Bangun Brand Autentik dengan Kolaborasi, Akselerasi dan Kurasi

0
91

Agar tetap kompetitif di era digital, setiap brand membutuhkan narasi yang unik agar dapat menarik hati para konsumen. Narasi brand adalah narasi bisnis untuk menyampaikan pesan dari brand ke audiens agar bisa diterima dan berkembang. Namun, pandemi Covid-19 yang kian membatasi ruang gerak menjadi tantangan baru bagi sebuah brand untuk dapat berkembang dan berkolaborasi.

Kompas Institute mengadakan webinar yang bertajuk “Narasi Brand; Berubah dan Berkelanjutan ”pada Jumat, 25 September 2020. Acara tersebut dimoderatori oleh Budhi Sarwiadhi yang menjadi Event Manager Harian Kompas. Turut hadir juga, Tarrence K. Palar, Brand Communication Manager Harian Kompas,  dan Handoko Hendroyono, CEO Mblocspace & CEO KebunIde sebagai narasumber yang menciptakan narasi brand berkelanjutan dan mampu mengikuti tuntutan zaman. Acara itu juga membantu masyarakat memahami berbagai bentuk narasi brand dulu hingga kini, macam-macam kolaborasi media, hingga contoh kolaborasi yang efektif di masa pandemi. 

Perbincangan Budhi Sarwiadhi selaku moderator dan Handoko Hendroyono selaku CEO Mblocspace.

Webinar dibuka dengan pertanyaan menarik dari Budhi Sarwiadhi, “Mengembangkan brand itu susah atau gampang?”.Kedua narasumber sepakat untuk menjawab “Menyenangkan”. Pemaparan diawali oleh Handoko Hendroyono yang memaparkan bagaimana brand Mblockspace dapat terbentuk. Narasi menjadi hal penting untuk mempertahankan sustainability dalam membangun sebuah brand. “Sebuah brand harus memiliki nilai autentik. Membangun brand merupakan sesuatu yang menyenangkan karena di dalamnya kita bisa menuangkan ide dan imajinasi sehingga sebuah brand berkembang.” jelas Handoko yang menganggap Mblocspace adalah ‘Ruang Riang’-nya.  

Beberapa catatan dari Handoko Hendroyono terkait branding Mblocspace. (Diambil dari slide presentasi catatan prib. Handoko)

Meski Mblocspace baru dibangun setahun yang lalu bersama lima orang rekannya, Handoko sudah menaruh banyak harapan dan tujuan yang ingin dicapai. Mblocspace merupakan ruang bebas (creative hub) yang  terletak di Blok M. Bermula dari kawasan milik Peruri Indonesia, Mblocspace, kini dikenal masyarakat sebagai tempat berkumpulnya kreativitas dan karya masyarakat.

“M bloc dibuat atas dasar ingin mengapresiasi budaya lokal terutama karya seni dan musik. Kami juga ingin memperhatikan ide dari publik sehingga terjadi kolaborasi kemakmuran, ” jelas Handoko. Beberapa kali Mblocspace mengadakan pameran foto kurasi, berkolaborasi dengan band indie dan musisi jalanan dengan tujuan menyediakan ruang untuk berkarya. 

Bermula dari ide internal dan ide masyarakat menghasilkan kolaborasi kemakmuran, brand Mblocspace menarik simpati masyarakat.  Brand yang dibangun dengan  kuat melahirkan model bisnis berbasis inovasi dari Mblocspace. Tahapan menciptakan model bisnis meliputi concern, concept, content, collaboration, dan co-creation. Mblocspace menciptakan berbagai model bisnis dengan memanfaatkan ruang yang tidak besar. 

“Kami harus membangun sesuatu secara berkelanjutan. Mengembangkan tempat yang  ramah lingkungan dan model bisnis berbasis digital. Kami juga membangun spirit responsible brand ditengah krisis kepercayaan masyarakat dengan kolaborasi kemakmuran”. jelas Handoko 

Model bisnis dihasilkan denggabungkan konsen dari masyarakat, menghasilkan konten dan konsep yang berkualitas dengan kolaborasi.

Mblocspace membangun brand yang berorientasi masa depan, hal ini juga dilakukan oleh  Harian Kompas sebagai media arus utama. Tarrence K Palar  mengungkapkan perjalanan Harian Kompas dalam membangun eksistensi, “Selama 55 tahun, Harian Kompas senantiasa menemani masyarakat Indonesia dalam menyajikan informasi berkualitas dan terpercaya tentunya kami harus memiliki daya tahan lebih untuk terus bertahan di era disrupsi”. 

Harian Kompas memiliki tujuan dan nilai yang ingin dicapai. Nilai ini merupakan buah pemikiran dari PK Ojong dan Jakob Oetama yang merupakan pendiri Harian Kompas. Tujuan dan nilai tersebut tertuang dalam narasi tema perubahan Harian Kompas. “Kini Harian Kompas mengangkat tema ‘Kawan dalam Perubahan’.

Kompas ingin menjadi kawan untuk menyampaikan pikiran, memperoleh informasi dan mengedukasi  masyarakat dalam menghadapi perubahan” jelas Tarrence. Harian Kompas mempertegas peran seorang kawan, yang mengingatkan akan tantangan yang harus dihadapi, mengumpulkan solusi, berkolaborasi dengan berbagai pihak dan menceritakan bagaimana solusi yang bisa dilakukan ke masyarakat. 

Perjalanan brand Harian Kompas dijabarkan oleh Tarrence K Palar selaku Manager Brand Communication Harian Kompas.

Tantangan yang sering dihadapi brand yang sudah berdiri lama adalah menerapkan eksistensi kepada kaum muda. Harian Kompas menghadirkan desk komunitas khusus untuk anak muda agar bisa berkarya lewat tulisan dan visual. Selain itu, Harian Kompas juga berinovasi dengan hadirnya Kompas.id, sajian informasi berbasis digital yang dapat dinikmati dimana saja.

“Kami juga berupaya untuk berkolaborasi dengan brand lain untuk menjangkau anak muda. Salah satu contohnya adalah kolaborasi dengan Urban Sneaker Society, membuat sebuah acara yang diminati anak muda” jelas Tarrence. Harian Kompas membuka peluang untuk anak muda agar bisa mencurahkan buah pikiran untuk kemajuan brand, tentu dengan tetap berpegang pada nilai luhur dari Harian Kompas. 

Tarrence Palar selaku Brand Communication Manager Harian Kompas turut hadir dalam webinar “Narasi Brand : Berubah x Berkelanjutan”.

 Harian Kompas tidak hanya diperhadapkan dengan era disrupsi digital, tetapi pandemi juga merupakan permasalahan yang serius. “Kami berusaha meyakinkan masyarakat bahwa semua proses kerja kami menaati protokol kesehatan dan tetap menyatakan eksistensi dengan menjalin kolaborasi” ungkap Tarrence.  Demikian juga dengan Mblocspace yang menjadi titik kumpul masyarakat.

“Menghadapi pandemi, tentunya industri showbiz seperti kami adalah industri yang paling terpukul. Namun, kami mencoba mencari inovasi dengan mengadakan kelas online (Mbloc Academy) dan mencoba model bisnis baru yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. (market)” jelas Handoko. 

Penulis : Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara Tangerang // Adonia Bernike Anaya 

Editor : Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara Tangerang // Alethea  Pricila Sianturi 

Foto : Dokumentasi Pribadi Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara, Dokumentasi Catatan Pribadi Handoko Hendroyono