Kolaborasi Daring Di Situasi Genting

0
110

“Bagai makan buah simalakama. Dimakan ibu mati, tak dimakan ayah yang mati.”

Pepatah tersebut rasanya begitu menggambarkan realita di lapangan, melihat raut wajah manusia berkeluh-kesah saat berjalan di antara dua pilihan. Nyaris dua tahun virus korona singgah di Tanah Air, jejak-jejak kehancuran di segala sektor kehidupan masyarakat masih saja mengalir. Tentu saja salah satu sektor yang paling terkena “getahnya” adalah perekonomian, jantungnya sumber kebutuhan manusia agar tetap bisa bertahan hidup. Layaknya buah simalakama, masyarakat terpaksa berjuang di tengah kegelapan daripada harus mati kelaparan.

Efek samping pandemi yang berkepanjangan memunculkan keresahan dari para pelaku usaha ekonomi, tidak terkecuali bagi mereka yang bergerak di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Padahal, seperti yang kita tahu, UMKM merupakan salah satu pilar utama bagi perekonomian bangsa ini, bahkan pesonanya bisa terlihat di setiap sudut jalan, media sosial, hingga ke kancah internasional. Meski demikian, virus korona seakan menghancurkan masa-masa kejayaan UMKM selama ini.

Kondisi tak menentu kondisi membuat hati para pedagang terpukul dan memaksa mencari jalur alternatif agar terbebas dari “lubang hitam” pandemi. Namun, selalu ada jalan bila kita berusaha. Salah satu cara yang dilakukan pedagang adalah memasarkan usahanya secara daring di media sosial maupun memakai sistem pembayaran daring.

Penjualan turun

Ibarat ombak yang meliuk-liuk di lautan, para pengusaha pasti akan menghadapi dinamika bisnis yang menguras tenaga sebagai suatu proses menuju keberhasilan. Termasuk ketika pandemi Covid-19 melanda negeri, banyak sekali lapak-lapak di pinggir jalan hingga restoran kelas atas harus menutup diri berbulan-bulan lamanya. Walau demikian, pahit-manisnya mereka seakan terbayarkan dengan kondisi perekonomian yang secara perlahan menunjukkan tren positif meski belum sepenuhnya bangkit. 

Para pelaku UMKM yang menjual berbagai kuliner khas daerah, termasuk di Jakarta dan Bandung akhirnya bisa kembali membuka dagangannya secara normal setelah melewati Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah. Mereka mengakui sejak pandemi melanda, terjadi penurunan penjualan yang signifikan, terutama saat awal-awal pandemi dan berlakunya secara ketat.

Ketika sudah mendapat akses untuk kembali berjualan, masih banyak konsumen yang enggan datang atau makan di kedai secara langsung karena takut akan virus Covid-19. Pemesanan via daring dan dibawa pulang menjadi senjata pelaku UMKM untuk tetap bertahan.

Pendapatan, menjadi hal berikutnya yang mereka keluhkan selama setahun lebih akibat pembatasan kegiatan masyarakat oleh pemerintah. Pak Anca, pemilik usaha Kue Cubit Mang Anca di Bandung menuturkan hanya mampu memperoleh pendapatan Rp 3 juta  dalam seminggu, akibat merosotnya pendapatan. Berbagai cara pun telah dilakukan oleh mereka, termasuk tetap berjualan di akhir pekan seperti Kang Tedi, penjual Rujak Kang Tedi.

“Kalau biasanya kan Sabtu-Minggu rame terus, semenjak korona kayaknya sama aja seperti biasa, enggak begitu ngaruh,” ujar Pak Tedi saat Tim Magangers Kompas Muda mewawancarainya, Selasa (16/11/2021).

Seorang pegawai Pempek Cek Ida di Palembang mengemas pesanan dari pembeli. Foto : Muhammad Ilham Akbar

Memanfaatkan teknologi

Para pelaku UMKM terutama di bidang kuliner, berlomba-lomba dalam memanfaatkan potensi emas digital marketing semaksimal mungkin, salah satunya melalui aplikasi ojek daring. Bagi Pak Anca dan Pak Tohirin, penjual Pempek Finfin di Jakarta, kehadiran aplikasi tersebut jelas mampu menambah pundi-pundi rezeki terlebih ketika penjualan secara offline sulit rasanya untuk diandalkan. 

Kehadiran digital marketing juga dirasakan pula oleh konsumen, terutama dalam hal pemesanan melalui aplikasi secara daring. Frida Evelin, salah satu pembeli Mie Bakso Kocok Bandung Rawamangun di Jakarta mengungkapkan bahwa hadirnya aplikasi tersebut mempermudahnya dalam memesan makanan, karena tidak perlu repot-repot keluar rumah.

Seorang pegawai sedang membuat pempek di Pasar 26 Ilir, Palembang. Foto : Muhammad Ilham Akbar

“Mempermudah sekali, saya yang kerja lumayan jauh dari rumah jadi bisa tenang karena melalui aplikasi bisa langsung pesan makanan untuk anak-anak di rumah,” jelasnya ketika ditanya langsung oleh Tim Magangers Kompas Muda, Selasa (16/11/2021). 

Perkembangan digital marketing tentunya tidak dapat kita lihat dari segi pemasaran atau pembayaran melalui aplikasi saja,  tapi juga melalui media sosial seperti Instagram bahkan Tik Tok yang menjadi peluang menarik bagi para pengusaha UMKM di bidang kuliner dalam memasarkan produknya kepada masyarakat luas. Hal itulah yang mulai dijadikan peluang baru oleh Pak Anca dengan membuat akun Instagram. Kemudian, baik Pak Anca maupun Pak Tedi juga membuka pintu bagi sejumlah masyarakat terutama pecinta kuliner ketika mempromosikan usahanya di media sosial ulasan-ulasan yang bisa dijumpai di Google Maps.

Mayoritas pelaku UMKM jarang mengalami kesulitan dalam melakukan pemasaran secara digital, sebab mereka sudah mempelajarinya melalui berbagai platform media yang tersedia di internet. Jika merasa kesulitan, para pedagang UMKM bisa saling membantu satu sama lain.

“Justru saya membantu teman-teman saya biar bisa masuk pemasaran online juga,” ucap Yogi, penjual Martabak Bangka Yogie ketika ditemui langsung oleh Tim Magangers Kompas Muda, Selasa (16/11/2021).

Oleh karena itu, kemampuan literasi digital dalam memahami era digital sangatlah diperlukan. Walaupun tidak bisa dipungkiri, masih ada sebagian pelaku UMKM belum merasakan dampak digital marketing terhadap kemajuan usahanya. Pak Adang, selaku penjual Sate Padang Pariaman mengatakan bahwa pemasaran daring yang dilakukan pada tahun 2021 ini belum memberikan pengaruh besar terhadap penjualannya karena persaingan ketat.

Para pengusaha UMKM utamanya di bidang kuliner berharap bahwa di balik “kabut kelabu” perekonomian Indonesia akibat tergerus oleh pandemi Covid-19, masih ada secercah harapan agar usahanya bisa tetap berjalan. Apalagi, senyum manis begitu terpancar di wajah mereka, saat masyarakat kembali diperbolehkan beraktivitas sebagai upaya meningkatkan daya beli.

“Sekarang juga kan, orang-orang udah pada aktivitas lagi. Ya, semoga aja bisa terus seperti ini, biar kita nggak merugi terus,” ujar Pak Anca.

Sementara itu, masyarakat juga menilai bahwa dukungan pemerintah sangatlah penting untuk membantu para pengusaha UMKM, karena mereka sudah selayaknya lebih care terhadap kondisi UMKM di Tanah Air.

Magangers Kompas Muda Batch XII

Kelompok Simba:

  1. David Kristian Irawan – Universitas Padjadjaran (Reporter)
  2. Calandra Divina Djamil – SMA Labschool Jakarta (Reporter)
  3. Julian Felix Armando – Universitas Brawijaya (Desain Grafis)
  4. Muhammad Ilham Akbar – Universitas Islam Nusantara (UIN) Raden Fatah (Fotografer)
  5. Satriyani Dewi Astuti – Universitas Airlangga (Videographer)