuhan. Aku, sih, begitu mikir-nya. Buat aku, melihat ramalan itu hanya untuk bersenang-senang,” katanya.

Vereen Augustine, siswa kelas XI SMA Xaverius 1, Palembang, Sumatera Selatan, juga suka membaca ramalan bintang. Agak malu-malu dia mengakui sering mencermati rubrik zodiak soal keuangan atau rezeki dan asmara.

”Suka aja, sih, kalau aku diramal akan punya uang banyak atau dapat rezeki. Tetapi jika diramal keuangan seret, aku juga enggak masalah. Buat aku, ramalan, kan, hanya untuk tanda kita perlu antisipasi aja biar enggak boros,” ucapnya.

Bagi Wawan dan Vereen, rubrik zodiak menjadi bahan hiburan dan seru-seruan ketika mengobrol dengan teman-teman. ”Ngobrol jadi seru kalau kita saling membandingkan asmara dan keuangan masing-masing,” ujar Wawan.

Tahun Kuda Kayu

Soal nasib dan peruntungan atau hoki biasanya juga menjadi bahan perbincangan ramai pada perayaan Imlek, Tahun Baru China. Menjelang perayaan Imlek pada 31 Januari lalu, ada sebagian orang yang mencari tahu tentang nasib dan peruntungan mereka di tahun baru ini. Caranya antara lain dengan membeli buku ramalan peruntungan menurut shio masing-masing di Tahun Kuda Kayu.

Selain itu, tak sedikit warga datang langsung ke kelenteng-kelenteng untuk menemui ahli fengsui (astrologi Timur) guna menanyakan nasibnya di Tahun Kuda Kayu ini.

Salah satu ahli fengsui yang banyak mendapat kunjungan warga adalah Souw Yan Siang atau Eddy, ahli fengsui di Kelenteng Tjo Soe Bio, Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.

”Orang-orang tak hanya datang, tetapi ada yang bertanya tentang peruntungan mereka lewat e-mail, Facebook, dan Blackberry Messenger,” kata Eddy.

Menurut dia, Tahun Kuda Kayu nanti secara umum merupakan tahun yang memerlukan pembenahan diri. ”Di tahun baru nanti kita harus berhati-hati karena bisa terjadi aneka bencana. Aparat pemerintah dan kita semua harus mawas diri. Mari kita memperbaiki diri sendiri supaya kehidupan kita menjadi lebih baik,” tuturnya.

Namun, Vereen kurang tertarik mencari tahu soal itu. Dia merasa belum perlu mencari tahu secara rinci berkaitan dengan shio dan ciong-nya (hal yang tidak cocok dilakukan).

”Aku dan keluargaku pada setiap Tahun Baru China memang ke kelenteng untuk sembahyang, tetapi aku tak menemui ahli astrologi untuk menanyakan peruntungan nasib shio-ku,” kata Veeren.

Rupanya remaja seusia Vereen lebih tertarik ramalan bintang ala astrologi Barat, yakni 12 bintang mulai dari Aries hingga Sagitarius. Itu sebabnya, mereka sering memburu majalah remaja yang memiliki rubrik zodiak.

Refleksi diri

Kegandrungan remaja pada ramalan bintang di mata psikolog Dinastuti merupakan sesuatu yang wajar. Alasan dia, masa remaja memang saat bagi mereka mencari jati diri lewat banyak cara, termasuk zodiak. ”Cara mencari informasinya memang bisa yang tepercaya atau sebaliknya.”

Pengertian remaja soal ramalan zodiak seperti diutarakan Wawan dan Vereen, menurut Dinastuti, pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, relatif tidak keliru.

”Kalau sumber informasi buat remaja kurang kredibel seperti ramalan bintang, mereka, ya, jangan terlalu percaya. Jangan sampai ramalan bintang itu kemudian menjadi sesuatu yang secara serius kita renungkan atau dipikirkan mendalam,” kata psikolog itu.

Remaja, kata dia, boleh saja melihat ramalan bintang karena bisa menjadi cara untuk memahami diri sendiri ataupun orang lain. Hal itu juga bisa menjadi acuan diri untuk menjalin relasi yang lebih baik.

Dinastuti memberi contoh, orang yang berbintang Capricorn secara umum disebut berwatak keras. Padahal tidak semua orang dengan rasi bintang Capricorn memiliki watak seperti itu.

”Ada sisi negatif dan positifnya (ramalan bintang). Dengan tahu watak diri kita sendiri, kita juga akan belajar mengenal watak orang lain,” tuturnya.

 Dengan mengetahui watak beserta sisi baik dan buruknya, kita bisa
menjadikan pengetahuan itu untuk refleksi diri, memperbaiki, dan mawas diri.