Melawan Polusi Lewat Musik

0
72

Belakangan ini, meningkatnya polusi udara di Ibu Kota Jakarta menjadi topik hangat yang menarik perhatian banyak orang termasuk bagi grup band Wolftank. Pada 28 Oktober 2019 kemarin, grup band yang beranggotakan musisi senior Indonesia yakni Noey (Java Jive), Kin Aulia (The Fly), Tyo Nugros (eks Dewa 19), dan Ariyo Wahab (The Dance Company) menggelar konser amal bertajuk ‘I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation’ yang diadakan di Hard Rock Café, Pacific Place Jakarta.

Wolftank yang terdiri dari Noey (Java Jive), Kin Aulia (The Fly), Tyo Nugros (eks Dewa 19), dan Ariyo Wahab (The Dance Company). (Foto Pingkan Debora)

Misi mulia ini menjadi upaya bagi Wolftank dalam menyadarkan masyarakat luas akan pentingnya memelihara alam dalam menjaga ekosistem mangrove di kawasan pesisir maupun perkotaan.

Melalui konser musik bergenre pop rock ini, mereka akan mensosialisasikan gerakan perubahan ini serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya kehidupan. Wolftank ingin bisa menggugah hati para pendengarnya untuk bisa lebih sadar memelihara alam. Ketika kata-kata kehilangan makna, musik akan bisa menjadi sesuatu yang didengarkan.

“Alam seringkali menjadi inspirasi dalam berkarya. Kami pun percaya, musik dan kegiatan konservasi dapat berkolaborasi untuk menginspirasi dan mengajak semakin banyak lagi orang terlibat, berkontribusi langsung melestarikan bumi,” ujar Ariyo Wahab pada jumpa media di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wolftank bersama dengan Hard Rock Café dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) afiliasi dari The Nature Conservancy akan mengadakan sosialisasi restorasi mengrove. Sebagai hasil dari pembelian tiket konser Wolftank, dana yang terkumpul akan disalurkan dan di kelola oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk penanaman bibit mangrove.

Sally Kailola bersama Wolftank yang terdiri dari Noey (Java Jive), Kin Aulia (The Fly), Tyo Nugros (eks Dewa 19), dan Ariyo Wahab (The Dance Company). (Foto Pingkan Debora)

Ajang kolaborasi ini terjalin sebagai respon terhadap buruknya kualitas udara di Jakarta serta sebagai upaya dalam mengatasi polusi udara melalui perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove.

“Kami melihat bahwa zaman  sekarang sudah banyak orang yang mulai bisa melihat pentingnya kehidupan dan bisa berdiri atas nama kebaikan kehidupan ini. Jadi sekarang kita sedang in-harmony untuk bisa menyuarakan bersama-sama. Mereka ini (Wolftank) adalah manusia-manusia profesional, individu yang ingin melakukan perubahan bersama-sama sesuai visi misi YKAN,” ujar Sally Kailola, Head of Nature & People Partnership YKAN.

Wolftank adalah band yang di dalam individunya itu memiliki komitmen yang sangat kuat untuk membuat perubahan bagi kehidupan pribadi dan kehidupan secara global. Komitmen yang kuat pada setiap individu dalam membuat perubahan bagi kehidupan pribadi dan secara global telah mempersatukan para musisi ini menjadi duta alam.

Gue sadar dan mau jadi nature ambassador untuk bisa kembali melestarikan paling gak dari mangrove. Kita harus menumbuhkan mangrove kembali karena banyak banget gunanya terutama untuk konservasi alam,” ujar Kin Aulia.

Melihat keadaan yang terjadi sekarang ini Ariyo menuturkan bahwa banyak fakta tentang alam yang belum diketahui masyarakat luas. Ini menjadi suatu keurgensian yang menyentuh diri Ariyo untuk bisa bergerak dan mengambil suatu tindakan.

Menurutnya tidak ada keadilan bagi anak jaman sekarang untuk bisa merasakan keindahan Indonesia yang sebelumnya pernah ia rasakan. Sebagai harapan bangsa, Ia ingin milenial bisa memiliki gambaran tentang kondisi alam saat ini, sehingga kedepannya ia berharap alam indoensia bisa dijaga dan kembali seperti dulu lagi.

“Dulu pas jaman ayah seumur kamu, pantai ini masih biru banget, masih banyak ikannya, masih banyak terumbunya dan kita bisa berenang disitu. Terus anak-anak pada bengong karena tidak mempercayainya dan kemudian menanyakan itu kembali,” kata Ariyo. Itu sebabnya ia ingin mulai hari-hari itu aku mulai tersentuh dan terpanggil. “Aku ngerasa kok kayaknya enggak ada keadilan bagi mereka karena tidak dapat merasakan itu semua. Akhirnya aku sadar dan mulai dari situ aku terjun untuk bisa apling enggak menyembuhkan alam ini,” lanjutnya.

Sekarang kita tengah mengalami masalah terberat yang di hadapi manusia dan alam, yaitu perubahan iklim. Kota Jakarta kembali bertengger di peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Dikenal memiliki peranan penting dalam upaya mitigasi dampak perubahan iklim, hutan mangrove menjadi benteng pertahanan terakhir yang dapat memenuhi seperempat target Indonesia dalam mengurangi emisi 26 persen pada 2020.

Secara umum, hutan mangrove menjadi salah satu infrastuktur alami dengan kemampuan menyerap karbon hingga 1.000 ton per hektar yang dapat melindungi wilayah perkotaan dari berbagai ancaman serta menjadi sumber pangan maupun perekonomian masyarakat sekitarnya. Sayangnya, meski memiliki kemampuan menyerap karbon tiga sampai lima kali lebih besar dari hutan tropis, hutan mangrove di Indonesia terus tergerus.

“Saat ini kita tengah menghadapi tantangan krisis terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Laju pemanasan global kian cepat akibat pelepasan emisi gas rumah kaca yang terus berlangsung,” ujar Sally. Ia melanjutkan, wilayah perkotaan pun menghadapi isu yang hampir seragam seperti kualitas udara yang buruk, pulau panas perkotaan (urban heat island), serta kelangkaan air bersih dan sumber pangan.

Pingkan Debora Phrily Kaligis, mahasiswa Bina Nusantara University jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Humaniora yang sedang magang di Harian Kompas.