Semua Perubahan Itu Diawali dari Halaman

0
175

“Halaman rumah punya arti yang begitu penting bagi kehidupan, bukan hanya sebagai pelengkap rumah, tapi awal dari perubahan dalam hidup manusia dan lingkungan.”

Seperti pagi sebelumnya, saya menikmati secangkir kopi hangat sambil mendengarkan getaran musik indie yang mengalun dari speaker kecil di pekarangan belakang rumah. Saat weekend, pekarangan menjadi tempat kerja saya, karena pada hari–hari biasa saya disibukkan dengan kelas dan kegiatan organisasi kampus.

Walaupun halaman belakang tidak terlalu luas, namun angin sepoi dan tanaman hijau yang tumbuh mampu memberi saya inspirasi baru untuk bergulat dengan pikiran–pikiran nakal di kepala karena tugas akhir yang begitu menumpuk. Hampir empat tahun saya menghuni rumah, pekarangan belakang ini telah menjadi saksi bisu dari betapa seringnya kami membawa sanak keluarga, teman, maupun kenalan untuk bercengkrama di sana.

Kadang juga sekedar bermain domino dan push rank Mobile Legends. Terkadang pula, kami menjadikan pekarangan sebagai pusat kegiatan rumahan. Makan, mencuci baju dan piring, serta menjemur pakaian.

Pekarangan itu terletak tepat di belakang rumah, di samping teras, luasnya sekitar 8 x 2 meter. Di sana, tumbuh beberapa jenis bunga, cabai, talas, dan pohon alpukat.

Tak ada atap yang menaungi pekarangan belakang, sehingga kita bisa menatap bintang dan pesawat yang melintas dengan leluasa atau pun melihat bagaimana hujan mengguyur bumi. Rumput gajah pun tumbuh liar, menambah asri pekarangan belakang.

Sayangnya, sejak April tahun ini, hujan berhenti mengguyur bumi Makassar. Hampir enam bulan kami tidak merasakan guyuran air sehingga semua rumput yang ada di halaman belakang menjadi kering dan perlahan mati. Pekarangan itu menjadi tidak menarik lagi. Ditambah tembok bata yang dibangun untuk membatasi kami dari tetangga lain, menjadikan pekarangan semakin membosankan karena tak ada tanaman hijau yang mengalihkan perhatian.

Melihat pekarangan ini, hanyalah sebuah gambaran kecil dari akibat cuaca ekstrim yang terjadi di Makassar akhir-akhir ini. Bahkan di perumahan besar seperti Telkomas, beberapa tetangga yang memiliki sumur bor mengatakan bahwa rumah mereka sudah kekurangan air. Pemilik kios air isi ulang pun menaikkan harga galon karena kesulitan mendapat air sehingga mereka mesti memesan air dari PDAM jauh-jauh hari. Akibatnya, harga air galon yang semula Rp 5000 rupiah menjadi Rp 7000 per galon.

Itu hanya contoh kecil dari air minum, belum air untuk mandi dan mencuci. Jika dibandingkan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto, kekeringan di Makassar belum apa–apa.

Dari fenomena ini saya pun kembali mempertanyakan, ke mana semua air yang mengalir di dalam tanah. Apakah inti dari masalah kekurangan air di Makassar hanya karena kemarau yang panjang, atau karena pengaruh lain? 

Permasalahan Resapan Air 

Dalam artikel yang ditulis oleh Anwar K, Wahyu dan Arisanty  berjudul Pembangunan Perumahan di Desa Semangat Dalam dan Dampaknya Terhadap Lingkungan dan Masyarakat yang terbit di Jurnal Pembangunan Geografi 2022 diulas bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan adalah pembangunan perumahan. Dampak terhadap pembangunan itu termasuk ahli fungsi lahan, permasalahan drainase, dan permasalahan sampah.

Desa Semangat di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, adalah salah satu distrik dengan tingkat penduduk yang padat, sekitar 16 ribu jiwa, serta memiliki tingkat pembangunan yang tinggi. Makin banyaknya penduduk yang menetap menyebabkan perubahan fungsi lahan secara drastis dari lahan pertanian, hutan dan lahan kosong menjadi pemukiman.

Ironisnya, pembangunan lahan ini kurang memperhatikan struktur bangunan dan drainase sehingga berpengaruh pada lingkungan yang ada di sekitar wilayah tersebut. Saat musim penghujan, wilayahnya menjadi sering terkena banjir. Tingkat pencemaran sampah yang tinggi dari wilayah pemukiman turut merugikan ekosistem sungai. Padahal aliran air sungai berperan dalam memenuhi kebutuhan air perkotaan.

Ilustrasi pekarangan rumah: Tempat ini adalah salah satu halaman pekarangan milik warga di Makassar, awalnya tempat daerah itu adalah rawa. Namun, karena proses jual beli tanah dan pembangunan pemukiman, perlahan daerah rawa ini mulai ditutup untuk pembangunan rumah.
Dokumentasi Pribadi: Oktafialni Rumengan_2022

Beberapa kawasan di Makassar awalnya adalah daerah rawa dan aliran air yang kini telah bertransformasi menjadi wilayah perumahan yang padat penduduk, pusat hiburan, properti pemerintah maupun swasta. Akibatnya, wilayah resapan air yang dulu tersedia di mana-mana, tergeser dan perlahan menyempit. Serupa dengan Desa Semangat, Makassar merupakan salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 1.432.189 jiwa pada tahun 2022. Angka ini belum termasuk pendatang. Sedangkan indeks pembangunan manusia di wilayah ini tahun 2021 mencapai 82,66.

‘Halaman’ dan Permasalahan Lingkungan

Mengapa saya mengaitkan fenomena ini dengan halaman? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, halaman punya arti sebagai pekarangan rumah, pekarangan sekolah, gedung, dan sebagainya. Karena itu, cobalah untuk mencermati bagaimana kondisi pekarangan di sekitar kita. Sekecil pekarangan rumah, mampu untuk menjadi awal bagi perubahan lingkungan, baik berdampak buruk maupun baik.

Contohnya saja, pohon – pohon yang tumbuh di pekarangan, sedikit banyaknya pohon itu mampu memberi manusia dan hewan oksigen untuk bernafas. Di samping itu, keberadaanya turut mengurangi karbon dioksida yang mengganggu udara sekitar. Sementara akarnya berfungsi untuk menahan erosi tanah. Bagaimana jika pohon–pohon itu tidak memiliki tempat untuk tumbuh lagi? Karena pekarangan telah ditutup oleh semen dan kerikil dengan alasan klise : keindahan.

Hal ini jugalah yang menjadi salah satu permasalahan lingkungan di kota-kota besar. Keberadaan ruang terbuka hijau tidak sebanding dengan masifnya pembangunan. Belum lagi, hanya segelintir rumah di perkotaan yang tetap mempertahankan tanah sebagai landasannya. Rata–rata jika ada tanah yang tersisah di halaman depan, pemiliknya lebih memilih untuk membangun garasi.

Permasalahan lainnya adalah struktur bangunan memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Kurang teratur. Jika dibandingkan lagi dengan perumahan yang biasanya teratur, tentu semakin terlihat bedanya.

Dalam buku berjudul Yard, Anwar Jimpe Rahman menyebutkan, jumlah pekarangan rumah pada pusat kota Makassar di Kecamatan Panakkukang dan sekitarnya setiap tahun mengalami penyusutan karena pembangunan yang berkembang pesat. Terutama di Jalan Sukaria, Jalan Abdullah Daeng Sirua, dan Kampung Rama. Rata-rata penduduk di wilayah itu memilih mengutamakan pembangunan rumah, lalu menyisakan satu sampai dua meter untuk menjemur pakaian atau pun mendirikan kios.

Perubahan permukiman ini dimulai dalam tiga dekade terakhir, sekitar akhir tahun 1990-an. Pada masa ini pula terjadi perubahan bentuk rumah, dari rumah panggung menjadi rumah berdinding bata. Hunian warga tak lagi ditopang kayu, melainkan dibangun berlandaskan tanah pekarangan sehingga fungsi lahan dari segi ekologi, sosial, dan budaya secara dominan digantikan oleh peran ekonomi dengan posisi yang tidak seimbang. Satu hal yang juga sering diabaikan dari perubahan fungsi halaman adalah peran psikologisnya.

Ilustrasi foto kondisi jalan di Makassar: Di mana warga yang tinggal di wilayah cukup ramai atau berada di tengah kota cenderung menggunakan sisi jalan untuk mendirikan kios atau gerobak dagangan.
Dokumentasi Pribadi: Oktafialni Rumengan_2022

Sekitar tahun 1984, Roger Ulrich meneliti bagaimana pengaruh halaman terhadap pemulihan pasien pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat. Hasilnya memperlihatkan, pasien yang direhabilitasi di kamar dengan jendela menghadap pemandangan pohon dan pantai pulih lebih cepat dari pada pasien di ruangan dengan jendela menghadap dinding bata.

Studi Ulrich maupun artikel Anwar di Buku Yard kian menggelitik saya, sampai akhirnya saya mencoba mencari tahu di internet bagaimana penghuni media sosial memandang halaman. Pertanyaan dari sebuah platform terlintas di beranda saya : “Lebih baik rumah kecil dengan halaman besar atau rumah luas dengan halaman sempit?”

Halaman untuk Masa Depan Kita

Sulit menjawab pertanyaan ini bukan? Ada banyak kontroversi dan perbedaan persepsi dari orang-orang karena perbedaan selera. Namun, seyogyanya halaman bisa menjadi tempat tumbuh yang penting bagi psikologi anak, di mana anak-anak dapat bermain dan menghabiskan waktu dengan asyik, bebas tanpa halangan. Anak–anak di wilayah Panakkukang dan sekitarnya, hanya sedikit yang punya pekarangan luas.

Saat ini kecenderungan untuk membangun rumah berbahan bata semakin tinggi peminatnya. Semakin banyak yang meninggalkan tradisi lama, yaitu rumah panggung. Padahal hampir semua bentuk rumah adat yang ada di Sulawesi Selatan mengusung konsep rumah panggung.

Rumah-rumah ini memiliki banyak makna. Misalnya rumah panggung dari Suku Toraja. Pada masa lalu, rumah panggung tersebut dibangun agar terhindar dari hewan buas. Kolongnya digunakan sebagai kandang ternak tedong (kerbau) dan halamannya dibuat dengan luas supaya dapat digunakan untuk acara seperti rambu tuka’ (pernikahan) ataupun untuk pertemuan keluarga.

Begitupun dengan suku Bugis-Makassar. Rumah adat didesain untuk kepentingan beraneka rupa, pernikahan hingga acara syukuran kelahiran bayi. Tapi karena halaman yang semakin sempit, sulit untuk mewujudkan acara itu di halaman rumah-rumah yang ada di kota. Beberapa penduduk memilih menggelar kegiatan di jalan depan rumah mereka.

Meski demikian, sesungguhnya tidak ada yang salah dengan bentuk rumah manapun. Semua orang berhak memiliki rumah sesuai keinginannya, halaman luas maupun sempit, semuanya diperbolehkan.

Namun, merawat halaman dan membuatnya terus lestari adalah hal yang sulit. Kita perlu  belajar menghargai halaman sehingga kelak bisa berkontribusi bagi lingkungan. Seperti menciptakan perumahan di perkotaan dengan konsep rumah panggung misalnya.

Teknologi dan arsitektur sudah berkembang pesat. Bukan hal yang tidak mungkin untuk menggambarkan konsep rumah, atau menciptakan kebijakan baru seperti mengusulkan warga untuk membangun sesuai konsep yang telah ditentukan. Dengan demikian struktur pemukiman yang ada di kota tidak awut-awutan.

Oktafialni Rumengan, mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin yang menetap di Makassar. Tertarik dalam isu lingkungan dan ekonomi, serta tengah belajar menuangkan keresahannya melalui tulisan.