Program Tandem ID x DE Oleh PPI Jerman

0
60

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman (PPI Jerman) periode 2021/2022, Sabtu (28/5/2022) menginisasi program Tandem IDxDE. Program tersebut merupakan implementasi dari diplomasi Bahasa Program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia.

Program BIPA adalah program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia yang meliputi pelajaran berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan, bagi penutur asing. Pembelajaran bisa dilakukan lewat daring dan pertemuan tatap muka.

Lewat platform itu, para peserta akan dibagi menjadi pasangan-pasangan untuk melatih kemampuan bahasa mereka. Mereka terdiri dari satu peserta yang berbahasa ibu Indonesia dan satu peserta yang memiliki bahasa Jerman sebagai bahasa pertama atau kedua.

Pembukaan sekaligus peresmian program Tandem ID x DE diadakan Sabtu (28/5/2022) lalu secara daring oleh Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa Kemdikbudristek RI, Iwa Lukmana dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Ardi Marwan. Acara tersebut hasil Kerjasama antara PPI Jerman, dan Atase Pendidikan KBRI Berlin dengan dukungan Kemdikbud Ristek, KBRI Berlin, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt dan Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin.

Reza Khasbullah, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman periode 2021/2022. Foto: Dokumen Tadem IDxDE.

Pada awal pembukaan acara, Reza Khasbullah, Ketua PPI Jerman 2022 yang mahasiswa Indonesia di Technical University of Munich, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pengurus PPI Jerman, khususnya Departemen Seni dan Budaya. Reza menjelaskan pentingnya memahami “bahasa” sebagai kunci dari budaya, yaitu sebagai langkah awal memahami budaya suatu masyarakat dan bangsa.

Ia menambahkan, Bahasa Indonesia saat ini memiliki popularitas ke-9 besar dunia setelah bahasa Rusia, berdasarkan jumlah penggunanya. Dari popularitas itu dapat dianalisa beragam potensi pengembangan dan kerjasama konstruktif bagi pembangunan di Indonesia. Melalui penggunaan dan penguasaan bahasa, baik Indonesia dan Jerman nantinya diharapkan pembelajar bahasa dapat berkontribusi positif terhadap hubungan diplomasi kedua negara.

Meskipun masing-masing individu memiliki alasan mempelajari bahasa asing, pada kesempatan perayaan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman, PPI Jerman berharap acara tersebut bermanfaat bagi semua peserta baik WNI pembelajar bahasa Jerman maupun WNA pembelajar bahasa Indonesia.

Iwa Lukmana, Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa – Kemdikbud Ristek. Foto: Dokumen Tandem IDxDE.

Iwa Lukmana, Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa pada kesempatan itu mengapresiasi kegiatan Tandem ID x DE ini sebagai wujud kontribusi aktif pelajar Indonesia terhadap diplomasi bahasa Indonesia di Jerman. Lebih lanjut ia memberikan gambaran bahwa bahasa Indonesia sangat berpotensi berkembang sebagai bahasa internasional.

Melalui strategi pembelajaran bahasa asing dalam Tandem dengan situasi formal di dalam kelas yang simulatif dan aktif, program itu sangat efektif bagi para pembelajar bahasa. Pada akhir sambutan Iwa berharap pembelajaran bahasa dalam kegiatan Tandem ID bisa bermanfaat untuk sekarang dan di masa yang akan datang baik secara individu maupun profesional.

Ardi Marwan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin. Foto: Dokumentasi Tandem IDxDE.

Sedangkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin Ardi Marwan menjelaskan, peminat BIPA di Jerman sangat potensial karena sudah tersebar di berbagai universitas di Jerman, beberapa diantaranya di Universitas Hamburg, Bremen, dan Passau.

Menurut Ardi, Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA), organisasi profesi yang beranggotakan pengajar BIPA dan pegiat BIPA di Jerman juga merupakan salah satu organisasi terbesar di dunia dengan jumlah anggota yang banyak dan ragam kegiatan yang menarik.

Ia melaporkan pihaknya ikut berupaya menyukseskan diplomasi bahasa ini dengan melibatkan banyak pihak. Tidak hanya dengan organisasi APPBIPA namun juga melibatkan organisasi pelajar dan masyarakat umum lainnya. Ia ingin untuk kegiatan di masa yang akan datang badan bahasa juga melibatkan secara langsung komponen organisasi pelajar di Jerman untuk mempromosikan bahasa Indonesia.

Sesi diskusi antara peserta dengan ketua pelaksana Tandem IDxDE, Boy Tri Rizky (kiri). Foto: Dokumen Tandem IDxDE.

Masih di acara itu, Boy Tri Rizky, ketua pelaksana program kelas Tandem menyampaikan antusiasme calon peserta pada program Tandem ID x DE tahun 2022 sangat tinggi dengan jumlah pendaftar lebih dari 100 WNI pembelajar bahasa Jerman, baik berasal dari wilayah Jerman maupun dari Indonesia. Sedangkan untuk pendaftar WNA pembelajar bahasa Indonesia jumlahnya memenuhi kuota yang telah disediakan.

Tahun ini ada pembatasan jumlah peserta didik dengan perbandingan jumlah yaitu 12 orang untuk WNI pembelajar bahasa Jerman dan 12 orang untuk WNA pembelajar bahasa Indonesia, dengan total 24 orang. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan efektifitas dalam pengajaran. Program Tandem ID x DE di periode ini akan diselenggarakan dari tanggal 28 Mei 2022-29 Juli 2022 secara daring berupa seminar tiap dua minggu sekali dan diharapkan juga secara luring antar peserta yang dapat dilaksanakan secara mandiri.

Foto bersama pada kegiatan pembukaan Tandem IDxDE. Foto: Dokumen Tandem IDxDE.

Seminar dan program Tandem diisi oleh Boy yang merupakan pelajar pascasarjana Indonesia pada jurusan Intercultural German Studies di Georg-August-Universität Göttingen. Selain mahasiswa, ia juga pengajar bahasa Jerman dan BIPA tersertifikasi dengan pengalaman mengajar pembelajar bahasa asing pada banyak kesempatan. Salah satunya mengajar BIPA di KBRI Kopenhagen, Denmark.

Para pengurus PPI Jerman dan pelaksana program berharap kegiatan itu bisa menjadi sumbangsih positif bagi diplomasi kebahasaan Bahasa Indonesia dan lebih mendekatkan hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman di masa sekarang maupun mendatang. Kami akan berupaya agar program tersebut bisa diteruskan ke tingkat internasional.

Penulis: Tyas Tatag Pratama, mahasiswi University of Cologne, Germany, dan Rafif Sulthan Ramadhan, mahasiswa RWTH Aachen University, Germany