Melihat Sampah yang Bermanfaat di Komunitas Sapu Pengki

0
121

Rimbun pepohonan menghiasi sekeliling pintu masuk Komunitas Sapu Pengki di Kelurahan Poris Plawad Utara Kota Tangerang,Banten. Terlihat berbagai pohon seperti tomat dan jeruk nipis menambah keasrian tempat itu. Terdapat juga kolam ikan di sisi kanan pintu masuk, lengkap dengan bale untuk bersantai. Masuk lebih dalam, terlihat pelbagai mesin pengolahan sampah yang menanti untuk dipakai serta tumpukkan sampah baru yang siap untuk dipilah.

Komunitas tersebut menempati rumah hasil hibah dari Kelurahan Poris Plawad Utara yang sekarang menjadi pusat  kegiatan Komunitas Sapu Pengki. Bagian depan rumah diisi oleh dua bangku dan satu meja kecil untuk menjamu tamu yang datang. Bagian tengah diisi oleh berbagai alat pemupukkan dan pajangan koleksi kerajinan dari barang bekas. Ada pula dapur yang menyediakan kebutuhan para anggota. Di belakang rumah dibangun kandang ayam dan kandang maggot serta tempat khusus untuk penguraian sampah menjadi pupuk.

Ridwan, pendiri Komunitas Sapu Pengki mengatakan, tujuan awal mendirikan komunitas lingkungan itu  sebagai contoh untuk mengedukasi masyarakat. “Saya prihatin banyak sampah yang dibuang ke jalan. Setelah itu saya cari bagaimana cara memanfaatkannya.” ucapnya saat ditemui Selasa, (8/2/2021). Komunitas Sapu Pengki kini telah berkembang dan memiliki berbagai aktivitas yang berhubungan dengan pengolahan sampah.

Kegiatan tersebut di antaranya program sedekah sampah, pembuatan pupuk dan kerajinan barang bekas, sampai budidaya maggot, lele, dan ternak ayam. Dari berbagai kegiatan itulah Komunitas Sapu Pengki bisa mendapatkan dana untuk kegiatan harian serta memenuhi kebutuhan anggotanya. “Alhamdulillah komunitasnya bisa berkembang sampai seperti sekarang,” tambahnya.

Bangunan bagian depan pusat kegiatan Komunitas Sapu Pengki di Kota Tangerang, Banten. Komunitas yang beroperasi tahun 2016 itu aktif melakukan kegiatan pengolahan sampah menjadi barang yang bermanfaat.

Nama Sapu Pengki berasal dari akronim “Sadar peduli penghijauan dan kebersihan.” Komunitas ini memiliki 10 anggota, termasuk di dalamnya enam orang pekerja yang tiap hari memilah sampah yang dikirimkan oleh warga. Anggota komunitas merupakan warga  Kelurahan Poris Plawad Utara yang diberdayakan untuk bekerja di Komunitas Sapu Pengki.

Pagi itu ada lima pekerja yang dengan semangat memilah sampah yang kelihatan menggunung. Berbekal garpu sampah di tangan, mereka mengelompokkan sampah yang ada menjadi tiga bagian organik, anorganik, dan residu. Roni, salah satu pekerja yang hanya tamatan sekolah menengah, bersama empat rekannya: Hanafi, Fitri, Dayat, dan Olil hampir setiap hari bekerja di Komunitas Sapu Pengki.

Tidak hanya memilah sampah, mereka pun membuat kerajinan dari barang bekas, membuat pupuk dari sisa sampah organik, mengurus kolam ikan lele dan kandang ayam, serta membudidayakan maggot. Pekerjaan itu selesai pukul sepuluh pagi. Sampah dedaunan, buah-buahan, serta sisa sayuran kemudian siap  digiling ke dalam mesin penggiling.

Sampah nasi yang tidak habis dimakan pun bisa dikeringkan untuk memberi makan ayam di Komunitas Sapu Pengki. Mesin penggiling dinyalakan mengeluarkan suara yang nyaring. Dari mulut mesin  keluar sampah-sampah yang masih basah, belum terlalu halus yang dijadikan bahan dasar untuk membuat pupuk organik. Gilingan yang masih basah itu lalu ditaruh ke dalam boks khusus, untuk dikumpulkan airnya sebagai pupuk cair.

Pupuk alami

Hasil akhir pupuk yang telah selesai diayak dan dicacah. Berbeda dengan kondisi sampah yang awalnya berbau busuk, pupuk yang sudah jadi bertekstur halus dan tidak mengeluarkan bau

Kalau dahulu pembuatan pupuk dilakukan dengan menjemur sampah yang sudah digiling di bawah terik matahari, sejak tahun 2019 Komunitas Sapu Pengki telah menggunakan maggot dalam proses pembuatan pupuknya. Maggot adalah larva dari Black Soldier Flies (BSF) dari spesies Hermetia Luccens memiliki banyak manfaat dalam pengolahan sampah.

Di ruang belakang Komunitas Sapu Pengki nampak Olil bersama Roni sedang mengerok telur maggot yang menempel di balok kayu. Telur-telur tersebut dikumpulkan ke dalam satu wadah lalu sambil menunggu telur menetas menjadi ulat maggot. Ulat-ulat yang baru menetas, dipindahkan lagi ke boks khusus yang sudah diisi oleh sampah sayuran, buah-buahan, serta kelapa bekas sebagai sumber makanan bagi larva maggot.

Maggot yang sudah agak besar bisa digunakan untuk dua hal. Mereka bisa menjadi pakan burung, ayam, serta ikan cupang. Larva maggot juga bisa dikombinasikan dengan pelet sebagai pakan ikan. “Perbandingannya 60 persen pelet 40 persen maggot,” kata Hanafi, salah satu pekerja di komunitas itu. Kombinasi ini bisa memangkas setengah biaya yang biasa terpakai untuk memberi makan ikan-ikan di Komunitas Sapu Pengki.

Fungsi lain dari maggot,  membantu proses penguraian sampah. Maggot tersebut akan dimasukkan ke dalam sampah yang sudah digiling lalu ditempatkan di ruang khusus komunitas Sapu Pengki. Gilingan sampah yang masih basah nanti akan diurai oleh maggot dengan cara memakan sampah-sampah tersebut. Proses penguraian  berjalan selama kurang lebih satu minggu.

Maggot yang akan berubah menjadi pupa dengan sendirinya akan menepi dari tumpukan sampah dan akan memasuki masa “prapupa”. Pada tahap inilah maggot akan dipisahkan lagi lalu dimasukkan ke dalam kandang supaya bisa berkembang menjadi lalat dewasa dan bertelur kembali.

Kegiatan pemilahan jenis sampah di markas Komunitas Sapu Pengki Kota Tangerang, Banten

Setelah seminggu diurai, sampah yang sudah lumayan halus akan dimasukkan ke dalam mesin pengayak dan pencacah untuk kembali diproses agar menjadi pupuk yang halus dan kualitasnya bagus. Pupuk yang sudah jadi bertekstur halus serta tidak memiliki bau, berbanding terbalik dengan bau menyengat dari sampah sebagai bahan awalnya. Teknik pemupukan dengan maggot juga bisa dilakukan sepanjang waktu tanpa bergantung pada sinar matahari. “Pupuk kasgot (bekas magot) memiliki mutu yang lebih baik dibanding pupuk yang dijemur,” tambah Hanafi.

Dalam sekali pembuatan, Komunitas Sapu Pengki bisa menghasilkan 800 kg pupuk organik. Pupuk-pupuk ini kemudian dijual seharga Rp 8000 untuk kemasan 500 gram. Tak hanya dijual, pupuk tersebut juga disalurkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang untuk mendukung program penghijauan pemerintah. Selain membuat pupuk dengan maggot, Komunitas Sapu Pengki juga sering mengadakan pelatihan budidaya maggot bagi warga sekitar.

 Memunculkan kreativitas

Berbagai miniatur dari barang bekas yang dipajang di ruang tengah Komunitas Sapu Pengki

Selain sampah organik, sampah-sampah anorganik juga bisa diolah menjadi bentuk kerajinan yang menarik dan memiliki daya jual. Olil yang kesehariannya menjadi pekerja di Komunitas Sapu Pengki juga mahir membuat aneka bentuk benda dari barang bekas. Di tangan olil, kaleng-kaleng bekas disulap menjadi miniatur vespa dan mobil. Berbagai bentuk lain juga bisa dibuatnya, seperti miniatur Masjid Al-Azhom dan miniatur Tugu Adipura Kota Tangerang.

Hasil dari kerajinan barang bekas ini dipajang di ruang tengah komunitas. Komunitas Sapu Pengki juga menerima pesanan dari berbagai pihak. Sampah organik seperti botol dan gelas plastik sekali pakai dikumpulkan lalu kemudian dijual kepada pengepul. Hasil dari daur ulang tersebut digunakan untuk membiayai operasional komunitas.

Ridwan juga mengajak semua orang untuk aktif dalam mengolah sampahnya sendiri. “Bentuknya macam-macam. Mau bank sampah, sedekah sampah, atau pembuatan pupuk, yang penting kita bisa mengurangi beban sampah yang ada di lingkungan,” ujar Ridwan. Ia berharap generasi muda bisa menjadi duta bagi lingkungannya masing-masing, untuk mengubah sampah yang semula masuk tempat pembuangan menjadi hal yang lebih bermanfaat.

Gianluigi Fahrezi, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta