Berkenalan dengan Ade Kurniawan, Sosok Dibalik Suara Spongebob

0
448

Kartun Spongebob telah menemani masa kecil generasi milenial. Serial yang dulu diputar setiap pagi ini menjadi teman setia sarapan sebelum berangkat sekolah. Suara dan ketawanya yang khas masih terngiang saat membayangkan tokoh spons berwarna kuning itu.

Saya ingin mengajak kalian berkenalan dengan pengisi suara dibalik kejenakaan tokoh Spongebob. Peran dubber sangat besar dalam mengadirkan kelucuan karakter. Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan Ade Kurniawan melalui panggilan WhatsApp.

Selain mengisi suara Spongebob, ia juga pernah mengisi suara karakter Woody Woodpacker, Looney Toons, Power Ranger Hijau, Samurai X, dan lainnya. Selain kartun, suaranya pernah mengisi tokoh di film India, Karate Kid, Telenovela Marimar, dan masih banyak lagi. Total ia sudah mengisi lebih dari 50 karakter.

Mengisi suara di film mandarin menghadirkan kesan tersendiri. Saat itu ia mendapat kehormatan mengisi tokoh ganteng. Biasanya tokoh seperti ini diperankan oleh dubber dengan suara bas. Awalnya ia senang dan bangga memerankan tokoh ini. Setelah beberapa scene, kebanggaan itu memudar. Tokoh ganteng ini kesandung batu dan jadi bodoh.

Namun, pengalaman paling monumental tetap saat menjadi pengisi suara tokoh Spongebob. Ia mengerjakan proyek tersebut pada 2005-2007. Selama dua tahun ia berhasi mengisi 77 episode. Tayangannya masih diputar ulang sampai sekarang.

Menurutnya, setiap karakter diberikan memiliki kesulitan masing-masing. Biasanya dubber diberi kesempatan menyaksikan versi aslinya terlebih dahulu. Selanjutnya tinggal mengeksplorasi ciri khas yang mendekati karakter tersebut.

”Kejeblos”

Tahun 1995, stasiun televisi swasta yang baru buka studio dubbing di Kebon Jeruk membuka casting pengisi suara. Seorang teman memintanya menemani ke tempat casting. Singkat cerita temannya ditolak, ia yang diterima. Meski terdengar klise seperti kisah FTV, tapi itu merupakan awal mulanya terjun di dunia pengisi suara. Ia menyebutnya dengan istilah “kejeblos”.

Pria lulusan Sekolah Menengah Pekerja Sosial ini belajar dubbing sambil praktek. Kebetulan ia memiliki dasar teater sebelumnya. Sehingga sudah mengenal artikulasi dan pemahaman bacaan yang dinilai penting saat menjadi pengisi suara.

Tahun keemasan dunia pengisi suara terjadi pada 1995-1998. Saat itu pekerjaan ini sedang booming. Banyak tawaran alih suara film dan kartun luar negeri ke bahasa Indonesia. Tren ini berubah mendekati tahun 2000, Menteri Penerangan saat itu melarang film luar disuarakan ke bahasa Indonesia. Peraturan yang berdampak bagi para pengisi suara. Kondisi ini menjadi awal mula lahirnya komunitas pengisi suara di tanah air.

Selepas tahun 2000 keadaan mulai membaik. Namun, ia sempat putus asa. Suara yang banyak dicari yaitu suara berat. Suara “cempreng” seperti dirinya sulit menang casting karena peran yang dilelang kebanyakan jagoan. Sedangkan peran pembantu lainnya bisa diisi siapa saja.

Tahun 2000-2004 karena sedikit mendapat proyek, ia memilih melanjutkan sekolah. Tahun berikutnya ia banting setir menjadi floor director. Profesi pengisi suara tetap dilakukan sampai sekarang sebagai sambilan.

Tips memulai

Mereka yang ingin menjadi dubber bisa belajar secara autodidak melalui media sosial. Di YouTube bisa ditemukan video pembelajaran terkait. Untuk pendidikan dan pelatihan yang terlembaga bisa bergabung di komunitas Suara Pro.

Informasi casting kerap disampaikan Production House melalui media sosial. Bisa juga dengan bergabung di grup Facebook seperti Dubber and Friends, disana komunitas akan menjembatani teman-teman pemula.

Kesalahan umum yang harus diwaspadai pemula adalah menggampangkan sesuatu. Meski zaman sekarang serba mudah, tetapi proses harus dijalani secara benar. Selain itu, koneksi dan sikap menjadi penunjang keberhasilan seseorang memasuki industri pengisi suara.

Alwin Jalliyani, mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran.