Sebulan Masa Pembatasan Sosial, Dari Stres Hingga Bersyukur

0
227

Tak terasa, satu bulan telah kita lalui. Satu bulan sejak pengumuman pertama yang disampaikan pemerintah dalam memberi anjuran pada seluruh masyarakat di penjuru negeri untuk melakukan pencegahan dini penularan COVID-19 dengan menerapkan pembatasan sosial atau social distancing. Ini bukan merupakan waktu yang singkat dijalani setiap insan dalam membatasi diri dari kerumunan orang dan kehidupan sosialnya dengan hanya berdiam diri dirumah saja.

Perkara ini pun membuat hampir semua sekolah, kampus, dan sebagian perkantoran bersikap dewasa dengan merumahkan para siswa, mahasiswa dan karyawannya agar terhindar dari penularan virus korona. Hal ini benar-benar memberi perubahan besar pada kehidupan setiap insan yang menjalaninya. Termasuk salah satunya pada kalangan remaja. Lantas, bagaimana hal ini mempengaruhi dirinya yang kini menjadi pertanyaan.

Remaja, si darah muda yang suka hidup dengan kebebasan. Sungguh, bersenda gurau, juga mengeluh mengenai penatnya pelajaran di sekolah dan guru yang tidak disukainya telah menjadi hobi bagi dirinya. Terlebih, di era futuristik seperti ini, waktu dirinya banyak habis digunakan berkeliaran di dunia maya yang membuatnya sangat suka bersosialisasi.

Kehidupan sosial si darah muda sendiri tak akan pernah bisa terlepas dari yang namanya perkumpulan. Nongkrong biasa mereka mengenalnya. Berburu berbagai tempat ngopi yang instagramable di seluruh penjuru kota untuk jadi tempat mereka bercanda dengan obrolan ringan dan juga tempat mendengar temannya berkeluh kesah karena baru putus dari kekasihnya. Ya, hal itu kini menjadi acuan jika seorang remaja ingin diakui di pergaulannya. Dalam hal ini akan cukup sulit dalam memisahkan si ibu dan anaknya yang dimana ialah si darah muda dengan kehidupan sosialnya.

Namun, sejak bumi pertiwi kedatangan tamu yang sekaligus menjadi musuh kita yaitu virus COVID-19, pemerintah mulai memberlakukan kebijakan yang cukup dewasa yaitu pembatasan sosial. Kebijakan itu mengharuskan diri kita menahan nafsu menjalin hubungan sosial dan tetap berdiam diri didalam rumah masing-masing.

Perkara ini tentunya tidak akan mudah bagi si darah muda. Segala hal yang biasanya mereka lakukan bergantung kepada apa kata kawannya, kini justru orang tuanyalah yang kembali berperan membentuk kebiasaan mereka di rumah. Si darah muda yang biasa di tanah perantauannya makan dua kali sehari karena uang saku terbatas, kini untuk membeli makanan enak di persimpangan jalan melalui angkutan daring pun mudah-mudah saja rasanya. Dari sini, darah muda pun banyak yang melontarkan tanggapannya mengenai pembatasan tersebut.

Membuat stres

Melihat kondisi yang terjadi, si darah muda tak diam. Mereka memberikan pemikirannya mengenai kondisi yang kini tengah terjadi. kebanyakan mereka merasa sedih sekaligus stres atas adanya anjuran pembatasan sosial yang membuat dirinya semakin sulit untuk nongkrong dan bertemu teman-temannya.

“Sedih banget, apalagi aku orangnya tuh paling seneng nongkrong”, tutur Mukhlisatul, mahasiswa asal Makassar yang tengah kuliah di Universitas Padjadjaran saat diwawancarai pada Selasa (07/04/2020).

Usianya kini menginjak 20 tahun dan merasa dengan kehidupannya sebagai darah muda, bersosialisasi sudah menjadi kebutuhan primer. Dengan kebijakan yang ada, sulit bagi dirinya untuk bisa bercengkrama kembali sepulang kuliah dengan teman-teman satu jurusannya di salah satu rumah kos yang ada di persimpangan jalan Hegarmanah, Jatinangor, Sumedang.

“Rasanya sekarang mau ketemu orang kaya lihat musuh. Jaraknya harus berjauhan,” tutur pemudi itu sembari mengakhiri pembicaraanya.

Serupa dengan Mukhlisatul, Tiara seorang mahasiswi yang juga kini tengah berkuliah di Universitas Padjadjaran itu pun juga sangat merasakan pembatasan sosial yang cukup membuatnya jadi sedih dan stres.

“Aku ngerasa selama ini aku seolah enggak punya temen beneran. Soalnya ngobrol apa-apa cuma bisa lewat chatting enggak ketemu langsung kaya biasanya” tutur gadis itu setelah 25 menit perbincangan pada Selasa (07/04/2020).

Gadis asal Bandung tersebut juga memiliki pikiran yang sama dengan darah muda lainnya. Pembatasan sosial ini membuatnya mulai rindu pada celotehan teman-temannya. Ia sudah tidak kuat harus menyiapkan sepasang mata setiap harinya berdiri didepan gawai untuk mengerjakan tugas dan hal lainnya. Ia ingin segalanya kembali seperti yang seharusnya.

“Ya kadang ini semua bikin stres juga sih apalagi tugas yang banyak bikin mata harus liat laptop terus dan juga mumet karena di tempat yang sama setiap hari” lanjut Tiara.

Lebih bersyukur

Berbeda pikiran dengan darah muda lainnya, Bintang, yang tengah menempuh pendidikan dengan seragam putih abunya di SMAN 23 Kota Bandung merasa pembatasan sosial justru membuatnya jadi lebih bersyukur. Menurut dia, sebagai darah muda yang oleh sekolah  diberi kesempatan dirumahkan, seharusnya para darah muda bisa untuk lebih bersyukur.

“Seharusnya mereka bisa lebih bersyukur dikasih keleluasaan diem dirumah aja. Biar masalah ini cepet reda juga kan, toh kita yang ngerasain manfaatnya” tutur Bintang saat ditemui di kediamannya pada Rabu (08/04/2020). “Coba bayangin mereka-mereka kaya ojek daring yang mau tak mau tetep harus keluar rumah demi anak istrinya dirumah tetep bisa makan,” lanjutnya.

Remaja yang satu ini berfikir cukup terbuka. Ia berpendapat jikalau kondisi setiap insan memang berbeda. Ada orang yang ditengah pandemi ini masih harus tetap bekerja keras keluar rumah. Tak hanya itu, ada juga orang yang oleh Tuhan diberi keleluasaan dari segi materil tapi kurang dari segi kecerdasan. Dan tak lupa, ada orang yang serba kekurangan dalam hidupnya tetapi masih banyak memiliki orang yang sayang disekelilingnya sehingga segala kebutuhan dia tetap terpenuhi.

Ia merasa bahwa setiap insan punya jalannya masing-masing, dan hal itu tak bisa untuk dipukul rata. Begitu juga dengan si darah muda yang masih memiliki banyak kemampuan untuk berkembang. Seharusnya, momentum ini dapat ia manfaatkan dengan baik untuk merubah diri menjadi lebih elok. Bukan malah merasa tertekan karena tidak bisa bercengkerama bersama kawannya.

Akbar Nugroho, mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran