Mengenal Budaya Lisan di Festival Kata 2023

0
111

Pada Kamis (26/10/2023) lalu, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta berkesempatan untuk hadir di Festival Kata yang digelar Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta. Festival itu antara lain menampilkan dan memberi ruang diskusi antar pegiat literasi untuk saling bertukar pandangan mengenai kondisi literasi dan budaya terkini, khususnya tradisi lisan Tale Tuai Jambi dan Dongeng Buleng Betawi.

Budaya lisan Tale Jambi merupakan kata hati seorang penyanyi yang disampaikan lewat syair dengan kata-kata berupa pantun. Tale dibawakan dengan syair yang muncul secara spontan, sesuai dengan momen yang ada saat itu. Untuk Tale Tuai, biasanya dibawakan ketika sedang pergi ke sawah untuk membunuh waktu.

“Saya ingat nenek saya menyanyikan Tale saat sedang turun ke sawah, supaya pekerjaan lebih cepat selesai” ungkap Tino Maryam, salah satu maestro Tale Tuai Jambi yang masih ada.

Meskipun sudah berusia 70 tahun, ia masih sangat semangat ber-Tale. Terutama ketika Tino membawakan Tale Naik Haji, yang memang iramanya lebih semarak karena bersahut-sahutan.

Tino Maryam sedang membawakan Tale Naik Haji

Sebagai seorang mahasiswa yang hampir seumur hidupnya tinggal di Jawa Timur, saya merinding dan terpesona ketika mendengar Tino Maryam ber-Tale. Suaranya yang terdengar kencang dan meliuk-liuk dengan berbagai pola irama seakan mengundang orang untuk ikut menonton dan menyimak ungkapan hatinya.

Abah Yahya sedang menampilkan pembukaan Dongeng Buleng Betawi

Pada bagian lain, Abah Yahya juga menunjukan kepiawaiannya “menyanyikan” pembukaan sebuah kisah.

Di sini berhalanya di sonoo… berhalunya // yang dari pelilir… saya panggil balik milir // yang dari beludik… saya panggil… dia balik mudik // yang dari wetan / saya panggil… dia balik ke wetan // yang dari / bekulon saya panggil / diaaa (meliuk-liuk) balik ke kulon // istan-istan tampak rana // saudara-saudaraku… 

Begitulah bentuk nyapun yang dibawakan oleh Abah Yahya di Festival Kata.

Tak berbeda jauh dengan Tale Tuai Jambi, opening atau nyapun Dongeng Buleng Betawi juga membuat saya terkesima. Penggunaan bahasa Betawi dan ritme bernyanyi seperti sinden Jawa yang membuat nyapun terasa “sakral”.

Dongeng Buleng Betawi ini sebenarnya membawakan kisah-kisah kerajaan lokal saat ada pesta perayaan, misalnya ketika pernikahan atau sedang panen. Buleng akan dibawakan semalam suntuk oleh bapak-bapak atau sesepuh yang hadir di perayaan.

Abah Yahya, salah satu penutur terakhir Dongeng Buleng berkata, “(cerita) Buleng terakhir yang pernah ia bawakan tahun ’78, yang dalam sejarah pernah kita saksikan. Sesudah itu, kita nggak dapet lagi cerita-cerita, karena buleng terkait dengan ekosistem dengan daerah agraris. Jadi jika nggak ada sawah dan desa, maka nggak ada pesta, sehingga buleng juga tidak ada”.

Direktur Perfilman, Musik dan Media Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Ahmad Mahendra menambahkan, saat ini maestro yang tercatat ahli seperti mereka ada 233 di seluruh Indonesia, namun banyak di setiap tahunnya yang menua dan meninggal. “Pemerintah berusaha untuk memaksimalkan upaya pendokumentasian yang menjaga eksistensi dari para maestro yang masih ada, dengan misalnya mengadakan program Panggung Maestro“. #atmagoestokompas

Indira Widjoyo, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Admisitrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.