Bayucaraka ITS Bawa Pulang Tiga Juara dari Singapura

0
170

Tim robot terbang Bayucaraka Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Soeromiber, berhasil membawa pulang tiga gelar juara dari Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) 2023 pada Sabtu (01/04/2023) lalu.

Tim beranggota, Arya Wisnu Teguh, Martin Adytia, Epindonta Ginting, Zufar Bagas Prasetyo, Mochammad Hilmi, dan Ahmad Nabil Assalafi. Piagam yang mereka peroleh dari kompetisi mesin terbang terbesar di Singapura itu, yakni juara 1 kategori Autonomous (D2), juara 2 dan 5 kategori Semi-Autonomous (D1). Berbekal pengalaman dari kompetisi SAFMC tahun lalu, Soeromiber berhasil mempertahankan dan menambah gelar juara. 

Wahana yang dibuat

Exokinesis, remot penggerak drone dengan sensor gerakan tangan. Foto: dokumentasi Bayucaraka

Tiga robot terbang atau drone yang dibuat untuk kompetisi tersebut mereka beri nama Soero Alpha, Soero Beta, dan Soero Airon. Kedua diantaranya, Soero Alpha dan Soero Beta dirancang sebagai drone autonomous atau tidak melibatkan sentuhan manusia dalam pengoperasiannya.

Selain itu, kedua drone ini juga dapat saling terkoneksi dalam menyelesaikan misi-misi yang ada pada perlombaan. Sama halnya dengan Soero Airon, dirancang untuk menghadapi tantangan yang akan semakin kompleks.

Tahun ini, Soeromiber juga membuat inovasi pada remot yang digunakan. Diberi nama Exokinesis, remot ini dapat menjalankan drone hanya dengan melalui sensor gerak tangan saja. “Semoga suatu saat nanti Exokinesis dapat dijadikan sarana belajar bagi pemula yang ingin menerbangkan drone,” ujar Thoriq Akbar Maulana, Ketua Tim Bayucaraka saat ditanya mengenai harapan terhadap karya di Pusat Robotika ITS pada Jumat (12/05/2023).

Di balik medali

Salah satu drone yang dilombakan dalam SAFMC beserta piagamnya. Foto diambil Jumat (12/05/2023). Foto: Anastasia Trifena

Persiapan mengikuti kompetisi dilakukan sejak November 2022. Diawali dengan riset, menentukan misi dan desain wahana, perakitan, dan trial atau masa uji coba. Sempat terhambat dari segi dana dan komponen yang harus dibeli, Soeromiber pada akhirnya baru melakukan persiapan secara aktif pada Desember 2022.

Setelah usai dengan segala persiapan dan perakitan, trial pun dilaksanakan. Tahapan itu adalah bagian yang sangat menentukan sukses atau tidaknya wahana yang akan diperlombakan. Itu sebabnya, trial akan memakan waktu sekitar 2-3 bulan.

Baik dari segi mekanik (karakteristik terbangnya wahana) maupun elektronik, semua dipastikan dengan baik oleh tim agar wahana memiliki success rate yang tinggi.

“Biasanya di tahap trial ini, kami bekerja sampai larut pagi. Dari jam 6 sore (sepulang kuliah) sampai jam 3 pagi,” ujar Thoriq. Konsisten dan kerjasama tim inilah yang pada akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Pembagian tugas juga dilakukan secara merata agar tiap individu dapat bekerja dengan maksimal dan tidak mengganggu perkuliahan. 

Tidak selalu berjalan dengan mulus, terkadang aula robotik yang biasa digunakan sebagai tempat uji coba dipakai untuk keperluan-keperluan lain. “Kalau ada acara (di aula), kami harus cari lapangan lain untuk trial. Di situ sih kadang kesulitannya,” kata Mochammad Hilmi saat diwawancara di Pusat Robotika ITS pada Jumat (12/05/2023).

Dengan bekal persiapan yang matang, SAFMC akhirnya mampu dilewati oleh Soeromiber dengan rasa bangga telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. 

Siap berprestasi lagi

Soeromiber kembali menyiapkan wahana baru untuk kompetisi berikutnya. Foto: Anastasia Trifena

Melalui pengalaman manis di awal tahun ini, Soeromiber maupun tim-tim Bayucaraka lainnya siap kembali menorehkan prestasi. Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) adalah kompetisi terdekat yang akan diikuti.

“Saat ini kami sedang mempersiapkan wahana-wahana yang akan dilombakan pada KRTI, sebab sebenarnya KRTI ini kompetisi utama kami karena lebih ketat persaingannya untuk membawa nama kampus masing-masing,” imbuh Thoriq.

Mahasiswa Teknik Transportasi Laut itu berharap Bayucaraka dapat menambah kemenangan dari tahun ke tahun dan dapat bermanfaat juga bagi masyarakat sekitar.

Anastasia Trifena, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Petra Surabaya dan Magangers Kompas Muda Harian Kompas Batch XII